WAHHABI DAN SYI’AH PERUSAK AGAMA


 Kelopok Wahabi acapkali sering menuduh Ahlisunnah wal Jamaah memiliki kesamaan dengan Syiah, baik yang mengamalkan tarekat shufi maupun lainnya. Tuduhan tersebut hanya berdasarkan atas kebencian Wahabi terhadap Ahlisunnah, agar ketika mereka disamakan dengan Syiah, maka Sunni menolak dan mengikuti aliran Wahabi. Namun justru Wahabi sendirilah yang memiliki banyak kesamaan dengan Syiah. Fakta- fatka tersebut akan kami urai dalam artikel. Mengkafirkan Sahabat Dalam hadis-hadis sahih ditegaskan bahwa masa sahabat adalah kurun waktu terbaik karena mereka hidup bersama Rasulullah Saw. Namun berbeda bagi Syiah, menurut mereka para sahabat ada yang telah kafir. Bagi Wahabi pula, manhaj ilmu mereka boleh hingga menyebabkan kafirnya sahabat kerana melakukan tawassul di makam Rasulullah Saw !! Maksud dalam gambar dibawah adalah manhaj Ibn Baz menyebabkan sahabat menjadi kafir. Jadi wujud persamaan yang agak serasi manhaj ilmu Syiah dan Wahabi hingga boleh menyebabkan kekafiran Sahabat. Kesahihan Atsar Istisqa Di Makam Rasulullah Saw Selain al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih, al-Hafidz Ibnu Katsir juga menilai sahih atsar di bawah ini: ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻻﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ – ‏( ﺝ 7 / ﺹ 105 ‏) ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ : ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻧﺼﺮ ﺑﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻭﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻔﺎﺭﺳﻲ ﻗﺎﻻ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻣﻄﺮ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺬﻫﻠﻲ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ، ﻋﻦ ﺍﻻﻋﻤﺶ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ : ﺃﺻﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺤﻂ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻓﺠﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﺘﺴﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻣﺘﻚ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻫﻠﻜﻮﺍ. ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻳﺖ ﻋﻤﺮ ﻓﺄﻗﺮﻩ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﺧﺒﺮﻫﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺴﻘﻮﻥ، ﻭﻗﻞ ﻟﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺎﻟﻜﻴﺲ ﺍﻟﻜﻴﺲ. ﻓﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺧﺒﺮ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺁﻟﻮﺍ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻨﻪ. ﻭﻫﺬﺍ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ . al-Hafidz adz-Dzahabi juga mengutip riwayat tersebut dan beliau mendiamkannya tanpa komentar tentang kedlaifannya: ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ – ‏( ﺝ 1 / ﺹ 412 ‏) ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﻋﻤﺶ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺻﺎﻟﺢ، ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻗﺎﻝ : ﺃﺻﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺤﻂ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻤﺮ، ﻓﺠﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﻞ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﺘﺴﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻷﻣﺘﻚ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻫﻠﻜﻮﺍ . ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺋﺖ ﻋﻤﺮ ﻓﺄﻗﺮﺋﻪ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺃﺧﺒﺮﻩ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺴﻘﻮﻥ ﻭﻗﻞ ﻟﻪ : ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻜﻴﺲ ﺍﻟﻜﻴﺲ، ﻓﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺧﺒﺮ ﻋﻤﺮ ﻓﺒﻜﻰ ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺁﻟﻮ ﻣﺎ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻨﻪ . Terkait dengan keraguan Syaikh Bin Baz bahwa ‘Rajul’ tersebut adalah sahabat, maka cukup dibantah dengan ketegasan pernyataan al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa ‘Rajul’ tersebut BENAR-BENAR Bilal bin Harits: ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ – ‏( ﺝ 3 / ﺹ 441 ‏) ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﻭَﻯ ﺳَﻴْﻒ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﺘُﻮﺡ ﺃَﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﺃَﻯ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻡ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭ ﻫُﻮَ ﺑِﻠَﺎﻝ ﺑْﻦ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙ ﺍﻟْﻤُﺰَﻧِﻲُّ ﺃَﺣَﺪ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔ “Saif BENAR-BENAR meriwayatkan dalam al-Futuh bahwa laki-laki yang melihat mimpi tersebut adalah Bilal bin Harits al-Muzani, salah satu sahabat Nabi” (Fath al- Bari 3/441) Jadi al-Hafidz Ibnu Hajar mengutipnya dengan Shighat Jazm (tegas) yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah sahih. Kecuali seandainya al-Hafidz Ibnu hajar mengutip dengan redaksi lemah (Shighat Tamridl) seperti “Dikatakan”, “Diriwayatkan” dan lainnya. Lebih layak mana antara al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih dan Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani dan ulama Wahabi lainnya yang menilai dlaif untuk kita terima? Tidak cukupkah bagi pengikut Wahabi bahwa kalimat Syaikh Bin Baz yang berbunyi: ﻭﺃﻥ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﻭﺳﻴﻠﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺸﺮﻙ Menunjukkan bahwa apa yang dilakukan sahabat tersebut mengarah (wasilah) pada syirik? Sementara wasilah memiliki hukum yang sama dengan tujuannya…. ﻟﻠﻮﺳﺎﺋﻞ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﻘﺎﺻﺪ Kepentingan Yahudi Syiah secara diam-diam menjalin hubungan yang erat dengan Yahudi. Demikian halnya ulama-ulama Wahabi memberi fatwa-fatwa yang menguntungkan Yahudi. Diantaranya adalah fatwa Syaikh Albani: ﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻠﺴﻄﻴﻨﻴﻴﻦ ﺍﻥ ﻳﻐﺎﺩﺭﻭﺍ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﻭﻳﺨﺮﺟﻮﺍ ﺍﻻﻯ ﺑﻼﺩ ﺍﺧﺮﻯ ﻭﺍﻥ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺑﻘﻲ ﻓﻲ ﻓﻠﺴﻄﻴﻦ ﻣﻨﻬﻢ ﻛﺎﻓﺮ ‏( ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺟﻤﻊ ﻋﻜﺎﺷﺔ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻨﺎﻥ ﺹ 18 ) “Warga Muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke Negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir” (Fatawa al-Albani yang dihimpun oleh Ukasyah Abdul Mannan, Hal. 18) Fatwa Kontroversial ini membuat reaksi keras dari berbagai kalangan di Timur Tengah. Sebagian pakar menganggap bahwa logika yang dipakai oleh Albani, ulama Wahabi, adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena fatwa Wahabi ini menguntungkan Yahudi yang berambisi menguasai negeri Palestina. Begitu pula Syaikh Bin Baz, ulama Wahabi. Tahun 1994 ia keluarkan fatwa yang membolehkan kaum Muslimin melakukan perdamaian permanen, tanpa batas dan tanpa syarat dengan Yahudi. Fatwa ini mendapat dukungan dari orang Yahudi, sehingga Simon Perez, Menlu Israil meminta Negara-negara Arab dan kaum Muslimin agar mengikuti fatwa Bin Baz untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Israil. Fatwa ini dimuat di berbagai media massa Timur Tengah seperti surat kabar harian Nida’ al-Wathan Lebanon edisi 644, surat kabar al-Diyar Lebanon edisi 2276, surat kabar al-Muslimun Saudi Arabia dan harian Telegraph Australia. Mengkafirkan Umat Islam Umat Islam Ahlusunnah wal Jamaah adalah umat Muslim mayoritas di Dunia setelah Rasulullah Saw wafat. Namun bagi kelompok Syiah dan Wahabi, Ahlisunnah adalah kafir dan musyrik Begitu pula pengikut Wahabi menghukumi kafir dan musyrik pada umat Islam serta menghalalkan darah dan hartanya. Diambil dari kitab ﻓﻀﺎﺋﺢ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ Syaikh Fathi Al- Mishri Al-Azhari berkata:: ﻗﺎﻝ ﻣﻔﺘﻲ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻰ ﺳﻨﺔ 1225 ﻫـ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ ﺍﻟﺴﺤﺐ ﺍﻟﻮﺍﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﺮﺍﺋﺢ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ” ﺹ 276 ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ”: ﻓﺈﻧّﻪ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺑﺎﻳﻨﻪ ﺃﺣﺪ ﻭﺭﺩَّ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﻠﻪ ﻣﺠﺎﻫﺮﺓً ﻳﺮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﻐﺘﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻟﻴﻼً ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺑﺘﻜﻔﻴﺮ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻔﻪ ﻭﺍﺳﺘﺤﻼﻟﻪ ﻗﺘﻠﻪ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻔﺘﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺭﺋﻴﺲ ﺍﻟﻤﺪﺭﺳﻴﻦ ﻓﻲ ﻣﻜﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺣﻤﺪ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ” ﺻﺤﻴﻔﺔ 46 ”:ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻳﻘﻮﻝ ”: ﺇﻧﻲ ﺃﺩﻋﻮﻛﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﺍﻟﻄﺒﺎﻕ ﻣﺸﺮﻙ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻭﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﺸﺮﻛًﺎ ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻭﺟﻤﺎﻋﺘﻪ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ‏( ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ‏) ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻭﺍﺳﺘﺒﺎﺣﻮﺍ ﺩﻣﺎﺀﻫﻢ ﻭﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻬﻜﻮﺍ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺑﻬﻢ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﺮ ﻟﻪ ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺼﺮﺣﻮﻥ ﺑﺘﻜﻔﻴﺮ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻨﺬ ﺳﺘﻤﺎﺋﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺻﺮَّﺡ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻧﻲ ﺃﺗﻴﺘﻜﻢ ﺑﺪﻳﻦ ﺟﺪﻳﺪ. ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﺤﺼﺮٌ ﻓﻴﻪ ﻭﻓﻴﻤﻦ ﺗﺒﻌﻪ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﻮﺍﻫﻢ ﻛﻠﻬﻢ ﻣﺸﺮﻛﻮﻥ ‏( ﺍﻧﻈﺮ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ” ﺹ 42 ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻫﺎ ‏). ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﻔﺘﻲ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﺃﻳﻀًﺎ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ ﺃﻣﺮﺍﺀ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ” ﺹ 297 ـ298 ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﺩﺧﻠﻮﺍ ﺍﻟﻄﺎﺋﻒ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺘﻼً ﻋﺎﻣًّﺎ ﻭﺍﺳﺘﻮﻋﺒﻮﺍ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﻭﺍﻷﻣﻴﺮ ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻭﺍﻟﻮﺿﻴﻊ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻳﺬﺑﺤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﺪﺭ ﺍﻷﻡ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺍﻟﺮﺿﻴﻊ ﻭﻳﻘﺘﻠﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ﻭﺍﻟﺤﻮﺍﻧﻴﺖ ﻭﻭﺟﺪﻭﺍ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻳﺘﺪﺍﺭﺳﻮﻥ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﻘﺘﻠﻮﻫﻢ ﻋﻦ ﺀﺍﺧﺮﻫﻢ ﺛﻢ ﺧﺮﺟﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻳﻘﺘﻠﻮﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻫﻮ ﺭﺍﻛﻊ ﺃﻭ ﺳﺎﺟﺪ ﻭﻧﻬﺒﻮﺍ ﺍﻟﻨﻘﻮﺩ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻳﺪﻭﺳﻮﻥ ﺑﺄﻗﺪﺍﻣﻬﻢ ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﻧﺴﺦ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻭﺑﻘﻴﺔ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺍﻟﻨﺤﻮ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻧﺸﺮﻭﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺯﻗﺔ ﻭﺍﻟﺒﻄﺎﺋﺢ ﻭﺃﺧﺬﻭﺍ ﺃﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻗﺘﺴﻤﻮﻫﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺴﻢ ﻏﻨﺎﺋﻢ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ . ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﻓﻲ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ” ﺻﺤﻴﻔﺔ 57 ”:ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴّﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻠﻮﻱ ﺍﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ﺟﻼﺀ ﺍﻟﻈﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺿﻞّ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ :” ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺤﻘﻖ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻣﻦ ﺃﻗﻮﺍﻟﻪ ﻭﺃﻓﻌﺎﻟﻪ ‏( ﺃﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ‏) ﻣﺎ ﻳﻮﺟﺐ ﺧﺮﻭﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺑﺎﺳﺘﺤﻼﻟﻪ ﺃﻣﻮﺭًﺍ ﻣﺠﻤﻌًﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻣﻊ ﺗﻨﻘﻴﺼﻪ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﺗﻨﻘﻴﺼﻬﻢ ﻛﻔﺮٌ ﺑﺈﺟﻤﺎﻉ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ . ﻓﺒﺎﻥ ﻭﺍﺗﻀﺢ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻫﻮ ﻭﺃﺗﺒﺎﻋﻪ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﺑﺪﻳﻦ ﺟﺪﻳﺪ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﺩﺧﻞ ﻓﻲ ﺩﻋﻮﺗﻨﺎ ﻓﻠﻪ ﻣﺎ ﻟﻨﺎ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻣﻌﻨﺎ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺣﻼﻝ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ. “Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin Humaid an- Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab: “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.” (Muhammad al- Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah, Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276). Mufti madzhab Syafi’i dan kepala dewan pengajar di Makkah pada masa Sultan Abdul Hamid Syekh Ahmad Zaini Dahlan mengatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab pernah mengatakan: “Sesungguhnya aku mengajak kalian pada tauhid dan meninggalkan syirik pada Allah, semua orang yang berada dibawah langit yang tujuh seluruhnya musyrik secara mutlak sedangkan orang yang membunuh seorang musyrik maka ia akan mendapatkan surga”. (Ahmad Zaini Dahlan, al-Duraru al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, hal 46). Itulah pernyataan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan kelompoknya yang telah menghukumi umat Islam dengan kekufuran, menghalalkan darah dan harta mereka serta mencabik-cabik kemuliaan nabi dengan melakukan bermacam-macam bentuk penghinaan terhadapnya. Mereka juga terang- terangan mengkafirkan umat sejak 600 tahun, dan orang yang pertama kali terang- terangan dengan hal itu adalah Muhammad ibn Abdul Wahhab, ia mengatakan: “Aku telah datang kepada kalian dengan agama yang baru”. Ia meyakini bahwa Islam hanya ada pada dia dan orang-orang yang mengikutinya dan bahwa manusia selain mereka seluruhnya adalah musyrik. Mufti Ahmad Zaini Dahlan juga menuturkan dalam kitabnya Umara-u al Balad al Haram bahwa orang-orang Wahabi ketika memasuki Thaif mereka melakukan pembantaian massal terhadap masyarakat dalam rumah-rumah mereka, mereka juga membantai orang-orang tua dan anak-anak, rakyat dan pejabat, orang mulia dan yang hina. Mereka menyembelih bayi yang sedang menyusu di depan ibunya. Mereka juga membunuh manusia di rumah-rumah dan di toko-toko dan ketika mereka menemukan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an, mereka membunuh semuanya. Kemudian mereka masuk ke mesjid-mesjid dan membunuh siapapun yang berada di dalam mesjid yang sedang ruku’ atau sujud dan merampas uang dan hartanya. Kemudian mereka menginjak-injak mushaf, naskah kitab al Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits, fikih dan nahwu setelah mereka membuangnya di lorong-lorong jalan dan parit-parit serta mengambil harta umat Islam dan membagikannya sesama mereka layaknya membagi harta rampasan (ghanimah) orang kafir. (Ahmad Zaini Dahlan, Umara al-Balad al-Haram, hal. 297-298. Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: “Sayyid Syekh Alawi ibn Ahmad ibn Hasan al Haddad Ba’alawi dalam kitabnya Jala-u al Dhalam fi al Raddi ‘ala al Najdi al Ladzi Adhalla al ‘Awam mengatakan: Kesimpulannya bagi orang yang mencermati perkataan dan prilaku Muhammad ibn Abdul Wahhab akan mengatakan bahwa ia (Muhammad ibn Abdul Wahhab) telah menyalahi kaidah-kaidah Islam karena ia menghalalkan perkara-perkara yang disepakati akan keharamannya dan status haram tersebut telah diketahui dalam agama oleh semua umat baik yang alim ataupun yang bodoh sekalipun. Juga pelecehannya terhadap para nabi dan rasul, para wali dan orang- orang yang shalih. Pelecehan seperti ini adalah kekufuran dengan ijma’ para imam yang empat. Demikian pemaparan Ahmad Zaini Dahlan. (Lihat al-Durar al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah hal. 57) Dengan demikian menjadi jelas bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya datang dengan membawa agama baru dan bukan membawa agama Islam. Dia pernah mengatakan: “Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka baginya hak sebagaimana hak kita dan barang siapa yang tidak masuk dalam dakwah kita maka dia kafir halal darah dan hartanya.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Kasyfu al-Syubuhat, Saudi Arabia: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, hal. 7). Melarang Salat Janazah Sunni Bagi golongan Syiah, menyalati janazah umat Islam Ahlisunnah adalah tidak wajib, bahkan tidak boleh, karena mereka tidak iman kepada imam-imam Syiah yang 12. Demikian halnya dengan fatwa-fatwa ulama Wahabi yang menuduh secara keji bahwa umat Islam yang berziarah ke makam Ulama sebagai “Penyembah Kubur” sehingga dihukumi musyrik seperti fatwa Syaikh Bin Baz: ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻭَﻳَﺼُﻮْﻡُ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻲ ﺑِﺄَﺭْﻛَﺎﻥِ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺴْﺘَﻐِﻴْﺚُ ﺑِﺎْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺎﺋِﺒِﻴْﻦَ ﻭَﺑِﺎﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻭَﻧَﺤْﻮِ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﺸْﺮِﻙٌ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻧَﺼَﺢَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺒَﻞْ ﻭَﺃَﺻَﺮَّ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎﺕَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﺸْﺮِﻙٌ ﺷِﺮْﻛًﺎ ﺃَﻛْﺒَﺮَ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻪُ ﻣِﻦْ ﻣِﻠَّﺔِ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ، ﻓَﻼَ ﻳُﻐْﺴَﻞُ ﻭَﻻَ ﻳُﺼَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﻭَﻻَ ﻳُﺪْﻓَﻦُ ﻓِﻲ ﻣَﻘَﺎﺑِﺮِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﻻَ ﻳُﺪْﻋَﻰ ﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ ﻭَﻻَ ﻳَﺮِﺛُﻪُ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻩُ ﻭَﻻَ ﺃَﺑَﻮَﺍﻩُ ﻭَﻻَ ﺇِﺧْﻮَﺗُﻪُ ﺍﻟْﻤُﻮَﺣِّﺪُﻭْﻥَ ﻭَﻻَ ﻧَﺤْﻮُﻫُﻢْ ﻣِﻤَّﻦْ ﻫُﻮَ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻻِﺧْﺘِﻼَﻓِﻬِﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ؛ ﻟِﻘَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏« ﻻَ ﻳَﺮِﺙُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮَ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ‏» ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱ ﻭَﻣُﺴْﻠِﻢٌ ‏( ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺋﻤﺔ ﻟﻠﺒﺤﻮﺙ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﺔ ﻭﺍﻹﻓﺘﺎﺀ – ﺝ 1 / ﺹ 75 ) “Barangsiapa yang salat, berpuasa dan menjalankan rukun-rukun Islam, hanya saja ia beristighatsah dengan orang mati, orang yang ghaib, malaikat dan lainnya, maka ia Musyrik. Jika ia diberi nasehat dan tidak menerima serta masih tetap melakukan hal itu hingga ia mati, maka ia Msurik dengan syirik besar yang menyebabkan ia keluar dari Islam. Maka mayatnya tidak boleh dimandikan, tidak disalati, tidak dikubur di pemakaman umat Islam, tidak didoakan dengan ampunan, tidak boleh memberi waris dan tidak boleh menerima warisan, karena beda agama. Nabi bersabda: Seorang Muslim tidak boleh memberi warisan kepada orang kafir. Dan orang kafir tidak boleh memberi warisan kepada orang Muslim (HR Bukhari dan Muslim)” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ 1/75)

TINGGALKAN FAHAM TAKFIRI WAHHABI SALAFI


  1. Pada sa’at ini semakin banyak orang yang merasa mereka lebih hebat dibandingkan ulama ulama dahulu. Mereka mencoba menebarkan slogan untuk tidak bermadzhab, tetapi mengambil hukum dari al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Slogan (semboyan = perkataan) berhukum al-Qur’an dan hadits benar tetapi memiliki tujuan yang salah, dan akan menghasilkan kesalahan yang besar. Adapun diantara dalil-dalil yang diucapkan oleh mereka yang anti madzhab ialah: 1 – Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita untuk bermadzhab, bahkan memerintahkan kita mengikuti sunnahnya. 2 – al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi dalil dan hukum sehingga tidak di perlukan lagi Madzhab-madzhab. 3 – Madzhab-madzhab itu bid`ah karena tidak ada pada zaman Rasul. 4 – Seluruh ulama Madzhab seperti Imam Syafi`i melarang orang-orang mengikuti mereka dalam hukum. 5 – Bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti telah menolak sunnah Nabi Muhammad SAW. 6 – Pada Zaman sekarang sudah semestinya kita berijtihad, karena dihadapan kita telah banyak kitab-kitab hadits, Fiqih, ulumul Hadits dan lain-lain, kesemuanya itu mudah didapati. 7 – Para Ulama Madzhab adalah manusia biasa, bukan seorang nabi yang ma’shum dari kesalahan, semestinya kita berpegang kepada yang tidak ma’shum yaitu hadits-hadits Rasulullah. 8 – Setiap hadits yang shahih wajib diamalkan, tidak boleh menyalahinya dengan mengikuti pendapat ulama madzhab. Ini sebahagian hujjah-hujjah mereka, kita akan jawab satu persatu insyaAllah. Masalah pertama 1 Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita untuk bermadzhab. Dari maknanya, tidak ada perintah untuk bermazhhab secara khusus, akan tetapi, bermazhab diperintahkan secara umum. Perintah umum tersebut terdapat didalam al-Qur`an dan Hadits Rasul , demikian juga disana tidak terdapat larangan untuk bermazhab dari Rasulullah. Dengan demikian tidak boleh kita buang dalil umum yang menyuruh untuk bermadzhab. Bahkan sebagian dalil dan hujjah-hujjah menjurus kepada kekhususan mengikuti ulama-ulama yang telah sampai derajat Ijtihad. Berikut ini saya aka uraikan beberapa dalil tentang bermadzhab: 1 – Allah Berfirman : فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون Artinya : Hendaklah bertanya kepada orang mengetahui jika kamu tidak mengetahui. Penjelasan ayat : ayat ini memerintahkan orang-orang awam yang tidak mengetahui sesuatu, atau belum mencapai derajat mujtahid untuk bertanya kepada orang alim atau orang yang telah sampai derajat Mujtahid. Hal ini bermakna orang yang tidak sampai derajat mujtahid diharuskan mengikuti mazhab-madzhab yang di i’tiraf (diakui) oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Siapa yang merasa tidak memiliki ilmu maka dia wajib bertaqlid kepada ulama, sebab Allah tidak mengatakan , jikalau kau tidak mengetahui maka hendaklah lihat didalam al-Qur`an dan Hadits. Karena al-Qur`an dan al-Hadits memiliki pemahaman yang hanya ulama yang mujtahid saja yang memahaminya. Karena itulah Allah memerintahkan untuk bertanya kepada Ulama mujtahid akan arti dan pemahaman dari al-Qur`an dan al-Hadits. 2 – Rasulullah SAW bersabda : عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال ” سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالم اتخذ الناس رؤسا جهالا، فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا. ( رواه البخاري و مسلم والترمذي وابن ماجه ولا أحمد والدارمي ). Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya ( ulama ) akan tetapi mengambil ilmu dengan mencabut nyawa ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh ( menjadi pegangan mereka ), mereka bertanya hukum kepadanya, kemudian orang-orang bodoh itu berfatwa menjawab pertanyakkan mereka, jadilah mereka sesat dan menyesatkan pula. ( H.R Bukhari, Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah. Ahmad, ad-Darimi). Penjelasan hadits : Hadits ini menunjukkkan kepada kita semakin sedikitnya ulama pada masa sekarang. Siapa yang mengatakan semangkin banyak maka dia telah menyalahi hadits Nabi yang shahih dan kenyataan yang ada. Sebab Allah mencabut nyawa ulama, dan tidak ada pengganti yang dapat menandingi keilmuannnya. Siapa yang dapat menandingi keilmuan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`I, Imam Ahmad pada zaman sekarang? Tidak ada yang mampu. Mereka telah wafat dan meninggalkan warisan yang sangat besar , yaitu ilmu dan madzhab-mazhab mereka. Jadi orang -orang awam yang mengambil warisan ilmu-ilmu mereka seolah-olah seperti bertanya lansung kepada Imam yang empat. Dengan begitu, jauhlah mereka dari kesesatan dan menyesatkan orang. Tetapi orang bodoh yang tidak mau bermadzhab akan menanyakan permasalahannya kepada orang yang berlagak alim dan mujtahid tetapi bodoh, tolol dan sok tahu, maka dia berfatwa menurut hawa nafsunya dan perutnya dalam memahami hadits dan lainnya. Orang ini sangat membahayakan dan menyesatkan umat Islam. Mereka tidak menyadari kesesatan mereka dan berusaha untuk menyebarkan pemahaman mereka, inilah ciri-ciri kebodohannya. Dari hadits ini kita perlu bertanya, mengapa Rasul mengatakan,”mereka bertanya kepada orang-orang bodoh”. Penyebab mereka mengambil ilmu kepada orang yang bodoh ialah karena orang alim sudah tiada lagi. Padahal kitab-kitab hadits semangkin banyak dicetak, kitab-kitab ilmu semangkin menyebar di kalangan masyarakat. Penulis melihat ada beberapa sebab : 1 – Pentingnya ulama madzhab dalam menuntun pemahaman yang ada dari al-Qur`an dan al-Hadits, sehingga apabila ulama meninggal dunia, tiada lagi orang yang mampu mengajarkan pemahaman yang sebenarnya dari al-Qur`an dan al-Hadits. 2 –Orang-orang yang sesat menolak untuk mengikuti madzhab-madzhab yang telah tertulis dan dibukukan, sehingga mereka lebih memilih orang yang berlagak lebih tahu dalam memahami al-Qur`an dan al-Hadits dibandingkan ulama-ulama terdahulu. 3 – Orang yang paling bodoh ialah yang tidak mengetahui bahwa dia bodoh, sehingga dia berfatwa walaupun dalam keadaan bodoh, tidak ingin melihat kembali apa kata ulama-ulama madzhab di dalam kitab mereka. 4 – Salah satu tanda hari kiamat adalah madzhab bodoh lebih berkembang dan menyesatkan orang yang bermadzhabkan empat madzhab. 5 – Dari hadits diatas juga kita fahami bahwa pada zamansekarang sangat sulit kita dapati ulama yang kedudukannya sampai kepada ulama mujtahid. Apabila kita menyalahi hal ini, kemungkinan kita telah mengingkari hadits Rasul yang menceritakan tentang ilmu akan dicabut dari permukaan bumi ini dengan wafatnya ulama. Pada abad pertama hijriyah, puluhan , bahkan ratusan orang sampai kepada derajat al-Hafizh dan mujtahid, demikian juga pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Tetapi setelah itu, ulama-ulama semakin berkurang, apalagi pada zaman kita sekarang. Jadi apa yang dikatakan Rasul telah terjadi pada masa kini. Kita dapat melihat, betapa banyak orang yang mengaku alim dan berfatwa, padahal dia tidak memiliki standar dalam berfatwa. Orang-orang ini bermuka tebal, seperti tembok China. 3 – Rasulullah bersabda : لا تسبوا قريشا فإن عالمها يملأ الأرض علما Artinya : Janganlah kamu menghina orang-orang Quraisy, karena seorang ulama dari kalangan bangsa Quraisy, ilmunya akan memenuhi penjuru bumi ini . ( H,R Baihaqi didalam al-Manaqib Syafi`i, Abu Naim didalam al-Hilyah, Musnad Abu Daud ath-Thayalisi ). Para ulama menta’wilkan maksud hadits tersebut kepada Imam Syafi`i al-Quraisyi yang telah menebarkan ilmu dan madzhabnya dibumi ini. Diantara ulama yang mengungkapkan hal itu ialah Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Abu Nuaim al-Ashbahani, Imam Baihaqi. Dan maksud ilmu pada hadits tersebut adalah madzhab dan pemahamannya terhadap al-Quran dan sunnah, sebab pemahaman terhadap al-Qur`an dan sunnah itulah yang disebut ilmu. Ilmu itu adalah madzhab jika ilmu tersebut diikuti orang lain. Dengan demikian, madzhab adalah salah satu pemahaman al-Qur`an dan hadits yang diikuti oleh orang lain. Masalah kedua 2 – Pendapat Saudara yang mengatakan bahwa Al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi sumber hukum adalah ungkapan seorang Mujtahid, yang telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Jika Saudara berkata demikian juga, berarti Saudara sudah menjadi mujtahid, dan sudah memiliki syarat-syarat ijtihad. Akan tetapi jika Akan tetapi jika tidak, maka saya sarankanagar Saudara mundur kebelakang, atau membeli cermin ( kaca ) agar dapat bercermin siapa diri anda, dan sampai mana keilmuan anda. Apabila cermin juga tidak mampu menunjukkan hakikat diri anda sendiri dalam keilmuan, maka hendaklah bercermin dengan ulama-ulama ahlus sunnah wal jama`ah, karena cermin yang ada dirumah harganya murah atau sudah pecah. jika tidak tergambar juga hakikat diri anda dihadapan orang lain, maka syaithan telah memperdayakan anda. Ingatlah, menjadi mujtahid itu amat berat, dan memiliki syarat-syarat yang sulit. Rasul bersabda : رحم الله امرءا عرف قدره Artinya : Allah menyayangi seseorang yang mengetahui batas kemampuannya. Kalau anda sadar akan batas keilmuan dan kemampuan anda, tentu anda akan mengikuti madzhab yang empat. Tetapi sayang, anda tidak melihat kelemahan dan kebodohan anda sendiri. Perlu anda ketahui jika anda belum sampai kepada tahap Mujtahid, jika ingin mengambil langsung dari al-Qur`an dan Sunnah, apakah anda telah mengahapal al-Qur`an keseluruhannya? Atau paling sedikit ayat-ayat Ahkam, dan telah mengetahui maksud ayat-ayat tersebut, sebab-sebab turunnya ayat, apakah ayat tersebut tergolong Nasikh atau Mansukh, apakah ayat tersebut Muqayyad atau Muthalaq, atau ayat itu Mujmal atau Mubayyan, atau ayat tersebut `Am atau Khusus, kedudukan setiap kalimat didalam ayat dari segi Nahwu dan `Irabnya, Balaghahnya, bayannya, dari segi penggunanaan kalimat Arab secara `Uruf dan hakikatnya, atau majaznya, kemudian adakah terdapat didalam hadits yang mengkhususkan ayat tersebut, ini masih sebagian yang perlu anda ketahui dari al-Qur`an. Sementara dalam Hadits, anda mesti menghapal seluruh hadits-hadits Ahkam, kemudian mengetahui sebab-sebab terjadinya hadits tersebut, mana yang mansukh dan mana yang Nasikh, mana yang Muqayyad dan mana yang Muthlaq, mana yang mujmal dan mubayyan, mana yang `Am dan Khas, dan mesti mengetahui bahasa arab dengan sedalam-dalamnya, agar tidak menyalahi Qaidah-Qaidah dalam bahasa. Hal ini meliputi Nahwu, Balaghah, bayan, ilmu usul Lughah. Anda juga mesti mengetahui fatwa-fatwa ulama yang terdahulu, sehingga tidak mengeluarkan hukum yang menyalahi ijma` ulama, dan mengetahui shahih atau tidaknya hadits yang akan digunakan. Hal ini meliputi pengetahuan tentang sanad, Jarah dan Ta`dil, Tarikh islami dan ilmu musthalah hadits secara umum dan mendalam, sebab tidak semua hadits shahih dapat dijadikan hujjah secara langsung, karena mungkin saja telah dimansukhkan, atau hadits tersebut umum dan adalagi hadits yang khusus, maka mesti mendahulukan yang khusus. Hal ini akan saya jelaskan insya Allah dalam pembahasan yang khusus. Pertanyaannya adalah, sudahkan anda memiliki syarat yang telah kami sebutkankan, kalau sudah silahkan anda berijtihad sendiri, kalau belum jangan mempermalukan diri sendiri. Kebodohan yang paling bodoh adalah tidak mengakui diri bodoh, sehingga tidak mau belajar dari kebodohannya. Masalah ketiga 3 – Pendapat anda yang mengatakan bermadzhab itu suatu yang bid’ah karena tidak terdapat pada zaman Rasul. Penulis mengira anda belum memahami kata-kata Bid`ah dengan sebenarnya. Tetapi, masalah ini insyaAllah akan kami akan buatkan sebuah pembhasan khusus. Madzhab memang tidak ada pada zaman Nabi, karena para sahabat berada bersama nabi. Apabila ada permasalahan, maka mereka akan bertanya langsung kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, mulailah muncul madzhab-madzah di kalangan sahabat. Dan yang terkenal di antaraanya adalah madzhab Abu Bakar, madzhab Umar, Utsman, Ali, Abdullah Bin Umar, Sayyidah `Aiysah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Mas`ud, dll. Demikian juga pada masa Tabi`in. Madzhab-madzhab telah bermunculan ketika itu, seperti madzhab Az-Zuhri, Hasan al-Bashri, Salim Bin Abdallah, Urwah Bin Zubair, dll. Imam Abu Hanifah juga tergolong Tabi`in yang memiliki Madzhab yang diikuti, begitu pula Imam Malik. maka jelaslah bahwa mengikuti madzhab yang ada dan diakui oleh ulama bukan hal yang bid`ah, jikalau hal tersebut bid`ah, niscaya para sahabat termasuk ahli bid`ah. Masalah keempat 4 – Larangan ulama Madzhab kepada murid-muridnya agar jangan mengikuti mereka adalah hal yang tidak benar, sebab seluruh perkataan ulama Madzhab telah dirubah pemahamannya oleh orang tertentu. mari kita lihat sebagian kata-kata Imam Syafi`i` dan kisah Imam Malik. A – Kisah Imam Malik berserta Khalifah Abu Ja`far al-Manshuri. Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Waqidi, beliau berkata : Aku mendengar Malik Bin Anas berkata : ” ketika Abu Ja`far al-Manshur melaksanakan hajji, beliau memanggilku, maka aku bertemu dan bercerita dengannya, beliau bertanya kepadaku dan aku menjawabnya, kemudian Abu Ja`far berkata : ” Aku bermaksud untuk menulis kembali kitab yang telah kamu karang yaitu Muwaththa`, kemudian aku akan kirim keseluruh penjuru negeri islam, dan aku suruh mereka mengamalkan apa yang terkandung didalamnya, dan tidak mengamalkan yang lainnya. Dan meninggalkan semua ilmu-ilmu yang baru selain ” Muwaththa`, karena Aku melihat sumber ilmu adalah riwayat ahli Madinah dan ilmu mereka. Dan aku pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, Janganlah kamu buat seperti itu, karena orang-orang sudah memiliki pendapat sendiri, dan telah mendengarkan hadits Rasul, dan mereka telah meriwayatkan hadits-hadits yang ada, dan setiap kaum telah mengambil dan mengamalkan apa telah diamalkan pendahulunya, dari perbedaan pendapat para shahabat dan selain mereka, jika menolak apa yang mereka percayakan itu sangat berbahaya, biarlah mereka mengamalkan apa yang telah mereka amalkan dan mereka pilih untuk mereka”, berkata Abu J`afar: “Kalaulah engkau suruh aku untuk membuat seperti itu niscaya aku akan laksanakan.” Dalam riwayat yang lain Imam Malik berkata : Wahai Amirul Mukminin Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah berpencar diberbagai negeri, orang-orang telah mengikuti madzhab mereka, maka setiap golongan berpendapat mengikuti madzhab orang yang diikuti. ( al-Intiqa : 41 , Imam Darul Hijrah Malik Bin Anas : 78 ). Lihat bagaimana Imam Malik menjawab permintaan Khalifah Abu Ja`far. Beliau tidak melarang orang-orang untuk bertaqlid pada Madzhab yang mereka akui. Sebab pada masa itu madzhab fiqih sangat berkembang sekali. Seperti di Iraq madzhab Imam Abu Hanifah, Di Syam berkembang Madzhab Imam Auza`i, di Mesir berkembang madzhab Imam Laits Ibnu Sa`ad, dan masih banyak lagi madzhab-madzhab yang berkembang saat itu. Bahkan beliau menyarankan kepada Khalifah agar mereka dibenarkan untuk mengikuti madzhabnya masing-masing. B – Perkataan Imam Syafi`i : المزني ناصر مذهبي Artinya : Al-Muzani itu adalah penolong ( dalam menyebarkan ) madzhabku ( Lihat Siyar `Alam an-nubala` li adz-Dzahabi : 12/493, Thabqatu Syafi`iyah al-Kubra Li as-Subki : 1/323, terbitan Dar kutub ilmiyah ). Dari perkataan Imam Syafi`i diatas sangat jelas sekali bahwa beliau tidak melarang seorangpun untuk mengikuti madzhabnya, bahkan beliau mengatakan kepada murid-muridnya bahwa al-Muzani adalah seorang penolong dan penyebar madzhab Syafi`i. Apabila beliau melarang untuk mengikuti madzhabnya tentu beliau tidak mengatakan perkataan tersebut. Diriwayatkan Imam al-Khatib didalam karangannya ” al-Faqih wa al-Mutafaqih ( 2 / 15 -19 ) ” cerita yang sangat panjang sekali tentang Imam al-Muzani seorang pewaris ilmu Imam Syafi`i, didalam akhirnya beliau mengungkapkan perkataan al-Muzani : ” Lihatlah apa yang kau tulis dari apa yanh ku ajarkan, tuntutlah ilmu dari seorang yang Faqih, maka kamu akan menjadi Faqih “. Dari perkataan Imam al-Muzani yang memerintahkan muridnya untuk melihat apa yang beliau sampaikan, beliau tidak memerintahkan mereka untuk melihat kepada Hadits, karena hadits tidak boleh difahami dengan sebenarnya hukum yang terdapat didalamnya kecuali oleh seorang yang Faqih. Dan memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu kepada seorang yang Faqih bukan hanya untuk mengetahui hadits semata, sebab puncak ilmu hadits adalah Fiqih. Apabila bermadzhab itu dilarang, tentu Imam al-Muzani akan melarang muridnya untuk mengikuti apa yang beliau ajarkan, melainkan memerintahkan mereka mengambil hukum secara langsung dari al-Qur`an. Masalah kelima 5 – Pendapat yang mengatakan bahwa bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti menolak Sunnah Rasulullah adalah pendapat yang tidak benar dan tidak berasas. Sebab seluruh ulama Mujtahid sangat berpegang teguh dalam mengamalkan sunnah Nabi SAW, mereka telah menjadikan al-Hadits sebagai sumber kedua setelah al-Qur`an, dan kedudukan al-Hadits sangat tinggi dalam pandangan mereka. Sebagian orang salah memahami perkataan Imam-imam Mujtahid seperti Imam Syafi`i dalam perkataanbeliau : إذا وجدتم حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم على خلاف قولي فخذوا به ودعوا ما قلت Artinya : Apabila kamu dapati perkataanku menyalahi perkataan Rasulullah SAW maka tinggalkanlah perkataanku dan ambillah Hadits Rasul.. Perlu kita ketahui pemahaman yang mengatakan bahwa Imam Syafi`i melarang mengikuti pendapatnya adalah pemahaman yang salah, karena ungkapan Imam Syafi`i tersebut memiliki pemahaman sebagai berikut . A – Kamu boleh mengikuti pendapatku selama pendapatku tidak bertentangan dengan Hadits Rasulullah. B – Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukkan Hadits Nabi SAW dalam pandangan Imam Syafi`i. C – Karena begitu besarnya kedudukan Hadits di hadapan Imam Syafi`i sehingga beliau menjadikan al-Hadits adalah sumber kedua didalam madzhabnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mungkin mendahulukan pendapatnya dari pada Hadits Rasul, kecuali apabila hadits tersebut tidak dianggap shahih dan memiliki beberapa sebab sehingga tidak boleh mengamalkannya, sebab tidak seluruh Hadits shahih boleh diamalkan. D – Imam Syafi` hanya berpegang dengan hadits yang shahih menurut pandangannya, bukan hadits mansukh, atau hadits yang memiliki permasalahan dan `illat, karena beliau adalah seorang ahli hadits yang masyhur. Masalah keenam 6 – Adapun ungkapan saudara yang mengatakan pada zaman sekarang ini sebenarnya semakin mudah untuk menjadi mujtahid karena banyaknya buku yang dicetak, berbeda dengan zaman dahulu, adalah ini tidak benar, bahkan menyalahi kenyataan yang ada. Coba kita lihat penyebab mengapa pada zaman ini sukar untuk menjumpai seorang mujtahid. A – Tidak keseluruhan kitab telah dicetak dan disajikan kepada kita. Terbukti masih banyak lagi kitab ulama-ulama muslim yang tersebar dalam bentuk Makhthuthath ( Munuskrip ) di negeri Erofah, Mesir, Turki, Saudi Arabiyah, Pakistan, Hindia dan lain-lain. B – Banyaknya kitab-kitab hadits yang hilang dan tidak ditemui pada saat sekarang ini disebabkan berbagai kejadian, seperti pembakaran kitab-kitab pada masa Monggolia menyerang Baghdad dan membakar seluruh kitab-kitab Islam, penghancuran Negeri Islam di Andalusia, dan lain-lain. Maka bisa saja hal ini boleh kita ketahui jika kita mentakhrij hadits, dan ingin melihat dari sumber aslinya, tetapi tidak diketemukan. C – Pada zaman sekarang orang belajar ilmu menurut bidangnya masing-masing. Pelajar yang di Kuliah Syari`ah tidak mempelajari ilmu musthalah hadits secara mendalam, pelajar yang Kuliah Usuluddin tidak mempelajari Usul Fiqih dan Fiqih secara mendalam, pelajar Lughah bahkan sangat sedikit sekali mempelajari bidang ilmu fiqih dan hadits, dari cara belajar seperti ini bagaimana akan menjadi mujtahid? D – Tidak adanya (langka) pada zaman sekarang orang dapat digelar al-Hafizh. Ini membuktikan betapa buruknya prestasi kita dalam bidang hadits dibandingkan dengan zaman-zaman sebelum kita. Bagaimana mau menjadi mujtahid hadits pun tidak hapal? Kalaulah dalam ilmu hadits saja kita belum mampu menjadi al-Hafizh bagaimana pula ingin menjadi al-Mujtahid? e – Tetapi yang sangat lucunya yang ingin jadi mujtahid itu sekarang terdiri dari pelajar-pelajar kedoktoran,insinyur, mekanik, yang bukan belajar khusus tentang agama. Kalau pelajar agama saja tidak sampai kepada mujtahid bagaimana lagi dengan pelajar yang bukan khusus mempelajari agama? Kalau pun jadi mujtahid pasti mujtahid gadungan ( penipuan ). Cobalah renungkan cerita Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya al-Muswaddah : 516, dan diungkapkan oleh muridnya Ibnu Qayyim. Dari Imam Ahmad, ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad: “Apabila seseorang telah menghapal hadits sebanyak seratus ribu hadits, apakah dia sudah dikira (dianggap) Faqih?” Imam Ahmad menjawab: “Tidak dikira (dianggap) Faqih,” berkata lelaki tersebut : ” jika dia hapal dua ratus ribu hadits ? “, Imam Ahmad menjawab : ” tidak disebut Faqih “, berkata lelaki tersebut : ” jika dia telah menghapal tiga ribu hadits ?”, Imam Ahmad menjawab : ” tidak juga dikira Faqih”, berkata lelaki tersebut : ” Jika dia telah menghapal empat ratus ribu hadits?” Imam Ahmad menjawab secara isyarat dengan tangannya dan mengerakkannya, maksudnya, mungkin juga disebut Faqih berfatwa kepada orang dengan ijtihadnya. Cobalah renungkan dimana kedudukan kita dari Faqih dan al-Mujtahid, agar tahu kelemahan kita dan kebodohan kita. E – Memang ada kitab-kitab yang dapat membantu kita agar dapat berijtihad. Tetapi yang jadi permasalahannya, apakah kita mampu benar-benar memahami apa yang kita baca? Apakah yang kita fahami sesuai dengan pemahaman ulama-ulama pada masa salafussalihin? Sebab membaca hadits dengan sendirian tanpa bimbingan seorang guru akan membawa kepada kesesatan, sebagaimana pesan ulama-ulama agar mengambil ilmu dari mulutnya ulama yang ahli. خذوا العلم من أفواه العلماء Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama. Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits: الحديث مضلة إلا للعلماء Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang ( yang membacanya ) kecuali bagi para ulama Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah ( seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i ) : الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 ) Masalah ketujuh 7 – Apa yang saudara ungkapkan bahwa ulama mujtahid adalah manusia biasa yang mungkin saja salah dalam perbutan atau pemahaman adalah benar, tetapi sangat salah sekali jika saudara menyangka bahwa mereka yang berijtihad tidak boleh diikuti karena mereka manusia biasa. Yang sangat jelasnya, mereka bukan nabi, dan juga bukan bertarap seperti anda, tidak ada seorang ulama yang hidup sekarang ini yang mampu menandingi ilmunya Imam Abu Hanifah, Imam Malik Bin Anas, Imam Syafi`i, Imam Ahmad. Berkata Imam adz-Dzahabi mengungkapkan didalam kitabnya at-Tadzkirah : 627-628 , diakhir ceritanya dari generasi muhaddits yang kesembilan diantara tahun 258 H – 282 H, beliau berkata : “Wahai syeikh lemah lembutlah pada dirimu, senantiasalah bersikap adil, janganlah memandang mereka dengan penghinaan, jangan kamu menyangka muhaddits pada masa mereka itu sama dengan muhaddits pada masa kita ( maksudnya dari masa 673 H – 748 H ), sama sekali tidak sama. Tidak ada seorang pun pembesar Muhaddits pada masa kita yang sampai kedudukkannya seperti mereka didalam keilmuan.” Dari ungkapan Imam adz-Dzahabi diatas memberikan pengertian bahwa ilmu kita memang tidak setarap dengan para ulama-ulama mujtahid pada zaman dahulu. Jadi jikalau mereka berijihad ternyata salah di dalam ijtihadnya, maka mereka akan mendapat satu pahala dan tidak mendapat dosa. Bagaimana dengan anda yang tidak sampai kepada derajat ijtihad kemudian berijtihad menurut kemampuan anda? Maka kesalahan anda akan lebih banyak dibandingkan dengan ulama-ulama mujtahid yang terdahulu. Dengan begitu seseorang yang memang sudah sampai kepada derajat mujtahid, apabila benar ijtihadnya maka akan mendapatkan dua pahala. Jika salah dalam berijtihad maka mendapat satu pahala saja. Tetapi jika anda yang belum sampai kepada tahap mujtahid berijtihad dan tersalah dalam ijtihadnya, maka anda akan mendapatkan dosa, karena berijtihad dengan kebodohan. Masalah kedelapan 8 – Adapun ungkapan anda tentang hadits yang Shahih wajib diamalkan secara langsung adalah salah satu kesalahan. Sebab tidak semua hadits yang shahih dapat diamalkan secara lansung, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki `illat yang sangat samar sekali. Kemungkinan hadits shahih tersebut dimansukhkan, atau haditsnya muthlaq kemudian dimuqayyadkan dan lain-lain. Penulis ( insyaallah ) akan membahas permasalahan ini secara khusus . Pada zaman sekarang ini telah banyak kita lihat golongan yang anti dan berusaha untuk menyerang dan membasmi madzhab-mahzhab yang masyhur. Dengan alasan (jargon) kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan sunnah bukan berpegang teguh dengan madzhab. Tidak pernah kita dapati di dalam al-Qur`an atau di dalam hadits Rasulullah untuk menyuruh kita bermadzhab. Bahkan para pendiri madzhab sendiri pun melarang mengikuti jejak mereka, demikian kata mereka. Hal ini sangat aneh sekali, mereka mati-matian mengajak orang agar meninggalkan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Ahmad, tetapi mereka juga sengaja menarik orang untuk mengikuti pemikiran dan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Apakah mereka tidak tahu bahawa mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah juga disebut mengikuti madzhab? Atau mungkin mereka terlupa, juga mungkin karena ta’asub yang berlebih-lebihan terhadap Ibnu Taimiyah? Atau juga mungkin hasad dan dengki dengan pendiri para Madzhab? Kalau tidak sebab-sebab itu niscaya mereka tidak akan keberatan terhadap seseorang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, atau Syafi`i. Kenyataan ini telah kita lihat sendiri, jikalau kita kata Ibnu Taimiyah saja yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah, maka maknanya madzhab-madzhab yang lain tidak benar. Sebab menurut pandangan mereka ( orang yang tidak bermazhab atau golongan Wahabi ) bahwa Taimiayah yang benar. Disini mereka terlupa bahwa Ibnu Taimiyah seorang manusia bukan seorang nabi yang tidak berdosa. Wajarkah kita larang seseorang bermadzhab, sementara kita sendiri mengikuti madzhab seseorang? Jikalau kita sebutkan seperti ini maka mereka tidak akan mengaku dengan sebenarnya. Bahkan mencoba untuk memutar balikkan Fakta, dengan ucapan kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah. Tetapi yang menjadi pertanyaan dibenak hati saya adalah apakah pendiri-pendiri Mazhab tidak mengikuti al-Qur`an dan al-Sunnah? Tentu mereka menjawab ” Sudah tentu para pendiri madzhab mengikut al-Qur`an dan as-Sunnah tetapi mereka manusia yang mungkin memiliki kesalahan”. Jadi menurut mereka ( para anti mazhab ) karena adanya kesalahan pada ulama mujtahid maka mereka sendiri mengambil al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Ini akan membuktikan mereka tidak akan tersalah dalam menentukkan hukum dalam berijtihad? Jikalau sekiranya mereka sadar diri dengan kemampuan meraka niscaya mereka akan berpegang teguh dengan mana-mana mazhab yang empat. Pada kesempatan ini saya hanya mencoba untuk memaparkan beberapa dalil yang menjadi pegangan masyarakat awam dalam mengikuti madzhab yang empat, beserta makna dan tujuan ” Madzhab ” dan bila timbulnya madzhab. Dalam kesempatan lain insyaallah saya akan ketengahkan segala dalil-dali yang membatalkan anggapan-anggapan bahwa mengikuti mazhab adalah bid`ah. Pengertian Madzhab Kalimat Madzhab berasal dari bahasa Arab yang bersumberkan dari kalimat Dzahaba, kemudian diobah kepada isim maf`ul yang berarti, Sesuatu yang dipegang dan diikuti. Dalam makna lain mana-mana pendapat yang dipegang dan diikuti disebut madzhab. Dengan begitu madzhab adalah suatu pegangan bagi seseorang dalam berbagai masalah, mungkin lebih kita kenal lagi dengan sebutan aliran kepercayaan atau sekte, bukan hanya dari permasalahan Fiqih tetapi juga mencakup permasalahan `Aqidah, Tashawuf, Nahu, Shorof, dan lain-lain. Di dalam Fiqih kita dapati berbagai macam madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi`i. Di dalam ‘Aqidah kita dapati madzhab `Asya`irah, Maturidiyah, Muktazilah, Syi`ah. Di dalam Tashawuf kita dapati madzhab Hasan al-Bashri, Rabi`atu adawiyah, Ghazaliyah,Naqsabandiyah, Tijaniyah, dll. Di dalam Nahu kita dapati madzhab al-Kufiyah dan madzhab al-Bashriyah. Tumbuhnya Madzhab Fiqih Pada zaman Rasulullah SAW ”madzhab” belum dikenal dan digunakan karena pada zaman itu Rasul masih berada bersama sahabat. Jadi jika mereka mendapatkan permasalahan maka Rasul akan menjawab dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, para shahabat telah tersebar diseluruh penjuru negeri Islam, sementara itu umat Islam dihadirkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut para shahabat berfatwa untuk menggantikan kedudukan Rasul. Tetapi tidak seluruh shahabat mampu berfatwa dan berijtihad, sebab itulah terkenal di kalangan para sahabat yang berfatwa di tengah sahabat-sahabat Rasul lainnya. Sehingga terciptanya Mazhab Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Sayyidah `Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Mas`ud dan yang lainnya. Kenapa shahabat-sahabat yang lain hanya mengikuti sahabat yang telah sampai derajat mujtahid, karena tidak semua sahabat mendengar hadits Rasul dengan jumlah yang banyak, dan derajat kefaqihan mereka yang berbeda-beda. Sementara Allah telah menyuruh mereka untuk bertanya kepada orang yang `Alim diantara mereka. فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون Artinya : Hendaklah kamu bertanya kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui. Pada zaman Tabi`in timbul pula berbagai macam madzab yang lebih dikenal dengan madzhab Fuqaha Sab`ah ( Madzhab tujuh tokoh Fiqih) di kota Madinah, setalah itu bermunculanlah madzhab yang lainnya di negeri islam, seperti madzhab Ibrahin an-Nakha`i, asy-Syu`bi, dan masih banyak lagi. Sehingga timbulnya madzhab yang masyhur dan diikuti sampai sekarang yaitu Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah, Hanabilah, madzhab ini dibenarkan oleh ulama-ulama untuk diikuti karena beberapa sebab : 1 – Madzhab ini disebarkan turun-temurun dengan secara mutawatir. 2 – Madzhab ini di turunkan dengan sanad yang Shahih dan dapat dipegang . 3 – Madzhab ini telah dibukukan sehingga aman dari penipuan dan perobahan . 4 – Madzhab ini berdasarkan al-Qur`an dan al-Hadits, selainnya para empat madzhab berbeda pendapat dalam menentukan dasar-dasar sumber dan pegangan . 5 – Ijma`nya ulama Ahlus Sunnah dalam mengamalkan empat madzhab tersebut. Semoga bermanfaat

WAHHABI DI MATA ULAMA MADZHAB


Mayoritas ulama Islam yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyah dan yang datang sesudahnya mengecam dan menolak pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya (ajaran Salafi). Penolakan ini dikarenakan ajaran Salafi tersebut dianggap sudah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya. Sayyid Hasan bin Ali al-Saqaf, dalam kitab beliau, as-Salafiyah al-Wahabiyah,[1] telah menyebut tokoh-tokoh ulama yang menolak dan mengecam ajaran Salafi, antara lain : 1. Al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Taqiyuddin ‘Ali ibn ‘Abd al-Kafi al-Subki. Diantara karya beliau dalam rangka menolak pendapat ajaran Salafi, yaitu : a. Al-Saif al-Saqiil fi al-Rad ‘ala Ibnu Zufiil b. Ad-Durrah al-Mudliyyah Fi al-Radd ‘ala Ibn Taimiyyah. c. Syifa’ as-Saqam Fi Ziyarah Khair al-Anam d. Dan lain-lain 2. Hafidh Ibnu Daqiq al-‘Id al-Syafi’i al-Maliki (W. 702 H). Beliau menolak pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa Nau’ al-alam (hakikat alam) adalah qadim. 3. Al-Hafizh Al-Zahabi al-Syafi’i (W.748 H). Diantara karya beliau dalam rangka menolak pendapat ajaran Salafi, yaitu : a. Al-Nashihah al-Zahabiyah (dalam bentuk risalah yang dikirim langsung kepada Ibnu Taimiyah) b. Al-I’lan bil Taubikh c. Bayan Zaghl al-Ilm wal-Thalb 4. Al-Qadhi Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah al-Syafi’i (W. 733 H) 5. Al-Qadhi Muhammad bin al-Hariry al-Anshari al-Hanafi 6. Al-Qadhi Muhammad bin Abu Bakar al-Maliki 7. Al-Qadhi Ahmad bin Umar al-Muqdisy al-Hanbaly (Ibnu Taimiyah dipenjara pada tahun 726 H, berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh empat orang qadhi ini, yaitu yang tersebut namanya pada no. 4,5,6, dan 7) 8. Qadhi dari negeri Mesir, Ahmad bin Ibrahim al-Saruji al-Hanafi (W. 710 H) 9. Qadhi dari kalangan Mazhab Maliki (W. 718 H) 10. ‘Alamah Ali bin Ya’qub al-Bakri (W. 724 H) 11. ‘Alamah Syamsuddin Muhammad bin ‘Adlan al-Syafi’i (W. 749 H) 12. Al-Imam Shadruddin Ibnu al-Wakil, terkenal dengan nama Ibnu al-Murhil al-Syafi’i 13. Al-Imam al-Alamah Ahmad bin Yahya al-Kalaby al-Halaby (W. 733 H). 14. Qadhi ‘Alamah Shafiuddin al-Hindy (W. 715 H). Beliau pernah berdebat langsung dengan Ibnu Taimiyah dalam beberapa masalah 15. Qadhi Kamaluddin bin al-Zamlakany (W. 728 H). Beliau pernah berdebat langsung dengan Ibnu Taimiyah dan menulis kitab menolak pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah ziarah qubur dan thalaq. 16. Al-Hafizh Mufassir al-Lughawy Abu Hayyan al-Andalusy (W. 745 H). beliau menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa beliau pernah melihat sendiri tulisan yang ditulis dengan tangan Ibnu Taimiyah yang didalamnya berisi bahwa Ibnu Taimiyah menetapkan i’tiqad bahwa Tuhan duduk di atas ‘arasy. 17. Al-Imam Ali bin Muhammad al-Baji al-Syafi’i (W. 714 H) 18. Al-Muhaddits Ahli sejarah, al-Fakruddin bin al-Mu’allim al-Quraisyi (W. 725 H). Beliau menolak Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau, Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi. 19. ‘Alamah Muhammad bin Ali al-Maziny al-Duhan al-Damsyiqy (W. 721 H). Beliau menolak Ibnu Taimiyah dalam dua risalah beliau, yaitu Risalah Ziarah Qubur dan Risalah Thalaq 20. Al-Imam Abu Qasim Ahmad bin Muhammad al-Syairazy (W. 733 H). Beliau pernah mengarang sebuah risalah dalam rangka menolak pendapat Ibnu Taimiyah 21. Al-Imam Jalaluddin al-Quzuwainy al-Syafi’i (739 H). 22. ‘Alamah ‘Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamany (W. 768 H). Karya beliau dalam menolak Ibnu Taimiyah antara lain, Marrahum al-‘Ilal al-Mu’izzhillah. 23. Al-Imam al-Muhadits Tajuddin Abdulwahab bin Ali al-Subky (W. 771 H). Dalam kitab beliau, al-Thabaqaat al-Syafi’iyah al-Kubraa banyak penjelasan-penjelasan penolakan terhadap Ibnu Taimiyah. 24. ‘Alamah Ahli sejarah, Ibnu Syakir al-Kataby (W. 764 H). Diantara kitab beliau adalah ‘Uyun al-Tawarikh 25. ‘Alamah al-Faqih Umar bin Abi al-Yaman al-Lakhmy al-Fakihy al-Maliky (W. 734 H). Beliau ini telah menolak pendapat Ibnu Taimyah dalam kitab beliau, al-Tuhfah al-Mukhtarah fil-Radd ‘ala Munkir al-Ziyarah 26. ‘Alamah Isa al-Zawawy al-Maliki (W. 743 H). Beliau mempunyai karya sebuah risalah menolak Ibnu Taimiyah mengenai ziarah qubur 27. Al-Qadhi al-‘Alamah Muhammad al-Sa’ady al-Akhna’i al-Mishry (W. 750 H). Beliau mengarang sebuah kitab berjudul al-Maqalaat al-Mardhiyah fil-Radd ‘ala Man Yunkiru al-Ziyarah al-Muhammadiyah. Kitab ini dicetak bersama kitab al-Barahin al-Sathi’ah karya al-‘Azamy 28. Al-‘Alamah al-Muhaqqiq Ahmad bin Utsman al-Turkimany al-Jauzajany al-Hanafi (W. 744 H). Beliau mengarang sebuah risalah khusus dalam rangka menolak Ibnu Taimiyah dengan judul al-Abhatsu al-Jaliah fil-Radd ‘ala Ibnu Taimiyah 29. Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany al-Syafi’i (W. 852 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau, Fathul Barri dalam hal fatwa Ibnu Taimiyah mengenai ziarah qubur dan tidak ada awal benda yang bahru. 30. Al-Hafizh al-Kabir Zainuddin Abdurrahim al-Iraqi. Beliau ini merupakan guru dari al-Hafizh Ibnu Hajar, Waliuddin al-Iraqi (anak beliau sendiri) dan al-Haitsamy (W. 806 H). Syekh al-Nabhany dalam Syawahid al-Haq menjelaskan bahwa beliau pernah membaca sebuah karangan kecil karya Zainuddin al-Iraqi yang berisi penolakan pendapat Ibnu Taimiyah mengenai masalah yang berhubungan dengan hari ‘Asyura 31. Anak dari Zainuddin al-Iraqi, Waliuddin al-Iraqi (W. 826 H). Beliau banyak mengkritik fatwa Ibnu Taimiyah yang menyalahi dengan ijmak dalam kitab al-Ajwabah al-Mardhiyah fil Radd ‘ala al-As’alah al-Makkiyah 32. Ahli Sejarah, ‘Alamah Ibnu Qadhi Syabhah al-Syafi’i (851 H) 33. Al-Imam al-Alamah Taqiyuddin al-Hishny al-Husainy al-Syafi’i (W. 829 H). Beliau menolak pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau, Daf’u Syabbah Man Syabbaha wa Tamarrad. (Beliau meruapakan pengarang kitab fiqh Syafi’i yang sangat terkenal di kalangan Mazhab Syafi’i di Indonesia, yaitu Kifayah al-Akhyar) 34. Al-Imam Ibnu ‘Arafah al-Tunisiy al-Maliki (W. 803 H) 35. Al-Imam al-Alamah ‘Ilauddin al-Bukhari al-Hanafi (W. 841 H). Beliau ini merupakan murid dari al-Sa’ad al-Tafazaany. 36. Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Farghany al-Hanafi al-Damsyiqi (W. 867 H). Beliau mengarang sebuah kitab khusus menolak pendapat Ibnu Taimiyah dengan judul al-Radd ‘ala Ibnu Taimiyah fil-I’tiqaad 37. Syaikh al-Arif billah Ahmad Zaruuq al-Faasi al-Maliki (W. 899 H). Beliau menolak pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau, Syarh Hizb al-Bahr 38. Al-Alamah al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitamy al-Syafi’i. Beliau telah mengutip dan mencela pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauzy yang menyalahi ijmak ulama dalam kitab beliau, al-Fatawa al-Haditsah 39. Syaikh al-‘Alamah Mala Ali al-Qary al-Hanafi (W. 1014 H). Beliau mengatakan dalam kitab Syarh al-Syifa bahwa Ibnu Taimiyah telah melenceng dari Mazhab Hanbali dalam hal pengharaman Ibnu Taimiyah terhadap ziarah qubur Nabi SAW 40. Syaikh al-‘Alamah al-Muhaddits Abdurrauf al-Munawy al-Syafi’I (W. 1031 H). Beliau telah mencela Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau, Faid al-Qadir dan Syarh al-Syamail lil Turmidzi 41. Al-Muhaddits Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alaan al-Shiddiqi al-Makky (W. 1057 H). 42. Syihabbuddin Ahmad al-Khafaji al-Hanafi (W. 1069 H) 43. Syaikh Abdul Ghany al-Nabalusy (W. 1143 H). Beliau telah mencela Ibnu Taimiyah dalam banyak kitabnya 44. Al-“Alamah al-Faqih Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy al-Syafi’i al-Madany. 45. Syaikh al-‘Alamah Abdullah bin Abdul Lathif al-Syafi’i. Diantara karya beliau, Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’i al-ijtihad 46. ‘Afifuddin Abdullah bin Daud al-Hanbali. Beliau menolaqk ajaran Salafi dalam kitab beliau al-Shawa’iq wal- Ru’ud 47. Al-‘Alamah al-Muhaqqiq Muhammad bin Abdurrahman bin ‘Afaaliq al-Hanbali. Beliau mengarang kitab Tahakum al-Muqallidin bi Man Idda’a Tajdid al-Din untuk menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab 48. Al-‘Alamah Ahmad bin Ali al-Qabany al-Bashry al-Syafi’i. Beliau menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab dengan mengarang sebuah risalah, Fasl al-Khithab fi Radd Dhalaat Ibnu Wahab 49. ‘Alamah Barkaati al-Ahmady al-Syafi’i al-Makki 50. ‘Alamah Syaikh ‘Itha’ al-Hindi al-Makky. Beliau menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab dengan karya beliau, al-Sharim al-Hindi fi ‘Anaq al-Najdy 51. ‘Alamah Syaikh Abdullah bin ‘Isa al-Muwaisy 52. Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ihsa’i 53. Seorang alim yang tidak dikenal dari Baitul Maqdis menulis sebuah risalah dengan judul al-Suyuf al-Saqal fi A’naq Man Ankara ‘ala Auliya ba’da al-Intiqal 54. Al-‘Alamah al-Syarif al-Sayyid ‘Alawy bin Ahmad al-Hadad al-Ba’alawy. Beliau menolak ajaran Salafi dalam risalah beliau, al-Saif al-Batir li ‘Anaq al-Munkir ‘ala al-Akabir 55. Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif al-Ihsaiy 56. ‘Alamah Abdullah bin Ibrahim Miraghi. Beliau menolak ajaran Salafi dengan karya beliau, Tahridh al-Aghniya’ ‘ala al-istighatsah bil Anbiya wal-Auliya 57. Syaikh Muhammad Saleh Zamzami al-Syafi’i al-Makki 58. Syaikh Thahir Subul al-Hanafi, dalam karya beliau, al-Intishar lil Auliya al-Abrar 59. Syaikh Saleh al-Fulany al-Magriby 60. Al-‘Alamah al-Syarif Sayyid al-Alawi bin Thahir al-Hadad. Beliau menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab dalam karya beliau, Mishbah al-Anam wa Jala’u al-Dhalam fi Radd Syabhi al-Najdi allati Uzhilla al-‘Awam 61. Al-‘Alamah al-Muhaqqiq Ismail al-Tamimy al-Maliki al-Tunisiy 62. Al-‘Alamah al-Muhaqqiq Shaleh al-Kawaasyi al-Tunusiy, dalam risalah beliau, Musajja’ah Muhakkamah 63. Al-‘Alamah al-Muhaqqiq Sayyid Daud al-Baghdadi al-Hanafi. 64. Syaikh Ibnu Ghalibun al-Layyi. Beliau ini membuat qashidah untuk menolak qashidah berisi pujian terhadap Muhammad bin Abdul Wahab yang digubah oleh al-San’any 65. Al-‘Alamah Syaikh Ibrahim al-Samanudy al-Manshuri. Beliau ini mengarang kitab besar dalam dua jilid untuk menolak golongan Wahabi dan Dhahiri dengan judul, Sa’adah al-Daraini fi al-Radd ‘ala al-Firqaini al-Wahabiyah wa Muqallid al-Dhahiriyah 66. Syaikh al-Masyrafi al-Maliki al-Jazaairy, dalam kitab karya beliau, izhhar al-‘Uquq Mimman Mana’a al-Tawasul bil-Nabiyyi wal-Waliy al-Shaduq 67. Al-‘Alamah Syaikh al-Mahdi al-Wazitaany, seorang mufti negeri Fasi 68. Al-‘Alamah Syaikh Mushtafa al-Hamaamy al-Mishri, dalam kitab beliau, Ghauts al-‘Ibad Bayan al-Risyad 69. Syaikh Ibrahim Hilmy al-Qadiry al-Iskandary, dalam kitab beliau, Jalal al-Haq fi Kasyf Ahwal Asyrar al-Khalq (Diterbit di Iskandariyah pada tahun 1355 H) 70. Al-‘Alamah Syaikh Ibrahim al-‘Izamy (W. 1379 H). beliau mempunyai karya yang berisi penolakan terhadap ajaran Salafi dengan judul, al-Barahin al-Sathi’ah 71. Syaikh Hasan Khizbik, dalam tulisannya, al-Maqaalaat al-Wafiyah fi Radd ‘ala al-Wahabiyah 72. Syaikh ‘Itha’ al-Kasm al-Damsyiqi, mufti negeri Syam, dalam risalahnya, al-Aqwal al-Mardhiyah fi Radd ‘ala al-Wahabiyah 73. Sulaiman bin Abdul Wahab al-Najdy, saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabi). Beliau ini menolak pendapat saudaranya itu dalam kitab beliau, al-Shawaiq al-Ilahiyah fi Radd ‘ala al-Wahabiyah 74. Al-‘Alamah Jamil Shiddiqi al-Zahawy, dalam kitab beliau, al-Fajr al-Shadiq fil-Radd ‘ala Munkir al-Tawasul wal-Karamaat wal-Khawariq 75. Al-‘Alamah al-Faqih Mufti Syafi’iyah di Makkah, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, dalam kitab beliau, al-Durar al-Sunniyah fil- Radd ‘ala al-Wahabiyah 76. Syaikh Abd al-Muhshin al-Asyqiri al-Hanbali, dalam risalah beliau, al-Radd ‘ala al-Wahabiyah 77. Syaikh Ahmad Sa’id al-Sirhindi al-Naqsyabandy, dalam kitabnya, al-Haq al-Mubin fil-Radd ‘ala al-Wahabiyyiin 78. Al-Hafidh Muhammad Hasan al-Hanafi, dalam risalahnya, al-‘Aqaid al-Shahihah fi Tardid al-Wahabiyah al-Najdiyah 79. Al-‘Alamah Muhammad ‘Ithaillah al-Rumy, dalam risalahnya, al-Risalah al-Radiyah ‘ala Thaifah al-Wahabiyah 80. Syaikh Ibrahim al-Rawy, dalam risalahnya, al-Auraq al-Baghdadiyah 81. Syaikh Daud bin Sulaiman al-Baghdadi, dalam risalahnya, Shulh al-Ikhwan fil-Radd ‘ala Man Qala ‘ala al-Muslimin bil-Syirk wal-Kufraan dan al-Manhah al-Wahbiyah fi Radd al-Wahabiyah 82. Al-‘Alamah Syaikh Malik bin Syaikh Daud, dalam kitab beliau, al-Haqaiq al-Islamiyah fil-Radd ‘ala al-Muza’im al-Wahabiyah bi Adallah al-Kitab wal-Sunnah al-Nubuwwah 83. Syaikh Hamdullah al-Daajawy al-Hanafi al-Hindy, dalam kitab beliau, al-Basha’ir li Munkiry al-Tawasul bi Ahl al-Maqabir 84. Alamah Isa bin Muhammad al-San’any al-Yamany, dalam kitab al-Saif al-Hindy fi Ibanah Thariqah al-Syaikh al-Najdy 85. Al-‘Alamah Syarfuddin Ahmad bin Yahya al-Muniiry, dalam kitabnya, al-Iman wal-Islam 86. Syaikh Husain al-Hilmy bin Sa’id al-Istaanbuly, dalam kitabnya, Ulama al-Muslimin wal-Wahabiyyun 87. Syaikh Mustafa bin Ahmad bin Hasan al-Syatthi al-Hanbali, dalam kitabnya, al-Nuqul al-Syar’iyah fil-Radd ‘ala Wahabiyah 88. Syaikh ‘Ali Zain al-‘Abidin al-Sudany. Beliau ini mengarang kitab yang berisi penolakan terhadap ajaran Salafi dan Wahabi dengan judul, al-Bara-ah min al-Ikhtilaf fil-Radd ‘ala al-Syiqaq wal-Nifaq fil-Radd ‘ala al-Firqah al-Wahabiyah al-Dhallah 89. Sayyid Muhsin al-Amin, dalam kitabnya, Kasyf al-Irtiyab fi Atba’i Muhammad bin Abdul Wahab 90. Syaikh Muhammad Jawaad Mughniyah, dalam kitabnya, Hazihi hiya al-Wahabiyah 91. Mufti Negeri Mesir, Syaikh Muhammad Bukhit al-Muthi’i (W. 1354 H), dalam risalah beliau, Thathhir al-Fuad Min Dans al-I’tiqad 92. Al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsary al-Hanafi (W. 1371 H). Beliau banyak mengarang kitab dan risalah dalam menolak Ibnu Taimiyah, diantaranya : a. Tabdid al-Dhalam al-Mukhim Min Nauniyah Ibnu Qaiyyim b. Maqaalaat al-Kautsary (kumpulan makalah) 93. Al-‘Alamah Syaikh Muhammad al-Araby al-Tibany (W. 1390 H). karangan beliau dalam menolak ajaran Salafi antara lain : a. Al-Ta’aqqub al-Syadid ‘ala Hudaa al-Zar’i al-‘Anid b. Bara-ah al-Asy’aryiin Min ‘Aqaid al-Mukhalifiin 94. Syaik Manshur Muhammad ‘Awis, seorang ulama yang hidup semasa dengan Syaikh al-Kautsary. Beliau mengarang sebuah kitab dengan judul, Ibnu Taimiyah laisa Salafiyan. 95. Al-‘Alamah Yusuf al-Dajwy dari pembesar ulama al-Azhar, dalam kitabnya, Shawaiq Min al-Nar ‘ala Shahib al-Manar 96. Al-Hafidh al-Muhaddits al-Syarif Ahmad bin Muhammad bin al-Shadiq al-Ghumary al-Hishny (W. 1380 H). 97. Al-Imam al-Muhaddits al-Syarif Abdullah bin al-Shadiq al-Ghumary al-Hishny (W. 1413 H). Beliau dalam menolak pendapat Nashruddin al-Bany, pemuka kaum Salafi zaman kini dalam kitabnya, al-Radd al-Muhkim al-Matin dan al-Qaul al-Muqna’ fil-Radd ‘ala al-Bany 98. Al-‘Alamah al-Syarif Muhammad Zamzamy Ibnu al-Shadiq al-Ghumary al-Hishny (W. 1407 H). Beliau dalam menolak pendapat Nashruddin al-Bany, pemuka kaum Salafi zaman kini dalam kitabnya, al-Munadharah ma’a al-Bany 99. Al-Muhaddits al-‘Alamah al-Syarif Abdul Aziz bin al-Shadiq al-Ghumary al-Hishny (W. 1417 H). Dalam rangka menolak pendapat Nashruddin al-Bany, beliau telah mengarang kitab dengan judul Bayan Nakts al-Nakits al-Muta’addi bi Tazh’if al-Harits 100. Al-‘Alamah, Mufti negara Amman, Syaikh Ahmad bin Hamd al-Khalily 101. Syaikh al-Alamah al-Faqih Abdullah al-Habsyi al-Harary. Beliau yang berdomisili di Beirut ini mempunyai beberapa tulisan yang menolak ajaran Wahabi 102. Al-‘Alamah Syaikh Yusuf al-Nabhany. Beliau ini menolak aliran Salafi-Wahabi dalam kitab beliau Syawahid al-Haq H. Kholil Abou Fateh, Lc, MA, Dosen Unit Kerja Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebut beberapa nama ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari Indonesia yang menolak pendapat Salafi-Wahabi. Nama-nama ulama tersebut yaitu : 103. KH. Ihsan ibn Muhammad Dahlan Jampes Kediri, salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga, antara lain Siraj ath-Thalibin ‘Ala Minhaj al-‘Abidin Ila Jannah Rabb al-‘Alamin. 104. KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng Jombang. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia, perintis ormas Islam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Beliau merintis ormas ini tidak lain hanya untuk membentengi kaum Ahlussunnah Indonesia dari faham-faham Ibn Taimiyah yang telah diusung oleh kaum Wahhabiyyah. Karangan beliau antara lain ‘Aqidah Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah. 105. KH. Sirajuddin ‘Abbas, salah seorang ulama terkemuka Indonesia. Karya beliau antara lain I’tiqad Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah dan Empat Puluh Masalah Agama (terdiri dari empat jilid) 106. KH. ‘Ali Ma’shum Yogyakarta (W 1410 H), salah seorang ulama terkemuka Indonesia, dalam karya beliau, Hujjah Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah. 107. KH. Ahmad ‘Abd al-Halim Kendal, salah seorang ulama besar Indonesia. Karya beliau antara lain Aqa’id Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah. Ditulis tahun 1311 H 108. KH. Bafadlal ibn as-Syaikh ‘Abd asy-Syakur as-Sinauri Tuban. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga, antara lain Risalah al-Kawakib al-Lamma’ah Fi Tahqiq al-Musamma Bi Ahl as-Sunnah dan Syarah Risalah al-Kawakib al-Lamma’ah Fi Tahqiq al-Musamma Bi Ahl as-Sunnah. 109. KH. Muhammad Syafi’i Hadzami ibn Muhammad Saleh Ra’idi, salah seorang ulama betawi, pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta (1990-2000). Diantara karya beliau adalah Taudlih al-Adillah. 110. KH. Ahmad Makki ‘Abdullah Mahfuzh Sukabumi Jawa Barat. Di Aceh sendiri menurut riwayat dan pengamatan penulis sendiri yang pernah belajar di dayah Aceh selama sepuluh tahun, dapat dikatakan hampir semua ulama dayah sangat anti kepada ajaran Salafi-Wahabi. Diantara nama-nama ulama dayah tersebut antara lain : 111. Syaikh Abu Hasan Krueng Kalee 112. Syaikh Abuya Muda Wali al-Khalidy. Beliau seorang ulama besar Aceh yang banyak sekali melahirkan ulama-ulama yang terkenal di Aceh dan luar Aceh. Dalam kitab al-Fatawa, beliau menyerang faham Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dengan sangat tajam seperti mengenai talqin, kewajiban bermazhab dan lain-lain 113. Abu Abdul Wahab Seulimum 114. Abu Ishaq Ulhee Titi 115. Abon Aziz Samalanga 116. Abu Tanoh Mirah (Bireun) 117. Abu Adnan Bakongan 118. Prof. Dr. Teungku Muhibbudin Waly 119. Ustaz Abu Bakar Sabil dari Melaboh Aceh Barat 120. Abu Teunom dari Aceh Jaya 121. Abu Keumala (Medan) 122. Syaikh al-Jailany Musa al-Khalidy Kotafajar Aceh Selatan 123. Tgk H. Usman Fauzi (Lhong Ie, Banda Aceh) 124. Tgk Mohd Basyah Haspy Teunom (pengarang buku Shalat Tarawih dan Sejarahnya) 125. Abu Muhammad Zamzamy (Abu Ahmad Perti). Beliau yang merupakan guru besar penulis sendiri adalah pendiri Dayah Darul Mu’arrif Lam-Ateuk Aceh Besar. Dalam setiap pidato dan khutbahnya, beliau dengan sangat tajam menyerang paham Salafi-Wahabi ini. 126. Tgk Syam Marfali. Beliau ini seorang ulama dan orator ulung dari Blang Pidie Abdya, dimana dalam setiap kesempatan ceramahnya, beliau menyerang habis-habisan paham Salafi-Wahabi. 127. Dan hampir semua ulama dayah di Aceh dan ulama-ulama yang merupakan murid dari Abuya Syaikh Muda Wali, baik yang sudah almarhum maupun yang sudah meninggal, dapat dipastikan anti terhadap ajaran Salafi-Wahabi. Semoga bermanfaat,,,,,,takfiri

Bukti rekaman ustad ba’abduh sesatkan asatidz rodja


Postingan suwuk Fitnah atau fakta
============================
Maaf sebelumnya buat para facebooqiyah ikhwan akhwat kaum salafy entah antum yang Alfaqir tag baik dari kubu pengikut firanda (Rodjaiyah Halabi) maupun dari salafy pengikut Lukmaniyah (jamaah tadzir)..silakan antum saksisan sendiri video yg di sadur dg isi daurah Ustadz Lukman Ba’abduh .http://m.youtube.com/watch?v=_wV1pA6ZLq4

dalam vidio tersebut pada menit ke 11:58 detik keluar dari lisan beliau ustadz2 halaby dan salah satunya adalah pentolan rodja firanda yg di vonis halabi dan keluar dari manhaj salaf..Na’udzubillah ini adalah sesama salafy kenapa saling hujat dan saling vonis sesat??

pertanyaan dari Alfaqir sebenarnya salafy yg sejati itu yg mana/
kelompok Firanda atau Lukman?

========================
Butuh kejujuran dalam Menjawab pertanyaan Alfaqir…ya fillah Al’afu

DUSTA WAHABI CATUT KITAB I’ANATUHTHILIBIN


Dustanya wahabi terhadap Kitab I’anatuth Thalibin
( ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ) adalah kitab Fiqh karangan
Al‐‘Allamah Asy‐Syekh Al‐Imam Abi Bakr Ibnu As‐
Sayyid Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i,
yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in
tentang Tahlilan
“Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul
di rumah keluarga si mayit, dan
dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah,
yang akan diberi pahala bagi
orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan
kukuhlah kaidah‐kaidah agama, dan dengannya
dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth
Thalibin, 2/165)
Teks arabnya ;
( ﻧﻌﻢ، ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻊ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﮭﺎ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ )
Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran,
dimana orang yang membacanya akan mengira
bahwa berkumpul di tempat ahlu (keluarga) mayyit
dan memakan makanan yang disediakan adalah
termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti
itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. ‘Mereka’
telah menggunting (menukil secara tidak jujur)
kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang
dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur.
Padahal, yang benar, bahwa kalimat tersebut
merupakan jawaban atas pertanyaan yang
ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang
‘mereka’ nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”.
Berikut teks lengkapnya;
ﻭﻗﺪ ﺍﻃﻠﻌﺖ ﻋﻠﻰ ﺳﺆﺍﻝ ﺭﻓﻊ ﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﻣﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ
ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ . ﻭﺟﻮﺍﺏ ﻣﻨﮭﻢ ﻟﺬﻟﻚ .
‏(ﻭﺻﻮﺭﺗﮭﻤﺎ ‏) . ﻣﺎ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺩﺍﻡ ﻧﻔﻌﮭﻢ
ﻟﻼﻧﺎﻡ ﻣﺪﻯ ﺍﻻﻳﺎﻡ، ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﺓ
ﻟﻤﻦ ﺑﮭﺎ ﻣﻦ ﺍﻻﺷﺨﺎﺹ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ،
ﻭﺣﻀﺮ ﻣﻌﺎﺭﻓﻪ ﻭﺟﻴﺮﺍﻧﻪ ﺍﻟﻌﺰﺍﺀ، ﺟﺮﻯ
ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺑﺄﻧﮭﻢ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻭﻣﻦ ﻏﻠﺒﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﮬﻞ
ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﺘﻜﻠﻔﻮﻥ ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﺍﻟﺘﺎﻡ، ﻭﻳﮭﻴﺌﻮﻥ ﻟﮭﻢ
ﺃﻃﻌﻤﺔ ﻋﺪﻳﺪﺓ، ﻭﻳﺤﻀﺮﻭﻧﮭﺎ ﻟﮭﻢ ﺑﺎﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪﺓ . ﻓﮭﻞ ﻟﻮ
ﺃﺭﺍﺩ ﺭﺋﻴﺲ ﺍﻟﺤﻜﺎﻡ – ﺑﻤﺎ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﺑﺎﻟﺮﻋﻴﺔ،
ﻭﺍﻟﺸﻔﻘﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﮬﺎﻟﻲ – ﺑﻤﻨﻊ ﮬﺬﻩ ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﻟﻴﻌﻮﺩﻭﺍ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﺍﻟﻤﺄﺛﻮﺭﺓ ﻋﻦ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ
ﻭﺇﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺑﻪ ﺻﻼﺓ ﻭﺳﻼﻣﺎ، ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ : ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻵﻝ ﺟﻌﻔﺮ
ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﮬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ؟
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengenai
pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para
Mufti Mekkah ( ﻣﻔﺎﺗﻲ ﻣﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ) tentang apa yang
dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal
makanan (membuat makanan) dan (juga aku
perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut.
Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ;
pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitu mengenai
(bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya
( ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ) di negeri “al‐Haram”,
(semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka
untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang
kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa
jika ada yang meninggal , kemudian para
pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan
tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka
(pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan
karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu
(keluarga mayyit) maka mereka membebani diri
dengan beban yang sempurna ( ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﺍﻟﺘﺎﻡ ), dan
(kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan
yang banyak (untuk pentakziyah) dan
menghadirkannya kepada mereka dengan rasa
kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak
hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat
dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit melarang
(mencegah) permasalahan tersebut secara
keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang
kepada As‐Sunnah yang lurus, yang berasal dari
manusia yang Baik ( ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ ) dan (kembali)
kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam
atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan
untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi
pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang
disebutkan (pelarangan itu) ?
ﻭﺣﺪﻩ‏) ﻭﺻﻠﻰ ﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﺃﻓﻴﺪﻭﺍ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺏ ﺑﻤﺎ ﮬﻮ ﻣﻨﻘﻮﻝ ﻭﻣﺴﻄﻮﺭ . ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ
ﻧﮭﺠﮭﻢ ﺑﻌﺪﻩ . ﺍﻟﻠﮭﻢ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﺍﻟﮭﺪﺍﻳﺔ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ . ﻧﻌﻢ، ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻊ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻣﻦ
ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﮭﺎ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ، ﺛﺒﺖ ﻟﻠﻪ ﺑﻪ
ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺃﻳﺪ ﺑﻪ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ .
“ Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang
telah di tanyakan, ,
ﺣﺪﻩ‏) ﻭﺻﻠﻰ ﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ . ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ
ﻧﮭﺠﮭﻢ ﺑﻌﺪﻩ .
Ya .. Allah aku memohon kepada‐Mu supaya
memberikan petunjuk kebenaran”.
“Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari
berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan
menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah
munkarah, yang diberi pahala bagi yang
mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan
mengukuhkan dengannya kaidah‐kaidah agama dan
mendorong Islam serta umat Islam”,
Betapa apa yang dikehendaki dari kalimat diatas
telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong
sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka
gunakan untuk melarang Tahlilan. Ketidak jujuran ini
yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam
atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al‐‘Allamah
Asy‐Syekh Al‐Imam Abi Bakr Ibnu As‐Sayyid
Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i.
Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang
sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah
adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan
( ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ) di tempat ahlu (keluarga)
yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun
akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar
dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat
wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan
tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa
yang menghentikan
kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun,
karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani
untuk menetapkan hokum “Haram” kecuali jika
memang ada dalil yang jelas dan sebab‐sebabnya
pun luas.
Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata
lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum
(bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana
pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan
ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi)
bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan
untuk menghormati pentakziyah yang datang.
Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke
rumah ahlul mushibah dengan kehendaknya sendiri,
melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan
rumah merasa berat tentu saja tidak perlu
mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang.
Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham
tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap
keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk
melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau
ahlu (keluarga) mayyit itu
sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu
(keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit
untuk mengadakan tahlilan dan mengundang
tetangga atau orang lain untuk datang ke
kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga)
mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa
keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang
diundang sama sekali tidak memaksa ahlu
(keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu
(keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri
bahwa mereka mampu dan dengan senang hati
beramal untuk kepentingan saudaranya yang
meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu
bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan
ahlu (keluarga) mayyit.
Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu
(keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi
dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak
dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih
utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh”
dengan menghibur ahlu (keluarga) mayyit, membuat
hati ahlu (keluarga) mayyit senang ataukah
menghindari “yang dianggap makruh” namun
menyakiti hati ahlu (keluarga) mayyit ? Tentu saja
akal yang sehat pun aka menilai bahwa
menyenangkan hati orang dengan hal‐hal yang tidak
diharamkan adalah
sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti
perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat
berakibat dosa.
Disisi yang lain antara ahlu (keluarga) mayyit dan
yang diundang, sama‐sama mendapatkan kebaikan.
Dimana ahlu (keluarga) mayyit telah melakukan
amal shaleh dengan mengajak orang banyak
mendo’akan anggota keluarga yang meninggal
dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan
menghormati tamu dengan cara memberikan
makanan dan minuman. Pada sisi yang di undang
pun sama‐sama melakukan amal shaleh dengan
memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir
bersama, menemani dan menghibur ahlu (keluarga)
mayyit. Manakah dari halhal baik tersebut yang
diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar‐
benar bijaksana dalam menetapkan hokum “makruh”
karena melihat dengan seksama adanya potensi
“menambah kesedihan atau beban merepotkan”,
meskipun jika seandainya hal itu tidak benar benar
ada.
Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan
oleh orang awam, yang sangat membebani dan
menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada
dalam masalah agama, secara umum tidak bisa
dijadikan alasan untuk menetapkan hokum haram
atau terlarang. Bagi mereka, lebih pantas diberi tahu
atau diajari bukan di hukumi.

Fatwa Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri Tentang Radio Rodja


Fitnah Rodja
Antara Iklan Pemanis Buatan Ja’far Salih dan
Bimbingan Ulama’ Ahlus Sunnah
Akhir-akhir ini hampir tiap hari dari dunia facebook
diluncurkan lontaran-lontaran syubhat manhaj
“Faqih Muamalah dengan Hizbiyyah” yang
mempromosikan radio Rodja. Allahul musta’an.
Mulai dari ajakan halus: “Ngaji Yuuuk. Live: Tafsir
surat Al Kautsar bersama Al Ustadz Abdullah Zen
Ma. ” Plus promosi tak tanggung-tanggung:
“Ustadz favorit kami sekeluarga”
Pun bergaya bak mujtahid pula yang mesti
berlapang dadaha: “Rodja yang saya tahu:
mendakwahkan tauhid dan sunnah dan berupaya
mencocoki pemahaman salaf. Radio salafiyah
insyaallah. Yg punya penilaian berbeda ya
silahkan, tanpa saling menjatuhkan. Perbedaan
dalam hal ini bukan termasuk pokok insyaallah,
ranah ijtihadiyah.”
Sampaipun gertakan vonis ancaman (paling
berat!!) menggembosi dakwah Tauhid & Sunnah
bagi yang mencoba menentang tazkiyahnya
terhadap radio tersebut : “Rodja itu jelas
dakwahnya kepada tauhid dan sunnah. Hati2 yg
menggembosinya bisa2 menggembosi tauhid dan
sunnah! Jadi, ukur lagi kritikanmu!”
Yang jelas pernyataan tersebut mengena pada
segenap asatidzah Ahlussunnah yang telah kita
ketahui bersama kejelasan dan ketegasannya
dalam melindungi manhaj kita semua agar tidak
terjerumus pada lubang hizbiyyah tersebut. Tetapi
siapa sangka bahwa Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri
hafizhahullah juga termasuk yang terkena vonis
berat menggembosi tauhid dan sunnah dari sang
facebooker mujtahid Rodjai!!
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Berikut penjelasan fatwa Asy Syaikh Ubaid Al
Jabiri hafizhahullah yang disampaikan oleh Al
Ustadz Abdurrahman Mubarok hafizhahullah:
Download
atau
http://www.4shared.com/mp3/aQkVrD3-/02_Al_
Ustadz_Abdurrahman_Mubar.html
Download dan simak bimbingan asatidzah terkait
fitnah Hizbiyyah-Sururiyyah-Turatsiyyah-
Rodjaiyyah dan para salesnya dan ucapan terima
kasih dari Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al
Madkhali terhadap orang yang melarang
mendengarkan Radio Sururi/Hizbi:
http://www.4shared.com/folder/9AYJ_TBE/YAZID-
ABDAT-RODJA.html

YANG SESAT PELAKU TAHLILAN ATAU PEMVONIS TAHLILAN SESAT?


Bismillah..
Berikut adalah beberapa dasar hujah aswaja
tentang tahlilan dan kenduri 3.7.40.100.1000
hari
Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir,
Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan
lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit,
dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim
hadits no.1149,bahwa “seorang wanita
bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan
diperbolehkan oleh Rasul shallallahu ‘alayhi wa
sallam”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari
dan Muslim bahwa “seorang sahabat
menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan
Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan
Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan
untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah
sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga
Muhammad dan dari Ummat
Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).
Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu
sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur
(kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak
ada yang memungkirinya apalagi
mengharamkannya, dan perselisihan pendapat
hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila
si pembaca tak mengucapkan lafadz :
“Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan
sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila
hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama
Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.
Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai
atau
tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi
berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula
Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua
puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair
(mendapat manfaat dari amal selainnya).
Mengenai ayat :
ﻭَﺃَﻥ ﻟَّﻴْﺲَ ﻟِﻺِﻧﺴَﺎﻥِ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺳﻌﻰ
“dan bahwasanya tiada bagi manusia selain apa
yang telah diusahakannya,” (QS. an-Najm : 39)
Maka Ibn Abbas radliyallahu ‘anh menyatakan
bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat,
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌَﺘْﻬُﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘُﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻥٍ ﺃَﻟْﺤَﻘْﻨَﺎ ﺑِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ
ﻭَﻣَﺎ
ﺃَﻟَﺘْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻛُﻞُّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺐَ ﺭَﻫِﻴﻦٌ
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang
anak
cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami hubungkan anak cucu mereka dengan
mereka… (QS. ath-Thuur 52 : 21)”.
Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila
wafat keturunan adam, maka terputuslah
amalnya
terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang
bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya,
maka orang orang lain yang mengirim amal,
dzikir
dan lain-lain untuknya ini jelas jelas bukanlah
amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah
shalallahu‘alayhi wa sallam menjelaskan
terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang
lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga
sebagai hujjah bahwa
Allah memerintahkan di dalam Al-Qur’an untuk
mendoakan orang yang telah wafat :
ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺟﺎﺀﻭﺍ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﺭﺑﻨﺎ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻨﺎ ﻭﻹﺧﻮﺍﻧﻨﺎ
ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺳﺒﻘﻮﻧﺎ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﺠﻌﻞ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻏﻼ ﻟﻠﺬﻳﻦ
ﺁﻣﻨﻮﺍ
ﺭﺑﻨﺎ ﺇﻧﻚ ﺭﺀﻭﻑ ﺭﺣﻴﻢ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka
(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb
kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dulu dari kami,
dan
janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam
hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya
Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang. alHasyr 59 10)
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun
Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya,
siapa pula yang memungkiri muslimin
berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang
tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa
ilaah
illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai
sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan
agar semua orang awam bisa mengikutinya
dengan mudah, ini sama saja dengan
merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu
ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik
awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat
rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk
mempermudah muslimin terutama yang awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari,Muslim, dan
Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi,
Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll,
dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan
kitab, bila mereka melarangnya maka mana
dalilnya ?,
Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara
Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk
mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak
pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak
pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka
saja yang mengada ada dari kesempitan
pemahamannya.
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000
hari,
atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang
melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang
sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru
kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka
yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha
illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa
ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan
pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang
mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?,
semoga Allah memberi hidayah pada muslimin,
tdk ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha
illallah, tidak ada larangan untuk melarang yang
berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau
kapanpun,pelarangan atas hal ini adalah
kemungkaran yang nyata.Bila hal ini dikatakan
merupakan adat orang hindu,maka bagaimana
dengan computer, handphone,mikrofon, dan
lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan
mimbar yang ada di masjid masjidpun adalah
adat istiadat gereja, namun selama hal itu
bermanfaat dan tak melanggar syariah maka
boleh
boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw
meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10
muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang
yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka
tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul
saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian
atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan
muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih
Bukhari hadits no.3726,3727).
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam
Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu
membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali
membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia
membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak
mau meninggalkan surat al ikhlas setiap
rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan
Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap
rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul
saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa
kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku
mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw
bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan
membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
Maka tentunya orang itu tak melakukan hal
tersebut dari ajaran Rasul saw, ia membuat
buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al
Ikhlas, maka Rasul tidak melarangnya bahkan
memujinya.
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh
(Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli
hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus
ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya)
dan para Imam imam mengirim hadiah pada
Rasullullah saw Berkata Imam al-Hafidh al-
Muhaddits Ali bin al-Muwaffiq rahimahullah :
“aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan
kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji
untuk Rasululah saw
Berkata al-Imam al-Hafidh al-Muhaddits Abul
Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj :
“aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan
7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw
dan aku
menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk
Rasulullah
saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam
Alqur’an untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu
‘alayhi wa sallam, dan kujadikan seluruh amalku
untuk Rasulullah Rasullah saw Ia adalah murid
dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia
menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh
Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat
pada 313 H.Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq
Almuzakkiy,aku mengikuti Abul Abbas dan aku
haji pula 7Xuntuk rasulullah saw, dan aku
mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk
Rasulullah saw.(Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111)

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Tajana Herdy di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Tajana Herdy di Larangan mendengarkan melihat…
    Tajana Herdy di Larangan mendengarkan melihat…
    rahmatsg di Larangan mendengarkan melihat…
    rahmatsg di Larangan mendengarkan melihat…
    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: