waspadai faham NEW SALAF


Bismillah…
waspadalah terhadap faham newsalaf …

Ada salah satu sekte menyebar di masyarakat kita, mereka menamakan diri “salafi wahabi “, padahal sebenarnya nama yang cocok bagi mereka adalah “talafi” (perusak). Jargon yang biasa mereka bawa adalah “basmi TBC”, “perangi segala macam bid’ah”, “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dan kata-kata “manis” lainnya. Salah satu yang sering dapat serangan dari mereka adalah masalah yang sebenarnya “bukan masalah”, tapi mereka ungkit-ungkit untuk membuat keributan. ngaku memrangi “TBC” tapi sebenarnya mereka sendiri membawa “TBC”. Waspada!!!!!!

Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan jalan untuk mendapatkan pahala dari Allah, jika memang tidak dibarengi dengan perkara-perkara yang diharamkan. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan tentang ini sangat banyak, di antaranya.
(Lihat an-Nawawi, Riyadl ash-Shalihin, hal. 470-473)

Rasulullah bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
(رواه مسلم)

Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia.
(HR. Muslim)

al-Imam Muslim dan al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ
(أخرجه مسلم والترمذيّ)

Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat.
(HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
(أخرجه الطّبَرانِيّ)

Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian.
(HR. ath-Thobaroni)

Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum, di antaranya adalah hadits Qudsi: Rasulullah bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (متّفق عليه)

Allah berfirman: “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta pertolongan terhadapnya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan lirih maka Aku akan memberinya pahala dan rahmat secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan para Malaikat yang mulia.
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Makna “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku” artinya; “Jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Aku (Allah) ampuni dosanya, jika ia mengira taubatnya akan Aku terima maka Aku akan menerima taubatnya, jika ia berharap akan Aku kabulkan doanya maka akan Aku kabulkan, dan jika ia mengira Aku mencukupi kebutuhannya maka akan Aku cukupi kebutuhan yang dimintanya”. Demikian penjelasan ini seperti tuturkan oleh al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki.

Dzikir Berjama’ah Setelah Sholat Dengan Suara Keras

Para ulama telah sepakat akan kesunnahan berdzikir setelah shalat.
(Lihat an-Nawawi dalam al-Adzkar, h. 70).

Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya: “Ayyuddu’a Asma’u……
Apakah do’a yang paling mungkin dikabulkan?
Rasulullah menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ، قال الترمذيّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ

Doa di tengah malam, dan seusai shalat fardlu.
(at-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini Hasan)

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjama’ah setelah shalat secara khusus. Di antaranya hadits dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, bahwa ia berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه البخاريّ ومسلم)

Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras).
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits riwayat al-Imam Muslim disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه مسلم)

Kami mengetahui selesainya sholat Rasulullah dengan takbir, yang dibaca dengan suara keras.
(HR. Muslim)

Kemudian ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
(رواه البخاريّ ومسلم)

Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang telah selesai sholat fardlu sudah terjadi pada zaman Rasulullah.
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat lain, juga diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim, bahwa Ibn ‘Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاريّ ومسلم)

Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai sholat dengan mendengar suara berdzikir yang keras itu.
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Hadits-hadits ini adalah dalil akan kebolehan berdzikir dengan suara keras, tentunya tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya. Karena mengangkat suara dengan keras yang berlebih-lebihan dilarang oleh Rasulullah dalam hadits yang lain. Dalam hadits riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari bahwa ketika para sahabat sampai dari perjalanan mereka di lembah Khaibar, mereka membaca tahlil dan takbir dengan suara yang sangat keras. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka:

اِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا …

Ringankanlah atas diri kalian, jangan memaksakan diri mengeraskan suara secara berlebihan. Sesungguhnya kalian tidak meminta kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak kepada yang ghaib, kalian meminta kepada yang maha mendengar dan Maha Dekat.
(HR. al-Bukhori)

Hadits ini bukan melarang berdzikir dengan suara yang keras. Tetapi yang dilarang adalah dengan suara yang sangat keras dan berlebih-lebihan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa boleh berdzikir dengan berjama’ah, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat tersebut. Yang dilaraang oleh Rasulullah dalam hadits ini bukan berdzikir secara berjama’ah, melainkan mengeraskan suara secara berlebih-lebihan.

Do’a Berjama’ah
Rasulullah bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فَدَعَا بَعْضٌ وَأَمَّنَ الآخَرُوْنَ إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُمْ (رواه الحاكم في المستدرك من حديث مسلمة بن حبيب الفهري)

Tidaklah suatu kaum berkumpul, lalu sebagian berdo’a dan yang lain mengamini, kecuali do’a tersebut akan di kabulkan oleh Allah.
(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak dari sahabat Maslamah ibn Habib al-Fihri).

Hadits ini menunjukkan kebolehan berdoa dengan berjama’ah. Artinya, salah seorang berdoa, dan yang lainnya mengamini. Termasuk dalam praktek ini yang sering dilakukan oleh banyak orang setelah shalat lima waktu, imam shalat berdoa dan jama’ah mengamini.

Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Minhaj al-Qawim Syarh al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, menuliskan sebagai berikut:

[وَيُسِرُّ بِهِ] الْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُوْمُ خِلاَفًا لِمَا يُوْهِمُهُ كَلاَمُ الرَّوْضَةِ (إِلاَّ الإِمَامُ الْمُرِيْدُ تَعْلِيْمَ الْحَاضِرِيْنَ فَيَجْهَرُ إِلَى أَنْ يَتَعَلَّمُوْا) وَعَلَيْهِ حُمِلَتْ أَحَادِيْثُ الْجَهْرِ بِذَلِكَ، لَكِنْ اسْتَبْعَدَهُ الأَذْرَعِيُّ وَاخْتَارَ نَدْبَ رَفْعِ الْجَمَاعَةِ أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ دَائِمًا

Orang yang shalat sendirian dan seorang makmum agar memelankan bacaan dzikir dan doa seusai shalatnya, -ini berbeda dengan yang dipahami dari tulisan ar-Raudlah-, kecuali seorang Imam yang bermaksud mengajari para jama’ah tentang lafazh-lafazh dzikir dan doa tersebut, maka ia boleh mengeraskannya hingga jama’ah mengetahui dan hafal dzikir dan doa tersebut. Dengan makna inilah dipahami hadits-hadits mengeraskan bacaan dzikir dan doa setelah shalat. Namun al-Imam al-Adzra’i tidak menerima pemahaman seperti ini dan beliau memilih pendapat bahwa sunnah bagi para jama’ah hendaknya selalu mengeraskan suara mereka dalam membaca dzikir.
(Sesuai zhahir hadits-hadits di atas)
(al-Minhaj al-Qawim, h. 163).

Allah Berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

(QS 33 : 41)
Hai orang2 yg beriman, berdzikirlah dgn menyebut nama. Allah , dzikir yg sebanyak-banyaknya.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

(QS 4 : 103)
Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk & di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yg ditentukan waktunya atas orang2 yg beriman.

Memikirkan kebesaran dan keagungan Allah adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya. Dengannya kita akan bisa meningkatkan iman, menambah ilmu, melahirkan ketakutan dan kecintaan kepada Allah.

وَخَرَّجَ الْحَافِظُ اَبُوْ عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ بِإِسْنَادِهِ مِنْ حَدِيْثِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَاِنَّ تَعَلُّمَهُ ِللهِ تَعَالَى خَشْيَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لاَ يَعْلَمُ صَدَقَةٌ وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ لِأَنَّهُ مَعَالِمِ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ وَمَنَارُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَاْلأُنْسِ فِي الْوَحْشَةِ وَالصَّاحِبُ فِي الْغَرْبَةِ وَالْمُحَدِّثُ فِي الْخَلْوَةِ وَالدَّلِيْلُ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالسِّلاَحُ عَلَى اْلأَعْدَاءِ وَالزَّيْنُ عِنْدَ اْلأَخِلاَّء يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى بِهِ أَقْوَامًا وَيَجْعَلُهُمْ فِي الْخَيْرِ قَادَةً وَأَئِمَّةً تُقْتَبَسُ آثَارُهُمْ وَيُقْتَدَى بِفِعَالِهِمْ وَيُنْتَهَى إِلَى رَأْيِهِمْ تَرْغَبُ الْمَلاَئِكَةُ فِي خُلَّتِهِمْ وَبِأَجْنِحَتِهَا تَمْسَحُهُمْ يَسْتَغْفِرُ لَهُمْ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَحِيْتَانُ الْبَحْرِ وَهَوَامُّهُ وَسِبَاعُ الْبَرِّ وَأَنْعَامُهُ, لِأَنَّ الْعِلْمَ حَيَاةُالْقُلُوْبِ مِنَ الْجَهْلِ وَمَصَابِيْحُ اْلأَبْصَارِ مِنَ الظُّلَمِ, يَبْلُغُ الْعَبْدُ بِالْعِلْمِ مَنَازِلَ اْلأَخْيَارِ وَالدَّرَجَةَ الْعُلَي فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَالتَّفَكُّرِ فِيْهِ يَعْدِلُ بِالصِّيَامِ وَمُدَارَسَتُهُ بِالْقِيَامِ بِهِ تُوْصَلُ اْلأَرْحَامِ وَيًُعْرَفُ الْحَلاَلُ مِنَ الْحَرَامِ وَهُوَ إِمَامُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ يُلْهَمُهُ السُّعَدَاءُ وَيُحْرَمُهُ اْلأَشْقِيَاءُ. (قال ابو عمر رحمه الله : هو حديث حسن. قلتُ ولعله اراد الحسنَ اللفظيَّ لا الحسنى المصطلَح بين اهل هذا الشأن, والله أعلم)

Al-Hafidz Abu Umar bin Abdil Barr meriwayatkan dalam kitab ilmu dengan sanadznya dari Muadz bin Jabal ra berkata : Rosulullah saw bersabda : “carilah ilmu, karena sesungguhnya belajarnya karena Allah, akan menyebabkan ketakutan kepada Allah, mencarinya adalah ibadah, memudzakarohkannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya adalah sedekah, dan memberikan kepada ahlinya adalah pendekatan kepada Allah. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah rambu-rambu halal dan haram, petunjuk jalan bagi ahli surga, ia adalah penenang dalam kesendirian, teman dalam pengembaraan, teman bicara dalam kesepian, petunjuk pada saat senang dan susah, senjata mengahadapi musuh, dan perhiasan dikalangan kawan. Dengannya Allah mengangkat orang-orang kemudian Allah menjadikan mereka panutan dan imam dalam kebaikan, jejak mereka diikuti, perbuatan mereka diteladani, pendapat mereka dipegangi. Para malaikat senang bersahabat dengan mereka, dengan sayap-sayapnya para malaikat membelai mereka. Memintakan ampunan untuk mereka setiap yang basah dan yang kering, ikan-ikan dilautan dan binatang-binatang di daratan. Karena ilmu adalah penghidup hati dari kebodohan, lentera mata hati dari kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba sampai ke kedudukan orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Berpikir tentangnya menyamai puasa, mempelajarinya bersama menyamai qiyamul lail. Dengannya tali persaudaraan disambung, dengannya diketahui halal dan haram, ia adalah imamnya amal sedangkan amal adalah pengikutnya. Ia diberikan kepada orang-orang yang beruntung dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.”

3 Tanggapan

  1. Assalaamu'alaikum…Syukron katsiron akhina Sofi Al-Ikhwan…Mudah-mudahan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menunjukkan jalan Hidayah untuk kita semua. Amiin..Terus berjuang di Jalan Alloh…! Mudah-mudahan Alloh SWT Meridhoi.ولتکن منکم أمة يدعون الی الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنکر وأولئك هم المفلحونmudah-mudahan selalu mengutamakan kelembutan dan ahlakul karimah."ud'u ila sabili rabbika bilhikmah walmau'idhotil hasanah wajadiluhum billati hiya ahsan."

  2. 'alaikumussalam,wr,wb,aamiin,insyaAllah sedulur kita sama2 berjuang..

  3. Insya Alloh Ustadz…nyuwun bimbingannya..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: