membaca sholawat nariyah bid’ah,benarkah demikian??


Bismillah…
banyak bermunculan faham yg suka dg menganggap amaliyah orang lain dg sebutan syirik bid’ah dan segala macam bentuk tuduhan lainnya…salah satunya adalah jk membaca sholawat nariyah adalah sesat…perlu anda ketahui bhwa,
tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul
khatimah dan sorga,

ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin
Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”
(Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka
langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada
beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.


mengenai bacaan 4444X atau lainnya itu adalah ucapan sebagian ulama, tidak wajib dipercayai dan
tidak ada larangan untuk mengamalkannya,–

shalawat ini bukan berasal dari Rasul saw, namun siapapun boleh membuat shalawat atas nabi
saw, sayyidina Abubakar shiddiq ra membuat shalawat atas nabi saw, Sayyidina Ali bin abi thalib kw membuat shalawat, juga para Imam dan Muhadditsin, shalawat Imam Nawawi, Shalawat Imam Shazili, dan banyak lagi, bahkan banyak para muhadditsin yg membuat maulid, bukan hanya shalawat.–

syirik?, yah..
syirik tentunya bagi orang orang wahabi, mereka memang tak diperuntukkan untuk mendapat kemuliaan shalawat, kasihan juga kalau Abubakar shiddiq dibilang syirik, juga Ali bin Abi Thalib kw, juga para muhadditsin lainnya,karena mereka membuat shalawat,

Hanya wahabi saja yg mengingkarinya dari dangkalnya pemahaman mereka pada tauhid dan ilmu
hadits.

Mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yang bertentangan dengan syariah, makna kalimat : “yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga.

Ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yang terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana semua orang yang mengerti bahasa arab memahami ini, cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid, mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari. Mengenai bacaan 4444X atau lainnya itu adalah ucapan sebagian ulama, tidak wajib dipercayai dan tidak ada larangan untuk mengamalkannya,

Shalawat ini bukan berasal dari Rasul saw, namun siapapun boleh membuat shalawat atas nabi saw, sayyidina Abubakar shiddiq ra membuat shalawat atas nabi saw, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw membuat shalawat, juga para Imam dan Muhadditsin, shalawat Imam Nawawi, Shalawat Imam Shazili, dan banyak lagi, bahkan banyak para muhadditsin yang membuat maulid, bukan hanya shalawat.

Syirik?, yah.. syirik tentunya bagi mereka saja, mereka memang tak diperuntukkan untuk mendapat kemuliaan shalawat, kasihan juga kalau Abubakar shiddiq dibilang syirik, juga Ali bin Abi Thalib, juga para muhadditsin lainnya, karena mereka membuat shalawat.

Tawassul adalah diajarkan oleh Nabi saw tawassul pada beliau saw dan pada amal shalih dan pada orang shalih, demikian riwayat Shahih Bukhari dari Umar bin Khattab ra dan lainnya. Lalu bagaimana dengan Abubakar shiddiq ra menangis dan mencium dan bicara pada Jenazah Rasul saw setelah Rasul saw wafat (Shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik juga Umar bin Khattab ra wasiat minta dikuburkan dekat kubur Nabi saw seraya berkata : “Tidak ada yang lebih kudambakan selain pembaringan di sebelah Nabi itu”, (Shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik Para sahabat pun semuanya akan divonis musyrik, karena berebutan potongan rambut Rasul saw, (Shahih Bukhari) dan Asma binti Abubakar shiddiq ra pun akan difitnah musyrik karena bila ada yang sakit ia membasuh jubah Nabi saw lalu airnya diminumkan pada yang sakit (Shahih Muslim) Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (Shahih Bukhari hadits No.5413, dan Shahih Muslim hadits No.2194) Hanya mereka saja yang mengingkarinya dari dangkalnya pemahaman mereka pada tauhid dan ilmu hadits Dan mengenai tabarruk pun merupakan sunnah Rasul saw, dan Rasul saw mengajari Tabarruk bahkan Istighatsah….

2 Tanggapan

  1. Au ah, dikit2 bidah dikit2 bidah, ngaji baru kemaren sore juga, noh liat ngkong ma nenek, para ulama kita yang baca tahlil, kamilah, maulid, barjanji, ratib dsb hidup nya berkah bngt, lah mereka yang ngomng bidah, pada blangsak hidupnya,

  2. hmmm bgitulah wahabi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: