Bolehnya Bid’ah hasanah


Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah

Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :

“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,

Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang
mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah
Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”

Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas

melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.

Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

Tashawwuf itu Ihsan jangan su’udzon terhadap ajaran tasawwuf..


Bismillahirrahmaanirrahiim..shollu’alaamuhammad..sedulur yg smoga Allah rahmati.., jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduni).
Tasawuf itu akhlaq (innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta’budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur’aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma’rifat. Ma’rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; “Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni.” (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A’immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).
Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho’illah As Sakandari, Imam Sya’roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.
Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu’ hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a’lam.
semoga menjadi asbab manfaat untuku,dirimu dan bgi yg membacanya,,semoga Allah fahamkan..baarakallah..salam Rahayu sedulur..

anti taswawwuf pake dalil buat ngebantah ajaran tasawwuf tapi sayang mereka terlalu cepat menelan mentah-mentah tanpa di teliti


Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

“Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207

diatas adalah senjata para anti tasawwuf..namun sangat di sayangkan…terlalu buru2 menelan mentah perkataan imam syafi’i ….

reaksi dan efek dari pemahaman wahhaby salafy


Pembahasan kali ini berkenaan dengan dampak-dampak negatif yang
disinyalir bersumber dari ajaran atau fatwa-fatwa kaum Salafi & Wahabi yang
penulis nilai sangat membahayakan bagi keselamatan aqidah dan keutuhan ukhuwah
Islamiyah. Dampak-dampak negatif tersebut telah dirasakan oleh umat Islam di
hampir setiap wilayah atau negeri di dunia Islam di mana terdapat kaum Salafi
& Wahabi di tengah-tengah mereka. Di antara hal-hal yang mendorong timbulnya
dampak-dampak negatif tersebut adalah doktrin-doktrin buruk yang biasa diberikan
kepada para pengikutnya, sebagaimana akan disebutkan berikut ini.

1. Menanamkan Kebencian & Memecah Belah
Ukhuwah Islamiyah

Tentunya lagi-lagi ini hanya karena fatwa-fatwa yang tidak
berdasar seperti di bawah ini:

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Seorang
ahli bid’ah wajib untuk diwaspadai dan wajib untuk dijauhi meskipun dia memiliki
sedikit sisi kebenaran”
(Ensiklopedia Bid’ah, hal. 125).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,
“Al-Hajran: mashdar dari kata
Hajara
yang secara bahasa berarti taraka (meninggalkan). Dan yangdimaksud dengan meninggalkan atau menghajr ahli bid’ah adalah menjauhi
mereka, tidak mencintai, tidak berloyal kepada mereka, tidak mengucapkan salam,
tidak mengunjungi atau menengok mereka, dan perbuatan yang semisal itu.
Menghajr ahli bid’ah adalah wajib berdasarkan firman
Allah,

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya”
(QS. Al-Mujadilah:
22)
. (Lihat Ensiklopedia Bid’ah, hal. 123).

Fatwa seperti ini sungguh menyesatkan, karena:

a) Orang-orang yang mereka tuduh sebagai ahli bid’ah
adalah umat Islam yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.

b) Amalan-amalan yang dilakukan para tertuduh yang mereka vonis
sebagai bid’ah, adalah amalan yang tidak ada larangannya di dalam
agama, sehingga tidak bisa dihukumi sebagai bid’ah sesat. Bahkan para
ulama telah membahas hukum kebolehannya dengan gamblang berdasarkan dalil-dalil
serta kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalamnya.

c) Ayat di atas bukan berisi perintah untuk menjauhi
ahli
bid’ah, tetapi hanya menyampaikan berita tentang orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat yang tidak akan berkasih sayang dengan orang-orang
yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

d) Ayat di atas tidak menjelaskan bahwa maksud dari
“Orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya” adalah orang-orang
Islam yang dituduh oleh kaum Salafi & Wahabi sebagai ahli
bid’ah.

e) Ayat tersebut juga tidak menjelaskan bahwa melakukan amalan
seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tawassul kepada para wali,
tahlilan, ziarah kubur shalihin, dan lain sebagainya adalah merupakan perilaku
“memusuhi Allah dan Rasul-Nya”.

Bila dalil yang dijadikan dasar ternyata tidak berhubungan
konteksnya dengan fatwa tentang kewajiban menghajr, meninggalkan,
menjauhi, dan tidak mencintai orang-orang yang dituduh sebagai
ahli bid’ah,
mengapakah kaum Salafi & Wahabi seperti al-Utsaimin dan al-Fauzan ini
begitu berani meyakinkan orang untuk membenci saudaranya bahkan keluarganya
sendiri tanpa alasan yang jelas? Bukankah ini bisa dikatakan sebagai upaya
memecah belah persatuan umat Islam?!!

Lebih buruknya lagi, sudah diracuni dengan fatwa
tentang “kewajiban menjauhi ahli bid’ah” yang tidak jelas alasan dan sasarannya,
para pengikut Salafi & Wahabi juga diracuni dengan sikap antipati terhadap
kebaikan dan kebenaran apapun yang datang dari orang yang dituduh sebagai ahli
bid’ah itu.
Perhatikan pula fatwa al-Utsaimin berikut ini:


Termasuk dalam kategori hajr ahli bid’ah
adalah tidak membaca buku-bukunya karena khawatir terkena fitnahnya, atau tidak
mempromosikannya kepada khalayak. Karena menjauhkan diri dari tempat-tempat
kesesatan adalah wajib, berdasarkan sabda Nabi Saw. tentang Dajjal,

مَنْ سَمِعَ بِهِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللهِ إِنَّ الرَّجُلَ
لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ
مِنَ الشُّبُهَاتِ (رواه أبو داود وأحمد)


“Barangsiapa mendengar tentangnya (dajjal) maka
hendaklah dia menjauh darinya, maka demi Allah, sesungguhnya seorang akan
didatangi dajjal, dan dia mengira bahwa dajjal itu seorang mu’min, lalu orang
tersebut mengikutinya karena syubhat-syubhat yang ia tebarkan”
(HR. Abu Dawud & Ahmad). (Ensiklopedia Bid’ah, hal. 123).

Bisa dibayangkan, jika seseorang terkena pengaruh paham Salafi
& Wahabi, lalu diracuni oleh fatwa yang menyesatkan seperti di atas, di mana
orang-orang Islam yang melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tawassul,
ziarah kubur para wali, tahlilan, dan lain sebagainya dituduh sebagai
ahli
bid’ah yang harus dijauhi karena dianggap sama bahayanya dengan
Dajjal, lalu ia juga harus mencampakkan segala macam penjelasan tentang
dalil atau kebaikan dari para tertuduh ahli bid’ah tersebut baik berupa
buku-buku bacaan maupun penyampaian lisan tanpa peduli tentang kebenaran yang
ada di dalamnya, maka pastilah orang yang terpengaruh paham Salafi & Wahabi
itu akan menjadi seperti “Kerbau yang dicocok hidung” atau “Kuda delman
berkacamata”.

Betapa jahatnya doktrin Salafi & Wahabi ini; tidak
cukup dengan hanya membuat orang menjadi sombong karena menganggap diri benar
dan yang lain salah, bahkan juga menutup setiap peluang orang itu untuk
menyadari kesombongannya. Adakah yang lebih buruk dari keadaan seseorang yang
merasa benar dalam melakukan kesombongan, dan merasa beramal shaleh dalam
melakukan dosa??!

Pengikut Salafi & Wahabi dengan keadaan seperti itu akan
dengan suka rela membenci dan menjauhi saudaranya sendiri; tutup mata dan
telinga dari kebaikan dan kebenaran apapun yang datang dari saudaranya itu;
sebab yang ia tahu hanyalah, dirinya benar dan yang tidak seperti dirinya adalah
sesat. Jika para pengikut Salafi & Wahabi ini masih berjumlah sedikit, entah
sendiri atau minoritas, mereka rela menjalani hidup terkucilkan karena
mengucilkan diri dari aktivitas masyarakat, dan jika mereka sudah mencapai
jumlah banyak, mereka akan tega mengucilkan bahkan membatasi ruang gerak
orang-orang yang tidak sejalan dengan faham mereka, dan ini sudah terjadi
berdasarkan laporan-laporan yang penulis dapatkan.

Pantas saja, ekses-ekses yang muncul dari sikap-sikap seperti
ini menjadi sangat banyak, dan ini adalah berdasarkan fakta dan laporan-laporan
yang terjadi di beberapa wilayah masyarakat dan perkantoran, di antaranya:

a) Terganggunya hubungan silaturrahmi antara kerabat atau
tetangga karena tuduhan bid’ah.

b) Rusaknya kebersamaan dalam berkegiatan, baik di masyarakat,
masjid, mushalla, atau di lingkungan pengajan.

c) Terhambatnya perkembangan pemikiran umat Islam karena
disibukkan dengan perkara-perkara lama yang sesungguhnya sudah tuntas
dibicarakan dan difatwakan oleh para ulama sejak berabad-abad yang lalu.

d) Perpecahan di kalangan masyarakat karena adanya upaya
“perebutan” lahan-lahan dakwah seperti masjid, mushalla, atau sarana pengajian
seperti kelompok ta’lim di kantor-kantor atau yang lainnya.

e) Munculnya sikap-sikap usil dari orang-orang yang selalu
mempermasalahkan amalan orang lain dan menganggap dirinya paling benar.

f) Semakin terbukanya peluang bagi setiap orang untuk
berijtihad sendiri mengenai al-Qur’an & hadis, sehingga semakin
terbuka pula peluang bagi setiap orang untuk berfatwa atau bahkan memiliki
mazhab sendiri.

g) Munculnya upaya-upaya “menunggangi” umat dalam keadaan
konflik seperti ini oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan, baik
kepentingan ekonomi, jabatan, maupun politik.

h) Kelalaian umat Islam akan hal-hal yang lebih prinsip dan
lebih berbahaya seperti: Pornografi & pornoaksi, berkembangnya aliran sesat,
perjudian, maksiat & perzinahan, program-program televisi yang merusak
mental & moral, serta gaya hidup selebriti yang semakin gencar dibicarakan.

i) Munculnya kebencian terhadap para ulama yang telah
mengabdikan hidup mereka dengan ikhlas untuk menulis ilmu dalam bentuk
“kitab-kitab kuning” demi kemaslahatan umat. Karya-karya mereka hanya dianggap
sebagai pendapat-pendapat manusia yang tidak berdasar kepada al-Qur’an &
hadis.

2. Mengelabui Umat Islam dengan Pengakuan Sebagai
“Pengikut Ulama Salaf”

Sudah diketahui secara luas, bahwa kaum Salafi & Wahabi ini
mengaku sebagai “pengikut ulama salaf”. Dengan modal pengakuan itu, ditambah
lagi dengan banyak menyebut rujukan kitab-kitab atau perkataan para ulama salaf,
mereka berhasil meyakinkan banyak kalangan awam bahwa mereka benar-benar
“salafi” dan ajaran Islam yang mereka sampaikan adalah ajaran yang murni yang
tidak terkontaminasi oleh bid’ah.

Tahukah anda, bahwa itu semua hanya sebatas pengakuan yang
tidak sesuai dengan kenyataannya. Mereka tidak benar-benar mengikuti para ulama
salaf, bahkan mereka sungguh tidak sejalan dengan para ulama salaf. Mengapa
begitu, apa buktinya?

Jawabannya,
karena kaum Salafi & Wahabi ini tidak
menjadikan seluruh ajaran ulama salaf atau pendapat-pendapat mereka sebagai
pedoman dalam menjalani kehidupan beragama, tetapi yang mereka lakukan
sebenarnya adalah memilih-milih (mensortir/menyeleksi) pendapat para ulama salaf
yang sejalan dengan faham Salafi & Wahabi.
Lalu hasil seleksi
(sortiran) itu kemudian mereka kumpulkan dalam bentuk tulisan-tulisan yang
menghiasi fatwa-fatwa mereka tentang bid’ah. Kemasan seperti ini
berhasil menipu banyak orang, padahal fatwa-fatwa atau sikap beragama mereka
banyak yang bertentangan dengan para ulama salaf. Contohnya:

a. Kaum Salafi & Wahabi yang mengaku beribadah selalu
berasarkan sunnah Rasulullah Saw. sepertinya tidak suka memakai ‘imamah
(sorban yang dililit di kepala), padahal itu adalah sunnah Rasulullah Saw. yang
dikerjakan oleh para ulama salaf, seperti Imam Malik bin Anas (lihat
Ad-Dibaj al-Madzhab, Ibrahim al-Ya’muri, juz 1, hal. 19).

b. Kaum Salafi & Wahabi menganggap bahwa membaca al-Qur’an
di kuburan adalah bid’ah dan haram hukumnya, sementara Imam Syafi’I
& Imam Ahmad menyatakan boleh dan bermanfaat bagi si mayit (lihat
Fiqh
as-Sunnah, Sayyid Sabiq, juz 1, hal. 472). Bahkan Ibnul-Qayyim (rujukan
Kaum Salafi) menyatakan bahwa sejumlah ulama salaf berwasiat untuk dibacakan
al-Qur’an di kuburan mereka (lihat Ar-Ruh, Ibnul Qayyim al-Jauziyah,
hal. 33).

c. Kaum Salafi & Wahabi berpendapat bahwa bertawassul
dengan orang yang sudah meninggal seperti Rasulullah Saw. atau para wali adalah
bid’ah yang tentunya diharamkan, padahal para ulama salaf (seperti:
Sufyan bin ‘Uyainah, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’I, Imam
Ahmad, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Thabrani, dan lain-lainnya) bukan duma
membolehkannya, bahkan mereka juga melakukannya dan menganjurkannya (lihat
Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat & Zikir
Syirik”,
Tim PCNU Jember, hal. 37-54).

d. Kaum Salafi & Wahabi tidak mau menerima pembagian
bid’ah menjadi dua (sayyi’ah/madzmumah & hasanah/mahmudah)
karena menurut mereka setiap bid’ah adalah kesesatan, padahal Imam
Syafi’I (ulama salaf) telah menyatakan pembagian itu dengan jelas, dan
pendapatnya ini disetujui oleh mayoritas ulama setelah beliau.

e. Kaum Salafi & Wahabi seperti sangat alergi dengan
hadis-hadis dha’if (lemah), apalagi yang dijadikan dasar untuk
mengamalkan suatu amalan yang mereka anggap bid’ah, padahal ulama salaf
seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Mahdi menganggap hadis-hadis
dha’if
sebagai hujjah dalam hukum. sedangkan para ulama hadis telah menyetujui
penggunaan hadis-hadis dha’if untuk kepentingan fadha’il a’mal
(keutamaan amal). (Lihat al-Ba’its al-Hatsis, Ahmad Muhammad Syakir,
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85-86).

f. Para ulama salaf tidak pernah mengharamkan peringatan
Maulid Nabi Muhammad Saw. atau yang lainnya sebagaimana yang difatwakan kaum
Salafi & Wahabi sebagai bid’ah tanpa dalil terperinci.

g. Para ulama salaf tidak pernah memandang sinis orang yang
tidak sependapat dengan mereka, dan mereka juga tidak mudah-mudah memvonis orang
lain sebagai ahli bid’ah, apalagi hanya karena perbedaan pendapat di
dalam masalah furu’ (cabang). Imam Ahmad yang tidak membaca
do’a
qunut pada shalat shubuh tidak pernah menuding Imam Syafi’I yang melakukannya setiap shubuh sebagai pelaku bid’ah.

Masih banyak hal-hal lain yang bila ditelusuri maka
akan tampak jelas bahwa antara pemahaman kaum Salafi & Wahabi dengan para
ulama salaf tentang dalil-dalil agama sungguh jauh berbeda. Jadi, sebenarnya
kaum Salafi & Wahabi ini mengikuti ajaran siapa?

Pendapat para ulama salaf itu bagaikan barang dagangan di
sebuah Supemarket, bermacam-macam ragam, jenis, dan warnanya. Kaum Salafi &
Wahabi memasuki “Supermarket ulama salaf” itu sebagai pelanggan yang punya
selera tertentu. Anggaplah bahwa pelanggan itu penggemar warna merah, dan ia
menganggap bahwa warna merah adalah warna yang sempurna. Maka, saat memasuki
Supermarket tersebut, ia hanya akan memilih belanjaan yang serba merah warnanya.
Setelah itu ia bercerita kepada setiap orang seolah-olah Supermarket itu hanya
menjual barang-barang berwarna merah.

Pada tahap berikutnya, ia meyakinkan orang bahwa dirinya adalah
penyalur resmi dari Supermarket “merah” tersebut, sehingga orang-orang percaya
dan merasa tidak perlu datang sendiri jauh-jauh ke supermarket tersebut, dan
tentunya mereka merasa cukup dengan sang penyalur resmi “gadungan” dalam keadaan
tetap tidak tahu bahwa supermarket “merah” itu sebenarnya juga menjual
barang-barang berwarna hijau, biru, kuning, putih, hitam, orange, dan
lain-lainnya.

Ya, kaum Salafi & Wahabi ini tampil meyakinkan sebagai
“penyalur resmi” ajaran ulama salaf, dan mereka berhasil meyakinkan banyak orang
bahwa ajaran ulama salaf yang murni adalah seperti apa yang mereka sampaikan
dalam fatwa-fatwa anti bid’ah mereka. Pada akhirnya orang-orang yang
percaya tipu daya ini mencukupkan diri untuk memahami ajaran ulama salaf hanya
melalui mereka. Padahal, si “penyalur gadungan” ini sebenarnya hanya
mengumpulkan pendapat ulama salaf yang sejalan dengan tendensi pemikirannya
sendiri, lalu menyajikannya atas nama mazhab ulama salaf. Jadi, yang
mereka sampaikan sebenarnya bukan ajaran ulama salaf, melainkan hasil seleksi,
persepsi, dan kesimpulan mereka terhadap ajaran ulama salaf. Beda,
kan?!!

3. Menyempitkan Cara Pandang Hidup Beragama

Orang yang terkena pengaruh fatwa-fatwa kaum Salafi &
Wahabi biasanya jadi berpikiran sempit dalam memandang kehidupan beragama, yaitu
hanya antara Sunnah dan Bid’ah, itupun menurut definisi mereka
sendiri, padahal banyak urusan lain di dalam kehidupan beragama yang
juga butuh perhatian besar. Akibatnya, orang itu tidak bisa leluasa melihat
kemaslahatan atau kebaikan suatu tradisi atau amalan yang di dalamnya diselipkan
nilai-nilai agama atau unsur-unsur berbau agama, hanya karena “format”nya mereka
anggap tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw., padahal menurut para ulama,
tidak dikerjakannya suatu amalan tidak menunjukkan bahwa amalan itu terlarang.

Cara pandang yang sempit seperti ini kemudian melahirkan
dua keadaan pada diri orang itu, yaitu: 1.
Fokus melaksanakan ibadah dengan format yang menurutnya persis seperti
disebutkan di dalam sunnah Rasulullah Saw. 2. Waspada dari
perkara-perkara yang mereka anggap sebagai bid’ah.

Keadaan yang pertama akan membuat orang itu
merasa bangga dengan amal ibadahnya sendiri, sebab ia merasa amal ibadahnya itu
bernilai karena sesuai sunnah. Di samping itu, keadaan tersebut juga bisa
membangkitkan kesombongan saat melihat amal ibadah orang lain yang mereka anggap
tidak sesuai sunnah sehingga menjadi sia-sia dan tidak berpahala. Sementara itu,
keadaan yang kedua, yaitu kewaspadaannya terhadap perkara yang
ia anggap bi’dah dengan pengertian yang tidak jelas, akan menumbuhkan
ketakutan akan terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang pada puncaknya
berubah menjadi sikap paranoid terhadap setiap perkara baru berbau
agama
.

Saking paranoidnya, maka setiap menjumpai perkara baru berbau
agama dalam bentuk apa saja (baik ucapan maupun perbuatan), orang itu selalu
mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Adakah dalilnya?”, “Shahih kah
dalilnya?”, “Apakah Rasulullah Saw. atau para Shahabat beliau melakukannya?”.

Dari kebiasaan ini, dan dari kesempitan cara pandang mereka
yang selalu membagi urusan agama cuma antara Sunnah & Bid’ah, maka
terlontarlah ungkapan-ungkapan yang penuh kesombongan seperti berikut:
“Tidak ada dalilnya!”, “Hadisnya dha’if (lemah)!”, “Tidak pernah dilakukan
Rasulullah Saw.!”

Ungkapan “Tidak ada dalilnya!” adalah
ungkapan yang tergesa-gesa dalam menghukumi suatu amalan, di mana penulis banyak
mendapati para pendakwah Salafi & Wahabi ini berani melontarkannya kepada
masyarakat dengan maksud meyakinkan dan memperdayai mereka seolah memang suatu
amalan itu tidak ada dalilnya, padahal di sana ada ratusan bahkan ribuan jilid
kitab tafsir dan kitab hadis yang jika mereka kaji satu persatu maka dalil itu
akan mereka temukan. Kesombongan mereka membuat diri mereka seolah sudah
menelusuri semua kitab-kitab itu dan seolah mereka sudah hafal seluruh dalil,
lalu berani memastikan ada atau tidak adanya dalil.

Kenyataannya, mereka memang belum menelusuri semua rujukan
dalil itu, bahkan mereka juga tidak mau membaca kitab-kitab para ulama yang
menjelaskan dalil-dalil amalan seperti Maulid, tahlilan, atau lainnya, dengan
alasan haram hukumnya membaca karya-karya ahli bid’ah.

Mengapakah mereka tidak contoh saja Imam Malik bin Anas (ulama salaf)
yang karena sifat tawadhu’ (rendah hati)nya ia lebih banyak menjawab
“aku tidak tahu” saat ditanya tentang berbagai masalah?
Apakah
mereka lebih alim dari Imam Malik sehingga mereka berani memvonis suatu amalan
dengan “Tidak ada dalilnya!” dan langsung saja menjatuhkan vonis
bid’ah tanpa mengkaji lagi pendapat para ulama yang jelas-jelas sudah
membahas dalil-dalilnya?

Ungkapan “Hadisnya dha’if (lemah)!”
yang seringkali dilontarkan dapat menimbulkan anggapan di benak masyarakat awam
seolah hadisdha’if sama sekali tidak boleh dijadikan dalil dan
harus dicampakkan. Padahal telah nyata bahwa para ulama hadis telah bersepakat
bahwa hadis dha’if itu sah dijadikan hujjah (dalil) bagi
fadha’il a’mal (keutamaan amal) yaitu agar orang terdorong melakukan
amal shaleh (lihat Al-Kifayah fi ‘ilmi Ar-Riwayah, Al-Khathib
Al-Baghdadi, al-Maktabah al-‘Ilmiyah, Madinah, juz 1, hal. 133. Lihat juga
Syarh Sunan Ibni Majah, juz 1, hal. 98).

Yang justeru sangat aneh adalah sikap kaum Salafi & Wahabi
yang sok anti hadis dha’if, sementara untuk kepentingan misi dakwahnya
ternyata mereka juga menggunakan hadis dha’if yang mendukung fahamnya.
Lebih buruknya lagi, mereka banyak mendasari hukum dha’if suatu hadis
dengan hasil penelitian ulamanya sendiri yaitu Syaikh Nashiruddin al-Albani yang
tidak diakui kapabilitasnya dalam ilmu hadis oleh para ulama hadis, bahkan ia
dianggap “plin-plan” dalam menilai hadis (tentang ini, akan dibahas secara
khusus pada judul berikutnya).

Ungkapan
“Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
Saw.!” sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang
suatu amalan, dan hal ini sudah disebutkan di dalam pembahasan sebelumnya di
buku ini pada judul “Tipu Daya Kaum Salafi & Wahabi”.

Agama Islam sangat sempurna dan mencakup berbagai aspek
kehidupan. Sungguh kesempurnaan Islam itu tidak akan pernah terlihat bila urusan
agama ini selalu hanya dipandang dari dua kategori saja, Sunnah atau
Bid’ah. Kesempitan cara pandang seperti ini akan membuat umat Islam
tenggelam dalam permasalahan lama yang sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh para
ulama. Akibatnya, banyak perkara yang lebih urgen dari sekedar “mencuatkan
perdebatan lama” yang terpaksa dikesampingkan. Sayangnya lagi, untuk
sekedar menarik umat kepada perdebatan lama yang sebenarnya sudah selesai ini,
kaum Salafi & Wahabi rela mengeluarkan banyak biaya. Ya, biaya besar untuk
menyebarkan keresahan & kepicikan berpikir!

Sebenarnya, ada ekses tidak langsung yang muncul akibat
kesempitan berpikir seperti ini, yaitu bahwa perhatian orang yang terkena
pengaruh ajaran Salafi & Wahabi akan lebih banyak memperhatikan hadis-hadis
yang berhubungan dengan ibadah, sunnah, dan bid’ah saja,
sehingga hadis-hadis lain yang jumlahnya sangat banyak yang tidak berhubungan
dengan hal-hal tersebut kurang mendapat perhatian. Sikap seperti ini juga
berimbas pada sikap kurang peduli kepada karya-karya para ulama yang telah
begitu luas membahas berbagai permasalahan agama, sebab mereka lebih banyak
membuka kitab-kitab segelintir ulama Salafi & Wahabi yang membahas topik
yang sesuai dengan animo mereka. Apalagi, bila sikap ini didasari oleh kebencian
kepada tertuduh bid’ah dan ahli bid’ah, maka sudah barang
tentu para ulama yang dicurigai sebagai pembawa ajaran bid’ah tidak
akan pernah diakui sebagai ulama, dan kitab-kitab karya mereka akan dengan mudah
dicampakkan sebagai “sampah yang mengotori agama”.


Bisa dibayangkan, bila umat Islam yang terkena sindrom
kesempitan berpikir ala Salafi & Wahabi ini banyak jumlahnya, maka secara
tidak langsung, akan ada banyak hadis yang dilupakan orang dan ada banyak ulama
“pewaris Nabi Saw.” yang ditinggalkan umat.
Dan ini sebenarnya sudah
terjadi. Terbukti, bahkan ulama Salafi & Wahabi hampir tidak pernah membahas
hadis tentang adanya mujaddid (pembaharu) di setiap kurun satu abad
atau hadis-hadis tentang keistimewaan pribadi Rasulullah Saw. dalam pembahasan
fatwa-fatwa mereka.

Adapun tentang ulama, banyak orang awam belakangan ini
(khususnya di Indonesia) yang hanya tahu nama-nama ulama sebatas: Ibnu Taimiyah,
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Abdul Aziz bin Baz, Nashiruddin al-Albani, dan
segelintir pengikutnya. Itu secara otomatis terjadi akibat merajalelanya isu
sunnah & bid’ah serta upaya kaum Salafi & Wahabi dalam
menterjemah buku-buku mereka dan menerbitkannya secara bombastis ke
tengah-tengah masyarakat.

4. Mengajak kepada Kemunduran
Berpikir di Kalangan Umat Islam

Tidak bisa dipungkiri, bahwa sunnah &
bid’ah
yang selalu dibahas oleh kaum Salafi & Wahabi adalah pembahasan lama
yang sudah tuntas dijelaskan oleh para ulama sejak masa salaf dan seterusnya di
dalam kitab-kitab mereka. Para ulama itu seolah sudah menghidangkannya untuk
umat dalam bentuk “makanan siap saji” yang dapat langsung diikuti atau
diamalkan. Bahkan perbedaan pendapat dalam urusan furu’ (cabang)
sekalipun sudah selesai dibahas dengan hasil sangat memuaskan diiringi rasa
solidaritas serta saling menghormati antara yang satu dengan yang lain.

Singkatnya, yang disampaikan para ulama 4 mazhab dalam
pembahasan syari’ah (ibadah, akhlak, dan mu’amalah) dan yang dibahas
oleh para ulama Ahlussunnah Wal-jama’ah dalam urusan aqidah adalah
hasil ijtihad yang sangat maksimal dalam mengkaji seluruh dalil-dalil agama. Itu
adalah hadiah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam, terlebih lagi umat
belakangan yang bila disuruh mengkaji sendiri dalil-dalil tersebut maka tidak
mungkin dapat mencapai hasil yang sama. Mengapa tidak mungkin, apakah pintu
ijtihad telah tertutup? Pintu ijtihad memang belum tertutup,
tetapi kemampuan dan kriteria berijtihad itulah yang sulit dipenuhi
oleh orang belakangan.


Apa yang dilakukan oleh kaum Salafi & Wahabi dalam
dakwahnya yang mengajak umat untuk langsung kembali kepada al-Qur’an &
Sunnah Rasulullah Saw., apalagi dengan pemahaman secara
harfiyah
(tekstual) terhadap ayat-ayat atau hadis-hadis tersebut, adalah bagaikan mengurai kembali benang yang sudah selesai disulam.
Artinya, semua itu
sudah dikerjakan oleh para ulama terdahulu, dan kesimpulan-kesimpulan hukum dari
proses panjang yang rumit dalam mengkaji dalil dengan menggunakan metodologi
yang maksimal sudah dihasilkan. Mengapa justeru umat yang seharusnya tidak perlu
bersusah payah melakukan hal yang sama (apalagi tanpa kemampuan yang dimiliki
para ulama tersebut) dan tinggal memanfaatkan pembahasan para ulama itu malah
diajak oleh kaum Salafi & Wahabi untuk menggali lagi dasar-dasar agama
tersebut.

Pada akhirnya, toh sebagian kesimpulan yang mereka hasilkan
bukanlah kesimpulan baru, sebab para ulama daluhu sudah mendiskusikannya.
Contohnya: Kaum Salafi & Wahabi menolak do’a qunut shubuh dengan
dalil hadis yang diriwayatkan oleh Abu Malik al-Asyja’I dan yang lainnya.
Sebenarnya para ulama salaf sudah pernah menyebutkan kesimpulan seperti itu,
sementara Imam Malik & Imam Syafi’I dan para ulama pengikutnya tetap
menganggap sunnah qunut shubuh tersebut dengan dalil-dalil yang lain.

Memang kesimpulannya sama, hanya saja bedanya, kaum Salafi
& Wahabi ketika mengungkapkan kesimpulan itu memberi kesan di benak kalangan
awam bahwa qunut shubuh adalah bid’ah yang identik dengan
kesesatan, sementara para ulama salaf sangat berhati-hati mengutarakannya.
Perhatikan komentar Imam Tirmidzi ketika meriwayatkan hadis tersebut: “Ini
adalah hadis hasan shahih, dan kebanyakan ahli ilmu mengamalkan atas dasar hadis
ini.
Dan telah berkata Sufyan ats-Tsauri, ‘Apabila berqunut di saat fajr
(shubuh) maka itu baik, dan bila tidak berqunut maka itu baik’ . Dan ia(Sufyan) sendiri memilih untuk tidak qunut. Dan Ibnul-Mubarak tidak berpendapat
adanya qunut shubuh.”

Ya, pada kesimpulan-kesimpulan hukum yang sama dengan
kesimpulan para ulama salaf, kaum Salafi & Wahabi menyajikannya dengan cara
yang tidak elegan, sehingga terkesan apa yang dilakukan oleh umat dan berbeda
dari kesimpulan tersebut adalah bid’ah yang harus ditinggalkan, dan
terkesan sesat. Padahal umat yang mengamalkan pendapat berbeda tersebut juga
memiliki dasar dari ulama salaf. Mengapa tidak mereka katakan saja,
“Menurut
sebagian ulama, qunut shubuh tidak ada, dan menurut sebagian ulama yang lain
tetap disunnahkan.”
Bukankah ungkapan seperti ini lebih baik dan lebih bijaksana?

Yang justeru harus diwaspadai adalah kesimpulan-kesimpulan kaum
Salafi & Wahabi yang jauh berbeda dari kesimpulan para ulama salaf akibat
menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan hadis secara tekstual, yaitu yang
menyangkut vonis-vonis tentang bid’ah yang terkesan mengada-ada dan
dibesar-besarkan sehingga dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam.

Seharusnya, perkara-perkara perbedaan pendapat seperti sudah
tidak perlu lagi dibahas, sebab masing-masing sudah dijelaskan oleh para ulama.
Seharusnya umat Islam di masa belakangan ini sudah lebih kreatif dalam
menghasilkan kemaslahatan-kemaslahatan baru untuk umat, sehingga kehidupan umat
Islam bisa lebih baik dan disegani oleh orang-orang kafir. Seharusnya umat Islam
sudah berkonsentrasi untuk menciptakan produk-produk teknologi modern untuk
menyaingi musuh-musuh Islam termasuk peralatan perang. Seharusnya umat Islam
sudah lebih kreatif menarik kalangan awam yang masih gemar berbuat maksiat untuk
kembali kepada ketaatan. Seharusnya umat Islam sudah bisa berkonsentrasi untuk
menghidupkan semangat jihad dan menyebarkan Islam kepada orang-orang
kafir. Seharusnya biaya besar yang dikeluarkan kaum Salafi & Wahabi untuk
menyebarkan faham mereka ke seluruh dunia Islam digunakan untuk menyokong
kemajuan ekonomi, sains, teknologi, dan perjuangan umat Islam.


Ya,…seharusnya…! Sayangnya, di banyak wilayah,
hal-hal itu terhambat karena pembahasan tentang perbedaan pendapat itu
dimunculkan kembali oleh kaum Salafi & Wahabi dengan cara yang tidak
bijaksana.
Sungguh, ini sebuah hambatan yang berakibat kemunduran.
Mestinya umat Islam sudah maju beberapa langkah ke depan, tetapi malah dibuat
mundur ke belakang dalam kancah perdebatan lama dan perpecahan.

Seharusnya, Saudi Arabia yang berpaham Wahabi dan kaya raya itu
banyak menghasilkan teknolog handal dan saintis ulung, di samping memiliki
perlengkapan perang yang ditakuti musuh umat Islam. Tapi, nyatanya tidak
demikian. Sayang, kan?!!

Sungguh, bila biaya besar yang dikerahkan kaum salafi dan
wahabi dalam rangka menyokong da’wah anti bid’ah yang menenggelamkan umat dalam
kemunduran itu digunakan untuk mengembangkan strategi dakwah terhadap non muslim
dan ahli maksiat, atau untuk membangun kekuatan ekonomi, kemampuan teknologi,
dan kekuatan jihad, niscaya umat Islam akan tampil sebagai umat yang

Apakah Adzan hanya sebuah isyarat untuk memanggil orang untuk sholat tanpa kecuali?


Ada beberapa kelompok manusia yang mengatakan bahwa seruan adzan itu hanya khusus untuk memanggil sholat saja, tidak boleh untuk yang lain. Sementara sebahagian kaum muslimin yang lain berpendapat bahwa adzan dapat juga dilakukan pada beberapa hal yang selain panggilan untuk menunaikan sholat fardhu yang lima waktu.

Masalah ini memunculkan kebimbangan dan perdebatan di tengah-tengah umat Islam belakangan ini. Apalagi dengan banyaknya beredar buku-buku dan siaran-siaran da’wah melalui media elektronik yang terkadang agak keras menyerang kaum muslimin yang berbeda faham dari mereka, dengan berbagai cercaan; mulai dari tuduhan pemakaian hadits yang statusnya dhoif, tuduhan sebagai amalan sesat dan bid’ah, bahkan sampai dengan ancaman neraka segala. Dengan demikian maka keresahan umat menjadi semakin meluas dan tajam.

Benarkah seruan adzan itu hanya untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan sholat? Adakah manfaat yang lain di luar itu? Sebagai jawaban atas masalah yang sering ditanyakan kepada kami maka berikut ini adalah kumpulan beberapa dalil dari ayat-ayat Al Qur’an, hadis Nabi, dan Fatwa Ulama tentang kegunaan adzan dalam Islam.

Pengertian Adzan

Berkata Azhari, seorang ahli bahasa Arab, tentang asal kata adzan : adzdzana al muadzdzinu ta’dziinan wa adzaanan yaitu memberitahu manusia akan masuknya waktu sholat. Maka adzan itu diletakkan dalam bentuk isim tetapi berfungsi sebagai mashdar, yang dalam bahasa bahasa Indonesia bermakna panggilan di waktu sholat. (Lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab Imam Nawawi Jilid 4, halaman 121 cetakan Abbaz bin Ahmad al Baz – Makkah Al Mukarromah).

Kegunaan Adzan

1. Memanggil Sholat

Adzan diperintahkan untuk memanggil umat Islam sebagai tanda masuknya waktu sholat. Hal ini sudah masyhur (terkenal) di kalangan umat Islam dan tidak ada khilaf, perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang hal ini. Semuanya sepakat dalam hal bahwa adzan digunakan untuk panggilan sholat.

Dalil-dalil Qur’an tentang ini adalah;

* Surat al Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
* Surat al-Maidah ayat 58 : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

Adapun dalil-dalil hadis tentang hal ini adalah;

* Dari Abdullah bin Zaid bin Abduh Rabihi radhiyallahu ‘anhu berkata dia, “Manakala Rasulullah telah memerintahkan untuk memakai lonceng yang dibunyikan bagi memanggil manusia untuk berkumpul melaksanakan sholat berjamaah, telah berkeliling kepadaku seorang lelaki yang sedang memegang sebuah lonceng ditangannya, pada saat itu aku sedang tidur (bermimpi). Aku berkata, “Wahai hamba Allah apakah engkau menjual lonceng?” orang itu berkata,” Untuk apa lonceng bagimu?” Aku berkata, “Kami mau memanggil manusia untuk melakukan sholat dengan lonceng itu.” Kemudian orang yang dalam mimpi itu berkata, “ Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada memukul lonceng?” lalu aku menjawab, “iya.” Maka orang itu berkata lagi ucapkan olehmu, “Allahu Akbar 4x ..(dan seterusnya sampai selesai kalimat adzan lengkap – pen). Kemudian orang itu mundur tidak jauh daripadaku dan dia berkata, “Jika engkau telah selesai sholat (sunat) maka ucapkanlah Allahu Akbar 2x ….. (bacaan iqomat sampai selesai – pen). Setelah aku terbangun di subuh hari, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan tentang mimpiku. Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mimpimu adalah mimpi yang benar, Insya Allah.” Maka berdirilah bersama Bilal dan ajarkanlah kepada Bilal tentang mimpimu itu agar Bilal beradzan seperti itu, karena suara Bilal lebih baik dari suaramu. Maka aku berdiri bersama Bilal dan mengajarkan seruan adzan itu secara perlahan sementara Bilal menyerukan suara adzan itu dengan keras. Maka telah mendengar Umar bin Khatab di rumahnya akan seruan adzan Bilal tersebut, kemudian beliau segera keluar dari rumahnya sambil menyandang selendangnya. Umar berkata, ”Demi Allah yang telah mengutus Engkau ya Rasul dengan haq, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku serupa dengan yang dialami Abdullah bin Zaid itu. Maka Rasulullah menjawab, ”Bagi Allah sajalah segala puji .”(HR. Tarmidzi dan Abu Dawud, sanad yang shohih).

2. Adzan dan Iqomat Pada Anak yang Baru Lahir

Disunnatkan juga mengadzankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan mengiqomatkan anak tersebut pada telinga kirinya, seperti adzan dan iqomat pada sholat 5 waktu. Tidak berbeda perlakuan adzan dan iqomat ini kepada anak laki-laki ataupun anak perempuan. Hal ini disandarkan pada beberapa hadis antara lain;

* Dari Abi Rofi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah mengadzankan Sayyidina Husain di telinganya pada saat Sayyidina Husain baru dilahirkan oleh Sayyidatuna Fatimah dengan bacaan adzan untuk sholat .” (HR. Ahmad, Abu dawud, Tarmidzi, dishohihkannya).

* Dari Abi Rofi’ berkata dia, “Aku pernah melihat Nabi melakukan adzan pada telinga Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma.” (HR. Thabrani).

* “Barangsiapa yang kelahiran seorang anak, lalu anaknya diadzankan pada telinganya yang sebelah kanan serta di iqomatkan pada telinga yang kiri, niscaya tidaklah anak tersebut diganggu oleh Ummu Shibyan (HR. Ibnu Sunni, Imam Haitsami menuliskan riwayat ini pada Majmu’ Az Zawaid, jilid 4,halaman 59). Menurut pensyarah hadis, Ummu Shibyan adalah jin wanita yang selalu mengganggu dan mengikuti anak-anak bayi. Di Indonesia terkenal dengan sebutan kuntilanak atau kolong wewe.

* Di dalam kitab Majmu Syarah Muhaddzab, Imam Nawawi meriwayatkan sebuah riwayat yang dikutip dari para ulama Syafi’i, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu pernah melakukan adzan dan iqomat pada anaknya yang baru lahir.

Dari keterangan ini jelaslah bagi kita bahwa perkataan orang yang selama ini mengatakan amalan mengadzankan anak yang baru lahir hanya disandarkan pada hadits-hadits dhoif belaka, adalah tidak benar sama sekali!

3. Adzan Pada Keadaan-keadaan yang lain

Selain dua hal tersebut di atas, para ulama Madzhab Syafi’i mengumpulkan dalil-dalil akan adanya manfaat adzan yang lain. Salah satunya saya kutipkan dari kitab Fathul Mu’in karangan Syaikh Zainuddin al Malibari, juga telah disyarahkan keterangannya dalam I’anatut Thalibin oleh Syaikh Sayyid Abi Bakri Syatho’, jilid 2 halaman 268, cetakan Darul Fikri.

Dalam kitab Fathul Mu’in itu disebutkan, ”Dan telah disunnatkan juga adzan untuk selain keperluan memanggil sholat, beradzan pada telinga orang yang sedang berduka cita, orang yang ayan (sakit sawan), orang yang sedang marah, orang yang jahat akhlaknya, dan binatang yang liar atau buas, saat ketika terjadi kebakaran, saat ketika jin-jin memperlihatkan rupanya yakni bergolaknya kejahatan jin, dan adzan serta iqomat pada telinga anak yang baru lahir, dan saat orang musafir memulai perjalanan.”

Keterangan;

Sudah umum diketahui bahwa orang yang sedang marah, berakhlak buruk, binatang liar umumnya terpengaruh oleh gangguan syaitan atau jin, maka adzan pada hal-hal demikian itu, menyebabkan syaitan /jin yang mengganggu akan lari sampai terkentut-kentut bila mendengar adzan (H.R. Bukhari Muslim).

Seperti yang dikatakan Shahabat Umar ra. :

Atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah rahimahullahu dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari (6/414): “Sesungguhnya Ghilan disebut di sisi ‘Umar, maka ia berkata: “Sungguh seseorang tidak mampu untuk berubah dari bentuknya yang telah Allah ciptakan. Akan tetapi mereka (para setan) memiliki tukang sihir seperti tukang sihir kalian. Maka bila kalian melihat setan itu, kumandangkanlah adzan.”

Ghilan atau Ghul adalah setan yang biasa menyesatkan musafir yang sedang berjalan di gurun (hutan/jalan). Mereka menampakkan diri dalam berbagai bentuk yang mengejutkan dan menakutkan sehingga membuat takut musafir tersebut. (Tambahan dari Admin Salafytobat)

Adapun mengadzankan mayat ketika dimasukkan ke dalam kubur adalah masalah khilafiyah; Sebagian ulama mengatakan sunnat dan sebagian lagi mengatakan tidak sunnat. Di antara ulama kita yang berpendapat tidak sunnat mengadzankan mayat adalah Syaikh Ibnu Hajar al Haitami rahimahullahu ta’ala, namun demikian, tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan bid’ah sesuatu perkara yang statusnya khilafiyah

Dzikir Berjama’ah


DZIKIR BERJAMA’AH

Kelompok Salafi/Wahabi menganggap Do’a/Dzikir berjama’ah adalah Bid’ah atau Sesat. Namun dari dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits di bawah, pernyataan tersebut tidak berdasar.
Sebagai contoh dalam surat Al Fatihah kita mengucapkan:
Iyyaka NA’budu (Kepada Mu KAMI menyembah/beribadah)
Wa Iyyaka NAsta’iin (Kepada Mu KAMI meminta/berdo’a)
Ayat di atas menunjukkan kata NA (KAMI) yang artinya JAMAK/BANYAK. Bukan sendiri-sendiri. Pada akhir Surat Al Fatihah, seluruh Makmum dari shalat berjama’ah menyatakan “AAMIIIN”.
Ayat-ayat Al Fatihah itu saja sudah jelas menunjukkan bahwa beribadah (termasuk Dzikir dan Do’a) secara berjama’ah itu tidak sesat. Dan pernah dicontohkan Nabi.
Surat Al Fatihah sendiri pada dasarnya adalah Do’a. Contohnya “Ihdinash Shiroothol Mustaqiim” (Tunjuki Kami ke Jalan yang Benar) yang kemudian diaminkan oleh para Makmum. Dengan mengucap Allah sebagai Ar Rahman dan Ar Rahim, pada dasarnya Imam itu berdzikir menyebut nama Allah. Bukankah itu contoh yang jelas?
Banyak ibadah yang dicontohkan Nabi dan para sahabat secara berjama’ah seperti Shalat Wajib Berjama’ah yang pahalanya malah 27 x lipat daripada shalat sendiri. Selain itu juga ada Shalat Tarawih berjama’ah, Shalat ‘Ied, dsb. Bahkan shalat Jum’at tidak sah jika tidak dilakukan secara berjama’ah.
Berbagai do’a dalam Al Qur’an seperti “Robbana Aatina Fid dunya Hasanah..” (Ya Tuhan KAMI berilah KAMI di dunia Kebaikan) menyatakan bahwa do’a-doa tersebut sebaiknya dilaksanakan secara berjama’ah [Al Baqarah 201].
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” [Al Baqarah 201]
Lihat ayat Al Qur’an di atas bagaimana orang berdoa secara berjama’ah. Kata siapa beribadah berjama’ah seperti Dzikir itu Bid’ah atau sesat? Hendaknya kita berpegang pada wahyu Allah.
Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar ‘alaa maa hadaNAA.
“Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada KITA”. [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]
Kalimat Takbir Ibnu Abbas di atas jelas menunjukkan Takbir tersebut dilakukan berjama’ah. Sebab kalau sendiri tentu kata terakhir jadi hadaNII (Petunjuk yang diberikan kepada saya).
Ada lagi yang berpendapat Dzikir/Takbir dengan suara keras berjama’ah boleh. Tapi tidak boleh satu suara/komando. Kalau satu suara: Bid’ah! Padahal kalau takbir sendiri-sendiri beramai-ramai dengan suara keras, niscaya yang terdengar bukan takbir lagi. Tapi cuma keributan/kegaduhan saja. Bayangkan yang satu baru Allahu Akbar, pada saat yang sama yang lain berkata “Walillahil Hamd”, yang lain lagi beda lagi. Suara yang terdengar akan kacau dan tak beraturan.
Bab 247. Keutamaan Berkumpul Untuk Berdzikir Dan Mengajak Untuk Mengikutinya Dan Larangan Memisahkan Diri Daripadanya Kalau Tanpa Uzur -Halangan-
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sabarkanlah dirimu berkumpul bersama orang-orang yang menyeru kepada Tuhan di waktu pagi dan petang. Mereka mengharapkan keridhaanNya dan janganlah engkau menghindarkan pandanganmu dari mereka itu.” (al-Kahf: 21)
1444. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari para ahli dzikir, jikalau mereka menemukan sesuatu kaum yang berdzikir kepada Allah’Azza wajalla lalu mereka memanggil-kawan-kawannya: “Kemarilah, disinilah ada hajatmu -ada yang engkau semua cari-. Mereka lalu berputar disekeliling orang-orang yang berdzikir itu serta menaungi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia. Tuhan mereka lalu bertanya kepada mereka, tetapi Tuhan sebenarnya lebih Maha Mengetahui hal itu. Firman Tuhan: “Apakah yang diucapkan oleh hamba-hambaKu itu?” Para malaikat menjawab: “Mereka itu sama memaha sucikan Engkau, memaha besarkan, memuji serta memaha agungkan padaMu -yakni bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertamjid-. Tuhan berfirman lagi: “Adakah mereka itu dapat melihat Aku?” Malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka itu tidak melihat Engkau.” FirmanNya: “Bagaimanakah sekiranya mereka dapat melihat Aku?” Dijawab: “Andaikata mereka melihat Engkau, tentulah mereka akan lebih giat ibadahnya padaMu, lebih sangat memaha agungkan padaMu, juga lebih banyak pula bertasbih padaMu.” FirmanNya: “Apakah yang mereka minta itu?” Dijawab: “Mereka meminta syurga.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah melihat syurga?” Dijawab: “Tidak, demi Allah, ya Tuhan, mereka tidak pernah melihat syurga itu.” FirmanNya: “Bagaimanakah andaikata mereka dapat melihatnya?” Dijawab: “Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih lobanya pada syurga itu, lebih sangat mencarinya dan lebih besar keinginan mereka pada syurga tadi.” FirmanNya: “Dari apakah mereka memohonkan perlindungan?” Dijawab: “Mereka mohon perlindungan daripada neraka.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah melihat neraka itu?” Dijawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya.” FirmanNya: “Bagaimanakah andaikata mereka pernah melihatnya?” Dijawab: “Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih sangat larinya dan lebih sangat takutnya pada neraka itu.” FirmanNya: “Kini Aku hendak mempersaksikan kepadamu semua bahwasanya Aku telah mengampunkan mereka itu.” Nabi s.a.w.bersabda: “Ada salah satu diantara para malaikat itu berkata: “Di kalangan orang-orang yang berdzikir itu ada seorang yang sebenarnya tidak termasuk golongan mereka, sesungguhnya ia datang karena ada sesuatu hajat belaka.” Allah berfirman: “Mereka adalah sekawanan sekedudukan dan tidak akan celakalah orang yang suka menemani mereka itu -yakni orang yang pendatang itupun memperoleh pengampunan pula-.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai para malaikat yang berkeliling -di bumi- dan utama-utama keadaannya. Tugas mereka ialah mengikuti majelis-majelis berdzikir. Maka apabila mereka menemukan sesuatu majelis yang berisi dzikir didalamnya, merekapun lalu duduk bersama orang-orang yang berdzikir itu dan saling berputar menaungi mereka dengan sayap-sayapnya antara satu dengan yang lainnya, sehingga memenuhi tempat yang ada diantara mereka dengan langit dunia. Selanjutnya jikalau orang-orang yang berdzikir itu telah berpisah, para malaikat tadi lalu mendaki dan naik ke langit, kemudian Allah ‘Azzawajalla bertanya kepada mereka, tetapi Allah sebenarnya lebih mengetahui tentang hal itu: “Dari manakah engkau semua datang?” Mereka menjawab: “Kita semua baru datang dari hamba-hambaMu yang ada di bumi, mereka itu sama bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta memohonkan sesuatu padaMu.” FirmanNya: “Apakah yang mereka mohonkan padaKu?” Dijawab: “Mereka mohon akan syurgaMu.” FirmanNya: “Apakah mereka pernah melihat syurgaKu itu?” Dijawab: “Tidak, ya Tuhan.” FirmanNya: “Bagaimana pula sekiranya mereka pernah melihat syurgaKu itu.” Para malaikat berkata lagi: “Mereka itu juga memohonkan perlindungan padaMu.” FirmanNya: “Dari apakah mereka sama memohonkan perlindungan padaKu?” Dijawab: “Dari nerakaMu, ya Tuhan.” FirmanNya: “Apakah mereka pernah melihat nerakaKu itu?” Dijawab: “Tidak pernah.” FirmanNya: “Bagaimana pula sekiranya mereka pernah melihat nerakaKu.” Para malaikat itu berkata lagi: “Mereka juga memohonkan pengampunan daripadaMu.” Allah lalu berfirman: “Sungguh-sungguh Aku telah mengampuni mereka itu, kemudian Aku berikan pula apa-apa yang mereka minta dan Aku berikan perlindungan pula mereka itu dari apa-apa yang mereka mohonkan perlindungannya.” Nabi s.a.w. bersabda: “Para malaikat itu berkata: “Ya Tuhan, di kalangan mereka ada seorang hamba yang banyak sekali kesalahannya, ia hanyalah berjalan saja melalui orang-orang yang berdzikir tadi lalu duduk bersama mereka.” Allah lalu berfirman: “Kepada orang itupun saya berikan pengampunan pula. Mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang suka mengawani mereka.”
1445. Dari Abu Hurairah dan dari Abu Said radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada sesuatu kaumpun yang duduk-duduk sambil berdzikir kepada Allah, melainkan dikelilingi oleh para malaikat dan ditutupi oleh kerahmatan serta turunlah kepada mereka itu ketenangan -dalam hati mereka- dan Allah mengingatkan mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya -yakni disebut-sebutkan hal-ihwal mereka itu di kalangan para malaikat.-” (Riwayat Muslim)
1446. Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. pada suatu ketika sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak, tiba-tiba ada tiga orang yang datang. Yang dua orang terus menghadap kepada Rasululah s.a.w. sedang yang seorang lagi lalu pergi. Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah s.a.w. Adapun yang seorang, setelah ia melihat ada tempat yang longgar dalam himpunan majelis itu, lalu terus duduk di situ, sedang yang satu lagi duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi. Setelah Rasulullah s.a.w. selesai -dalam mengamat-amati tiga orang tadi- lalu bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang ini? Adapun yang seorang -yang melihat ada tempat longgar terus duduk di situ-, maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya -yang duduk di belakang orang banyak-, ia adalah malu -untuk berdesak-desakan dan sikap ini terpuji-, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi -yang terus menyingkir-, ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)
1447. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Mu’awiyah r.a. keluar menuju suatu golongan yang berhimpun dalam masjid, lalu ia berkata: “Apakah yang menyebabkan engkau semua duduk ini?” Orang-orang menjawab: “Kita duduk untuk berdzikir kepada Allah.” Ia berkata lagi: “Apakah, demi Allah, tidak ada yang menyebabkan engkau semua duduk ini melainkan karena berdzikir kepada Allah saja?” Mereka menjawab: “Ya, tidak ada yang menyebabkan kita semua duduk ini, kecuali untuk itu.” Mu’awiyah lalu berkata: “Sebenarnya saya bukannya meminta sumpah dari engkau semua itu karena sesuatu dugaan yang meragukan terhadap dirimu semua dan tiada seorangpun yang sebagaimana kedudukan saya ini dari Rasulullah s.a.w. yang lebih sedikit Hadisnya daripada saya sendiri -karena sangat berhati-hatinya meriwayatkan Hadis-. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu ketika keluar menuju suatu golongan yang berhimpun dari kalangan sahabat-sahabatnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Apakah yang menyebabkan engkau semua duduk ini?” Para sahabat menjawab: “Kita duduk untuk berdzikir kepada Allah, juga memuji padaNya karena telah menunjukkan kita semua kepada Agama Islam dan mengaruniakan kenikmatan Islam itu pada kita.” Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Apakah, demi Allah, tidak menyebabkan engkau semua duduk ini melainkan karena itu?” Sesungguhnya saya bukannya meminta sumpah dari engkau semua itu karena sesuatu dugaan yang meragukan terhadap dirimu semua, tetapi Jibril datang padaku dan memberitahukan bahwasanya Allah merasa bangga dengan engkau semua itu kepada malaikat -yakni kebanggaanNya itu ditunjukkan kepada para malaikat-.” (Riwayat Muslim)
——————————————————————————–
Sumber:
Terjemah Riyadhush Shalihin – Jilid 1 – Pustaka Amani, Jakarta
Terjemah Riyadhush Shalihin – Jilid 2 – Pustaka Amani, Jakarta
  1. Silahkan lihat dalil-dalil lengkapnya dari Al Qur’an dan Hadits di bawah. Jadi keliru besar menganggap Dzikir Berjama’ah sebagai Bid’ah atau Sesat.

Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وصلى الله على رسول الله وسلم وبعد

قال الله تعالى : (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَـمِيًّا) (سورة مريم : 65)

“Engkau tidaklah menemukan yang serupa dengan-Nya (Allah)”. (QS. Maryam: 65)

Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah; kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).

Dalil atas keyakinan tersebut selain ayat di atas adalah firman Allah:

( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ) (سورة الشورى: 11)

 “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi kepada dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;

1. Benda Lathif; benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.

2. Benda Katsif; benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al-Jawhar al-Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: “كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىءٌ غَيْـرُهُ” (رواه البخاري والبيهقي وابن الجارود)
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333).

Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hlm. 506, berkata:

“Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

قالَ رَسُوْلُ الله: “أنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ” (رَوَاهُ مُسلم وَغيـرُه)
“Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِيْ لاَ يَحْوِيْكَ مَكَانٌ” (رواه الحافظ الزبيدي)
“Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).

Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah, hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini telah dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.
  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Than Must Back Tie on Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya.

  • Komentar Terakhir

    Than Must Back Tie on Larangan mendengarkan melihat…
    salafyinfo on FAHAM NEO SALAF RAGUKAN TAHLIL…
    suwuk aswaja on FAHAM NEO SALAF RAGUKAN TAHLIL…
    dwi agustiawan on Fatwah ulama slafy wahhabi Bol…
    langgeng waskitho on Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya.

    %d blogger menyukai ini: