RADIO RODJA menurut SALAFY adalah RADIO THOGUT benarkah??


Radio Rodja-sesat

Berikut ini adalah tulisan yang kami rekam dari web Salafy   http://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/ tentang pertentangannya terhadap Radio Rodja, berikut ulasannya :

dd
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه.
أما بعد:
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji hanyalah milik Allah, Sholawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya.
Kemudian setelah itu.
oleh itu kami menjelaskan di sini khususnya pada mereka yang ghuluw ” berlebihan ” mengangkat benda mati sebagai tolak ukur kebenaran bahkan lebih dari itu menjadi benda mati ” RADIO RODJA ” ini sebagai ukuran wala dan baro.
oleh karena itu ihkwah mari kita jelaskan dulu apa itu THAGHUT ? ? ?
At Thaghut adalah segala sesuatu yang di`ibadahi selain Allah Tabaaraka wa Ta`aala, ia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh para peng`ibadat (pemujanya), ataupun ia rela dengan keta`atan orang yang menta`atinya dalam hal kema`siatan kepada Allah Tabaaraka wa Ta`aala dan Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengutus para rosulNya supaya memerintahkan kaum mereka, agar ber`ibadah hanya kepada Allah Subhaana wa Ta`aaala saja serta menjauhi thogut. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: Dan sungguh sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap tiap umat (untuk menyerukan): “Ber`ibadatlah kalian kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu , ada orang orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang orang yang mendustakan (rasul rasul). (QS. An-Nahl : 36).
Marilah kita simak penafsiran ayat yang mulia ini; berkata As Syaikh Abdurahman As Sa’diy Rahimahullahu Ta`aala : “Allah Jalla wa `Alaa telah mengkhabarkan kepada kita bahwa hujjahNya telah tegak atas seluruh umat, bahwasanya tidak ada satu ummat dari umat terdahulu maupun yang terakhir, melainkan Allah Jalla Sya`nuHu telah mengutus kepada umat tersebut seorang Rasul `Alaihis Sholaatu was Salaam, dimana seluruh Rasul `Alaimus Sholaatu was Salaam telah sepakat diatas satu da`wah, satu Din (Agama Islam), yaitu: “dakwah kepada untuk ber`ibadah kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagiNya,”
أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ terbagilah ummat tersebut kepada dua bahagian, sesuai dengan penerimaan mereka terhadap da`wah para RasulNya atau tidak menerimanya, ada diantara merela menerima seruan Rasul `Alaihis Sholaatu was Salaam tersebut, ada yang mengingkarinya, maka jadilah dua golongan, [فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ]’’ “diantara mereka ada orang orang diberi petunjuk oleh Allah”, maksudnya mereka yang mengikuti para rasulNya secara ilmu dan `amalan,[وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ]’ “dan diantara mereka ada pula orang orang yang telah pasti kesesatan atasnya”, maksudnya mereka yg telah mengutamakan kesesatan daripada pentunjuk Rasulnya,{ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ}” “maka berjalanlah kalian dipermukaan bumi”maksudnya, dengan badan-badan dan hati-hati kalian , فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ’’dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam)”,maksudnya, kalian akan melihat hal-hal yang menakjubkan, dan tidaklah kalian melihat orang orang yang mendustakan RasulNya melainkan kebinasaan yang mereka dapatkan”.
Pengertian Thaghut
Secara bahasa, kata ini diambil dari kata طَغَى, artinya melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ
“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” (Al-Haqah:11)
Adapun menurut istilah syariat, definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim: “(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).”
Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau perhatikan thaghut-thaghut di alam ini, tidak akan keluar dari tiga jenis golongan tersebut.”
Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela).
Wajibnya Mengingkari Thaghut
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk mengkufuri thaghut dan beriman kepada Allah. Dasarnya adalah:
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya untuk mendakwahkan masalah ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
”Dan telah kami utus pada setiap umat seorang Rasul, (yang menyeru umatnya):Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut.” (An-Nahl: 36)
2. Kufur kepada thaghut merupakan syarat sah iman, sehingga tidak sah iman seseorang hingga mengingkari thaghut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
”Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (Al-Baqarah: 256)
3. Karena ini terkandung dalam lafadz Laa ilaha illallah. Ilallah adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kufur kepada thaghut. Laa ilaha menafikan semua peribatan kepada selain Allah. Laa ilaha illallah menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bentuk Pengingkaran terhadap Thaghut
Para ulama menerangkan bahwa mengkufuri thaghut terwujud dengan enam perkara yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an:
1. Meyakini batilnya peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Meninggalkannya dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati, lisan, dan anggota badan.
3. Membencinya dengan hati dan mencercanya dengan lisan. Cercaan dengan lisan yaitu dengan cara menunjukkan dan menerangkan bahwa sesembahan selain Allah adalah batil dan tidak bisa memberikan manfaat.
4. Mengkafirkan pengikut dan penyembah thaghut.
5. Memusuhi mereka dengan dzahir dan batin, dengan hati dan anggota badan.
6. Menghilangkan sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tangan, jika ada kemampuan

BAB : memulyakan benda mati adalah bentuk sesembahan selain alloh


lihatlah gambar ini : bentuk memulyakan benda mati sangat berlebihan salah satu bentuk perbuatan mendekati kekufuran
sebagai contoh dalam perkara hajar aswad lihatlah sahabat umar bin khotob rodhiyallohua anhu
Pelaku Thawaf yang mengitari Baitullah itu dengan hatinya ia melakukan pengagungan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yang menjadikannya selalu ingat kepada Allah, semua gerak-geriknya, seperti melangkah, mencium dan beristilam kepada hajar dan sudut (rukun) yamani dan memberi isyarat kepada hajar aswad sebagai dzikir kepada Allah Ta’ala, sebab hal itu bagian dari ibadah kepada-Nya. Dan setiap ibadah adalah dzikir kepada Allah dalam pengertian umumnya. Adapun takbir, dzikir dan do’a yang diucapkan dengan lisan adalah sudah jelas merupakan dzikrullah;
sedangkan mencium hajar aswad itu merupakan ibadah di mana seseorang menciumnya tanpa ada hubungan antara dia dengan hajar aswad selain beribadah kepada Allah semata dengan mengagungkan-Nya dan mencontoh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hal itu, sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu ketika beliau mencium hajar aswad mengatakan, “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau (hajar aswad) tidak dapat mendatangkan bahaya, tidak juga manfa’at. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”
Adapun dugaan sebagian orang-orang awam (bodoh) bahwa maksud dari mencium hajar aswad adalah untuk mendapat berkah adalah dugaan yang tidak mempunyai dasar, maka dari itu batil. Sedangkan yang dinyatakan oleh sebagian kaum Zindiq (kelompok sesat) bahwa thawaf di Baitullah itu sama halnya dengan thawaf di kuburan para wali dan ia merupakan penyembahan terhadap berhala, maka hal itu merupakan kezindikan (kekufuran) mereka, sebab kaum Muslimin tidak melakukan thawaf kecuali atas dasar perintah Allah, sedangkan apa saja yang perin-tahkan oleh Allah, maka melaksanakannya merupakan ibadah kepada-Nya.
Tidakkah anda tahu bahwa melakukan sujud kepada selain Allah itu merupakan syirik akbar, namun ketika Allah Subhannahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam, maka sujud kepada Adam itu merupakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan tidak melakukannya merupakan kekufuran?!
dalam hadits lain menjelaskan tentang sikap berlebihan kepada sosok manusia termasuk khilafush sunnah
Anas bin Malik pun melaporkan bagaimana keadaan para shahabat berkaitan dengannya :
لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ
”Tidak ada seorangpun yang lebih dicintai oleh para shahabat daripada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Akan tetapi, bila mereka melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam (hadir), mereka tidak berdiri untuk beliau, sebab mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2754; shahih].

lihatlah gambar di atas ini : kalimat mengagungkan RADIO RODJA di ungkapkan kepada orang beriman ” imam bukhori ” adalah termasuk berlebihan khilafush sunnah
Satu hari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memandang Ka’bah, kiblat kaum muslimin, dengan rasa takjub. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :
مَرْحَبًا بِكِ مِنْ بَيْتٍ مَا أَعْظَمَكِ، وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَلَلْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ
”Selamat datang wahai Ka’bah, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi orang mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan, no. 4014; shahih].
oleh karena itu kita tidak boleh memulyakan segala bentuk benda mati apalagi sebagai tolak ukur AL HAQ kebenaran selain al quran dan as sunnah.
kembali kita menjelaskan point point kesesatan dan uslub uslub dakwah di radio rodja di bawah ini.

point pertama : mengunakan MIHROB pada MASJID AL BARKAH RADIO RODJA adalah khilafush sunnah

bagaiamana mungkin mereka bisa berbuat seperti ini ? sedangkan mereka dalam keadaan lapang untuk tidak mengunakan mihrob.
dengan begitu mewah mereka sururiyyun di masjid cukup megah tidak bisa mengerjakan sunnah dalam perkara ini.
inilah sebagai bukti bahwa mereka mengangap remeh 1 satu bid’ah yang jelas sekali di mata kita gambar di bawah ini.

Berkata al Imam Abu Muhammad al Barbahariy rohimahulloh : “ Jika kamu melihat sekilas bid’ah dari seseorang maka berhati – hatilah darinya, sebab bid’ah yang tersembunyi dalam dirinya dari pandanganmu tentu lebih banyak dibandingkan yang nampak !”.[ Syarhus Sunnah (28) ]

dahulu dai yang mendirikan radio rodja ini,berkomentar dalam perkara mihrob dengan dalih bahwa para ulama juga sholat di masjid arab saudi mengunakan mihrob ?
yaa ihkwah ini suatu bukti kebid’ahan terhadap dai mereka   Abu Yahya Badrusalam melakukan talbis ” kerancuan ” menyandarkan perbuatannya kepada ulama ? kalimat bathil sebagaimana orang kuburiyyun beralasan bahwa kuburan nabi sholallohu alaihi wa salam posisinya di dalam masjid.


Dalam hadits ini adalah mihrab sebagaimana diterangkan dalam Lisanul ‘Arab dan yang lainnya. Seperti ketika menafsirkan hadits Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafadh :
“Takutlah kalian kepada
ini, yaitu mihrab-mihrab.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi 2/439 dan selain beliau dengan sanad yang hasan. As Suyuthi berkata dalam risalahnya, Al I’lam halaman 21 :
“Hadits ini tsabit (kokoh).”
Beliau berhujjah serta berargumen dengan hadits ini tentang pelarangan membuat mihrab-mihrab di masjid-masjid. Dan padanya ada permasalah yang telah aku terangkan dalam Tsimarul Mustathab fii Fiqhis Sunnati wal Kitab yang kesimpulannya bahwa yang dimaksud adalah bagian depan masjid sebagaimana yang ditetapkan oleh Al Manawi dalam Al Faidh.
Kemudian As Suyuthi mengatakan dalam risalahnya tadi bahwa mihrab di masjid adalah bid’ah. Pendapatnya ini disepakati oleh Syaikh Ali Al Qari dalam Murqathul Mafatih 1/474 dan lain-lainnya. Dan ini –yang kumaksud adalah kebid’ahannya– tidak perlu bersandar dengan hadits mu’dhal tadi. Walau hadits ini jelas-jelas menerangkan tentang larangannya namun kita tidak perlu berhujjah dengan hadits yang tidak tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan tetapi kita berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Mas’ud bahwa :
“Beliau membenci shalat di mihrab.”
Beliau mengatakan : “Itu hanya untuk gereja-gereja maka kalian jangan bertasyabuh (meniru) ahli kitab.”
Yakni beliau membenci shalat di dalam mihrab. Al Haitsami 2/51 berkata : “Rijal hadits ini adalah tsiqat.”
Aku (Albani) berkata, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata Abdullah (Ibnu Mas’ud, pent.) berkata : “Takutlah kalian terhadap mihrab-mihrab ini.” Dan Ibrahim tidak shalat di situ.
Aku berkata : Ini shahih dari Ibnu Mas’ud, adapun Ibrahim, dia adalah Ibnu Yazid An Nakha’i, walau ia tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud. Maka tampaknya secara dhahir ini adalah mursal. Akan tetapi segolongan para imam menshahihkan hadits-haditsnya yang mursal. Al Baihaqi mengkhususkan kemursalan Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Mengapa demikian?
Aku berkata, pengecualian bagi Ibrahim ini adalah benar. Berdasarkan yang diriwayatkan oleh A’masy, ia berkata, aku bertanya kepada Ibrahim ketika ia menyambungkan riwayat langsung kepada Ibnu Mas’ud maka ia berkata :
“Bila aku mengabarkan suatu hadits kepada kalian dari seseorang dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut memang aku dengar sendiri (dari orang tersebut). Dan jika aku langsung berkata dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut aku dengar bukan dari satu orang saja!”
(Al Hafidh memutlakkannya seperti ini di dalam At Tahdzib. Akan tetapi At Thahawi me-maushul-kannya (1/133) dan juga Ibnu Sa’ad di dalam At Thabaqat 6/272. Dan juga Abu Zur’ah di dalam Tarikh Dimasyq 2/121 dengan sanad yang shahih).
Aku berkata (Al Albani), di dalam atsar ini, Ibrahim berkata dari Ibnu Mas’ud. Maka berarti ia telah menerimanya dari jalan yang banyak. Dan mereka adalah para shahabat Ibnu Mas’ud. Maka –ketika itu– jiwa pun menjadi tenang dengan hadits mereka karena mereka banyak. Walaupun mereka tidak diketahui karena mayoritas para tabi’in adalah jujur. Dan khususnya shahabat-shahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Salim bin Abul Ja’d, ia berkata :
“Janganlah kalian membuat mihrab-mihrab di dalam masjid-masjid.”
Dan sanadnya adalah shahih. Kemudian beliau (Ibnu Abi Syaibah) meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Musa bin Ubaidah ia berkata :
“Aku melihat masjid Abu Dzaar maka aku tidak melihat di situ ada mihrab.”
Dan dari Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari para Salaf tentang makruhnya membuat mihrab di dalam masjid. Dan yang kita nukil di sini kiranya sudah cukup.
[ selesai penukilan ]

point kedua : mengambil upah dakwah dan mengajarkan al quran
http://www.radiorodja.com/info/penerimaan-santri-baru-takhosus-20112012/


dalil dalil tentang larangan mengambil/meminta mengajarkan al quran dan upah dakwah di bawah ini.

BAB : tentang mengambil upah mengajar al quran

Diriwayatkan dari Abu Darda’ rodhiyalohu anhu, Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Barangsiapa mengambil sebuah busur sebagai upah dari mengajarkan Al-Qur’an, niscaya Allah akan mengalungkannya busur dari api neraka pada hari kiamat,” (Hasan lighairihi, HR Ibnu ‘Asakir dalam kitab Taariikh Dimasyq [11/427], al-Baihaqi dalam Sunannya [VI/126]).
Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit rodhiyallohu anhu berkata, “Aku mengajarkan Al-Qur’an dan menulis kepada Ahli Shuffah. Lalu salah seorang dari mereka menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukanlah harta, toh dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillaah. Aku akan mendatangi Rasulullah shalalohu alaihi wa salam. dan menanyakannya kepada beliau.” Lalu aku pun menemui beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah! seorang laki-laki yang telah kuajari menulis dan Al-Qur’an telah menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah.” Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Jika engkau suka dikalungkan dengan kalung dari api neraka, maka terimalah!” (Shahih, HR Abu Dawud [3416], Ibnu Majah [2157], Ahmad [V/315 dan 324], al-Hakim [0/41, IH/356], dan al-Baihaqi [VI/125]).
Diriwayatkan dari ‘lmran bin Hushain rodhiyallohu anhu, ia melihat seorang qari sedang membaca Al-Qur’an lalu meminta upah. Ia pun mengucapkan kalimat istirja ‘ ( Innaa lillaahi wa innaa ilahi rooji’uun ), kemudian berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, hendaklah ia meminta pahalanya kepada Allah. Sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membaca Al-Qur’an, lalu meminta upahnya kepada manusia.” (Hasan lighairihi, HR at-Tirmidzi [2917], Ahmad [IV/432-433, 436 dan 439], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [1183]).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Pelajarilah Al-Qur’an, dan mintalah Surga kepada Allah sebagai balasannya, sebelum datang satu kaum yang mempelajarinya dan meminta harta sebagai imbalannya. Sesungguhnya ada tiga jenis orang yang mempelajari Al-Qur’an. Orang yang mempelajarinya untuk membangga-banggakan diri dengannya, orang yang mempelajarinya untuk mencari makan, orang yang mempelajarinya karena Allah semata,” (Hasan, HR Ahmad [111/38-39], al-Baghawi [1182], dan al-Hakim [IV/547]).
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallohu anhu berkata, “Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Al-Qur’an, di antara kami terdapat orang-orang Arab dan orang-orang ‘Ajam (non Arab). Beliau berkata, ‘Bacalah Al-Qur’an, bacaan kalian semuanya bagus. Akan datang nanti beberapa kaum yang menegakkan Al-Qur’an seperti menegakkan anak panah. Mereka hanya mencari materi (harta) dengannya dan tidak meng-harapkan pahala akhirat’,” (Shahih, HR Abu Dawud [830] dan Ahmad [III/357 dan 397]).
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibl al-Anshaari rodhiyallohu anhu, Mu’awiyah berkata kepadanya, “Jika engkau datang ke kemahku, maka sampaikanlah hadits yang telah engkau dengar dari Rasulullah shalallohu alaihi wa salam !” Kemudian ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, ‘Bacalah Al-Qur’an, janganlah engkau mencari makan darinya, jangan-lah engkau memperbanyak harta dengannya, janganlah engkau enggan membacanya dan jangan pula terlalu berlebihan,” (Shahih, HR ath-Thahawi dalam Musykilul Aatsaar [4332], Ahmad [EH/428 dan 444] dan Ibnu Asakir [DC/486]).

BAB : mengambil dan meminta minta upah berdakwah  

Apabila ditinjau lebih dalam lagi maka ujung-ujungnya adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits:
عن كعب بن عياض قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إن لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال.
Dari Ka’b bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya setiap ummat itu punya fitnah dan fitnah ummatku adalah harta. HR. Tirmidzi
عن كعب بن مالك الأنصاري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه.
Dari Ka’b bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidaklah dua ekor serigala yang dilepas di (kandang) kambing lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kemuliaan terhadap agamanya” HR. Tirmidzi
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ».
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bersegaralah kalian mengamalkan amal-amal shaleh karena akan terjadi fitnah menyerupai malam yang gelap gulita, dimana seseorang beriman dipagi hari dan kafir di sore hari atau kafir di sore hari beriman di pagi hari, dia rela menjual agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”. HR. Muslim.
Penyelisihan Kedua:
Meminta upah dari murid dan mensyaratkannya dalam mengajar, dan ini menyelisihi dakwah para Nabi ‘alahimu shalatu was salam; Allah berkata memerintahkan NabiNya:
} قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ { [الأنعام:90].
“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran), Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” [Al-An’am: 90].
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ [ص/86-88]
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun pada kalian atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk dari orang-orang yang mengada-adakan. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sungguh kalian akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu.” [Shaad: 86-88].
Berkata Nabi Nuh ‘alaihi as-salam kepada kaumnya:
وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ [هود/29]
“Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari sisi Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman2. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb mereka, akan tetapi aku menganggap kalian suatu kaum yang tidak mengetahui”. [Huud: 29].
Demikian juga Nabi Huud, Saleh, Luth, dan Syu’aib ‘alaihimush shalat was salam semuanya berkata kepada kaum mereka:
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
[الشعراء/109,127,145,164,180]
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” [Asy-Syu’ara: 109, 126, 145, 164, 180].
Perlu pembaca bedakan antara menerima pemberian tanpa meminta atau mensyaratkan untuk itu dengan meminta atau mensyaratkan upah dalam pengajaran (seolah-olah ia berkata saya tidak akan mengajar kalian kecuali dengan bayaran) dan inilah yang dicela oleh para salaf:
Ahmad Bin Hanbal rahimahullah ditanya apakah orang yang menjual hadits, hadits mereka ditulis? Beliau menjawab: tidak, tidak tanpa penghormatan. (Al Kifayah (hal 152)).
Dan Ishaq Bin Rohawaih rahimahullah ditanya tentang Ahlul Hadits mengajar dan meminta upah, beliau menjawab: [Jangan ditulis hadits mereka]. (Siyar A’lamun Nubala (11/329). Dan Al Kifayah (hal.152)).
Dan Syu’bah rahimahullah sangat mengingkari hal ini sebagaimana yang diriwayatkan darinya, Beliau berkata: [Jangan kalian menulis hadits-hadits orang fakir sedikitpun karena sesungguhnya mereka berdusta kepada kalian.] (Muqoddimah Al Kamil (114, 227) dan Al Kifayah 154)).
Termasuk dalam bab ini apa yang dikenal dengan istilah SPP, uang pendaftaran, uang bangunan…atau yang sejenis dengannya.3
Berkata Yahya bin Yaman: Saya mendengar Sufyan Ats-Tsaury berkata: Harta adalah penyakit ummat ini, sementara orang yang berilmu adalah dokter ummat ini, maka apabila seorang alim menarik penyakit (harta) kepada dirinya, kapan kiranya dia bisa menyembuhkan manusia? [ Siyar 7/243, Hilyah 6/361].
[ selesai penukilan ]

point ketiga : menipu umat dalam minta minta [ tasawwul ] pembangunan masjid al barkah radio rodja padahalnya masjidnya sudah rampung


Saudaraku seiman,saat ini sedang diselenggarakan proses pembangunan masjid al Barkah,dikompleks studio radio Rodja,Alhamdulillah saat ini sudah mencapai proses sekitar 60 %.
Kami mengajak antum,yang Allah Ta’ala berikan keluasan rizki,untuk turut serta berlomba dalam berbuat kebaikan dengan membantu proses pembangunan dengan menginfaqkannya melalui :
1. Bank Syariah Mandiri Cab Cibubur no rek: 10 300 4 8080 a/n : Yayasan Cahaya Sunnah
2.Datang langsung ke panitia pembangunan di studio radio Rodja
untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi panitia:
Kang Agus Hasanudin 081314 255958 atau Studio rodja (021) 7073 6543 atau di (021) 8233661
Berikut ini adalah desain masjid Al Barkah:
Lantai 1 , Lantai 2, Site Plan
Dibawah ini antum bisa melihat rincian dari anggaran selama proses pembangunan

definisi tasawwul atau mengemis di bawah ini
“Tasawwala  (bentuk fi’il madhy  dari  tasawwul)  artinya  meminta-minta  atau  meminta pemberian ”(Al-Mu’jamul Wasith: 1/465)
Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi  Rahimahullah berkata:
“ Sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka untuk dirinya ” (Faidhul Qadir: 2/493)
lalu kita lihat sendiri kondisi masjid al barkah sudah rampung ? lalu mengapa mereka masi meminta minta kepada umat islam ” awam yang berharta ” benar apa yang di katakan syaikh muqbil hadi al wadi’i rohimahulloh
Al-Allamah  Muqbil  Al-Wadi’i Rahimahullah juga  menerangkan  batasan  tasawwul  dalam  kitab Dzammul Mas’alah (Tercelanya Meminta-Minta):
“ Kelompok kedua (dari orang yang buruk  dalam  penggunaan  harta): adalah  kaum  yang berusaha mencuri untuk mengambil harta zakat padahal mereka bukanlah golongan yang berhak  menerimanya. Kemudian  harta  itu  mereka  gunakan  untuk  kepentingan  pribadi mereka ”
(Dzammul Mas’alah: 31)
Di antaranya adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma bahwa RasulullahShallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Meminta-minta  akan  senantiasa  ada  pada  salah  seorang  dari  kalian  sampai  dia  bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya ” (HR. Muslim: 1724, Ahmad: 4409)
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“ Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka dia  hanyalah  sedang  meminta  bara  api  maka  hendaknya  dia  mempersedikit  ataukah memperbanyak ” (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu)
Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)
Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi manfaat.
Pertama: Ucapan Nabi :
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah.”
Kedua: Ucapan Nabi :
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ
“Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).”
Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah l, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah l semata, merdeka dari perbudakan makhluk.
Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut.
1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda kepada Umar :
مَا أَتَاكَ مِنْ هذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ, وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
“Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan jiwamu kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)
Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta menghindar dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada mereka, merupakan sebab yang kuat untuk mencapai ‘iffah.
2. Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa cukup dengan Allah , percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada Allah l, pasti Allah l akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan.
Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus  memperkuat ketergantungan dirinya kepada Allah l, berharap dan berambisi terhadap keutamaan Allah l dan kebaikan-Nya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya.
Allah l itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.
Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat ketergantungan kepada Allah l, semakin lemah ketergantungan terhadap makhluk. Demikian pula sebaliknya.
Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi n:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan.” (HR. Muslim no. 6842 dari Ibnu Mas’ud z)
Termasuk  dalam  konteks  tasawwul  atau  meminta  untuk  kepentingan  diri-sendiri adalah hadits Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari 3 orang. Yaitu: (pertama) orang menanggung beban maka halal baginya untuk meminta -minta sampai dia  mendapatkan hartanya kembali, (kedua) orang yang tertimpa kegagalan panen dalam  keadaan  hartanya  telah  dia  habiskan  untuk  modal  menanam, maka  halal  baginya meminta-minta sampai dia mendapatkan harta penegak kehidupannya. (ketiga) orang yang tertimpa kefakiran sampai disaksikan oleh 3 orang cerdas dari kaumnya bahwa dia tertimpa kefakiran, maka  halal  baginya  meminta-minta  sampai  dia  mendapatkan  penegak  bagi kehidupannya. Adapun selain  3  orang  di  atas  maka  itu adalah  harta  haram  yang  dimakan oleh pelakunya, wahai Qabishah!”
(HR. Muslim: 1730, An- Nasa’i 2533, Abu Dawud 1397)
[selesai dalam menyangkut tasawwul]
adapun perkara lain yang bersifat sama hanya perbedaan dari caranya seperti di bawah ini

Hukum Proposal Permohonan Dana

Soal :
Kami memiliki sebuah madrasah untuk anak-anak (TK) laki-laki dan perempuan. Usia mereka berkisar antara 5–12 tahun. Mereka adalah putra-puti salafiyyiin. Pengajarnya dari tamatan Al Jami’ah Al Islamiyah. Praktek belajar mengajar di satu lokasi dengan hijab di antara pelajar. Dan perlu diketahui bahwa madrasah ini tidak berkaitan dengan pemerintah. Pertanyaan kami : Apakah boleh bagi kami untuk mengumpulkan dana dari ikhwah Salafiyyah khususnya untuk mengelola madrasah satu-satunya milik kami tersebut?
Jawab :
Adapun yang berkaitan dengan pengajaran anak-anak kecil hendaknya dilakukan dari belakang tabir (hijab) sekiranya tidak terjadi campur baur antara anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan, baik ketika naik atau turun, keluar atau masuk, masing-masingnya dibuat tempat tersendiri. Apabila ketika masuk dan keluar terjadi ikhtilath, maka tidak dibenarkan.
Adapun bila usia mereka 12 tahun, maka tidak dibenarkan kalau dikategorikan masih kecil. Berapa banyak anak perempuan yang seusia ini sudah menikah, bahkan kalau toh mereka masih kecil, tidak dinasihatkan untuk melakukannya karena ini  merupakan tangga fitnah, sebagaimana yang telah kami terangkan dalam kesempatan yang lalu yang intinya bahwa perkara ini adalah dari praktek orang-orang barat dan propaganda mereka agar anak-anak terbiasa dengan kebatilan dan kemungkaran dan seterusnya. Adapun apabila tidak terjadi ikhtilath maka baik-baik saja sebagaimana disebutkan dalam soal sehingga tidak terjadi fitnah di antara laki-laki dan perempuan.
Kalau mengajarnya lewat pengeras suara atau yang lainnya dari alat yang bisa menyampaikan suara kepada mereka, maka alangkah baiknya.
Perkara kedua, kami menasihatkan kepada yang berniat untuk mengulurkan dananya kepada mereka, maka mudah-mudahan Allah memberinya pahala. Adapun apabila kita berjalan dari pintu ke pintu orang menyodorkan proposal, bahwa kita mengelola madrasah yang diajarkan di dalamnya pelajaran ini dan itu kemudian mereka memberikan dananya (karena sodoran ini), maka hendaknya dijauhi perkara yang seperti ini.
Dan orang yang berniat untuk berbuat naik akan menyalurkan dananya kepada mereka (tanpa diminta). Allah berfirman:
﴿ فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ * لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ ﴾ [الغاشية:21-22]
“Dan berilah peringatan, karena engkau hanya sebagai pemberi peringatan dan bukanlah penguasa mereka.“ (Al Ghosiyah 21-22)
﴿ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ﴾ [فاطر:8]
“Dan janganlah kamu bawa dirimu kepada kegundahan atas mereka.“ ( Fathir 8 )
Yang Allah kehendaki kebaikan akan disampaikan.
Allah berfirman :
﴿ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ﴾ [آل عمران:154]
Katakanlah sesungguhnya semua perkara milik Allah.” (Ali Imron:154)
﴿ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ﴾ [الروم:4]
“Milik Allahlah perkara, sebelum dan sesudahnya.” (Ar Rum:4)
﴿ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾ [آل عمران:26]
“Katakanlah, Ya Allah, Engkaulah Pemilik kekuasaan. Engkau memberi kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan yang Engkau kehendaki. Di TanganMu lah semua kebaikan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imron:26)
Maka kebaikan hanyalah di tanganNya.
Inilah intinya. Jangan kamu melelahkan dirimu dan menghinakan diri, merunduk-runduk menganjurkan orang untuk jadi donatur. Kewajibanmu sekedar mengingatkan kebaikan yang ada. Contohnya, anjurkan kepada ilmu, keutamaan ilmu dan semisalnya, dan manusia akan menyalurkan dananya insya Allah (tanpa kalian minta).
(Al As’ilah Salafiyyah Al Malaiziah)
Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

point ke empat :  

Hukum mendirikan yayasan dan organisasi untuk dakwah

Soal :
Apa hukum mendirikan yayasan atau organisasi untuk menyebarkan da`wah salafiyyah? karena di negeri kami kalau yayasan atau organisasi ini tidak berdiri maka kebanyakan orang tidak tertarik kepadanya bahkan mereka menuduhnya sebagai da`wah yang sesat. Maka sebagian da`i mendirikannya untuk kesinambungan  da`wah ini. Jazakumullahu Khairan.
Jawab :
Saya katakan kepadamu wahai saudaraku ajarkanlah pelajaran di masjid dan tetaplah di dalamnya walaupun sendiri. Barangsiapa yang datang kepadamu di atas kebaikan dan sunnah dan walaupun hanya sepuluh orang bersamamu dan kamu ajari mereka kitab dan sunnah  maka engkau dianggap sebagai da`i yang beruntung dan berhasil.
Demi Allah sepuluh orang yang datang kepadamu dan kamu mengajari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam kepada mereka dan mereka keluar sebagai ulama dan da`i maka sesungguhnya engkau beruntung. Tinggalkanlah keinginan mencari pengikut yang banyak dan mengumpulkan pengikut dari sana dan sini dengan alasan orang awwam berkata demikian mereka menginginkan demikian dan mereka menyukai demikian.
Wahai saudaraku, orang-orang awwam sangat butuh pengarahan untuk diri mereka sendiri bukanlah mereka yang mengarahkanmu dan menguasaimu, sebaliknya kamulah yang harus menjelaskan kepada mereka bahwa belajar agama di masjid adalah lebih utama. Dan bahwasanya kita salafiyyun tidak butuh terhadap organisasi, karena organisasi ini tidaklah mendatangkan sesuatu bagi manusia kecuali percekcokan, penyakit, perpecahan dan perselisihan serta menyempitkan dada.
Rasulullah Shallalahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:
«من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد»
“Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara agama kami ini maka yang ia bukan bagian darinya maka ia tertolak” (Hadist Aisyah Radiyallahu `anha Riwayat Al-Bukahri (2697) dan Muslim (1718))
Demi Allah ketetapan dan kondisi  perkara ini di zaman  Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam sudah ada. Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu dia adalah golongan hartawan, Abdurrahman bin `Auf radhiyallahu `anhu ia adalah golongan hartawan dan Abu Thalhah setelah itu menjadi golongan hartawan juga dan sejumlah  hartawan dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi mereka ada Ashaabus Suffah. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi shodaqoh maka beliau mengirimkan shodaqoh itu kepada mereka sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah (diriwatkan Al-Bukhari 6452) dan jika beliau diberi hadiah maka beliau mengambil sebagiannya kemudian beliau memberikan kepada mereka dan beliau tidak berkata “Berkumpullah kalian dan buatlah kotak infaq atau organisasi untuk Ashabus Suffah dan yang semisal denganAshabus Suffah“. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika didatangi tamu maka beliau mengirim tamu itu kepada keluarga-keluarga beliau, maka beliau tidak mendapatkan sesuatu kecuali air. Setiap istri beliau berkata, “Demi Allah kami tidak memiliki sesuatu keculai air,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang hendak menjamu tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”  maka dibawalah dia oleh salah seorang shahabat beliau dan ia diberi makan makanan anak kecil. (Hadist tersebut di dalam As-Shahihain dari hadist Abu Hurairah, Al-Bukhari 4889 dan Muslim 2094)
Janganlah salah satu  di antara kalian merasa gentar dan takut untuk mengatakan kebenaran. Demi Allah organisasi-organisasi ini tidaklah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya katakan ini dengan terus terang!! Ia tidaklah datang kecuali dari orang-orang yang menganggap baik dalam agama mereka. Mereka tidak memiliki syara’ yang benar yang mereka jalani di dalam agama mereka. Karena itu mereka mendatangkan sesuatu dari mereka sendiri untuk mereka jalani seperti Jam’iyyah Yunus, organisasi ini, organisasi itu. Adapun kita, maka agama kita adalah agama rahmah dan agama kita adalah agama yang benar, memberi hak pada setiap yang berhak mendapatkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang mukmin dan mukmin yang lain ibarat bangunan. Yang mana sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (Hadits Abu Musa Al Asy’ari, Bukhari 481 dan Muslim 2585)
«مثل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ»
“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam menyayangi dan mencintai sesama mereka seperti satu jasad.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Nu’man bin Basyir)
Sedangkan agama kita adalah agama yang mensyariatkan zakat, sedekah, dan berbuat baik kepada orang tua dan memberi hak tetangga, hak persaudaraan dan memuliakan tamu, maka kita tidak butuh terhadap organisasi semacam ini. Kita berjalan di atas jalan salaf kita –rahimahumullah-.
(Al As’ilah Al Indonisiah, 25 Jumadi Tsaniyah 1424 H)
Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

[ selesai penukilan ]
alhamdulillah ana cukupkan perkara ini insya alloh kita sambung lagi…….
barakallohufiikum

Iklan

Satu Tanggapan

  1. dibawah ini adalah fatwah dari ulama salafy sendiri LARANGAN MENDENGARKANRADIO TURATSIYYAH-HALABIYYAH-MA’RIBIYYAH (semisal RODJA dll.)(Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah)new1aPertanyaan:Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?Jawab:Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA.JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….(diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012)Link Suara: http://bit.ly/NVrfUkFaidah-faidah yang bisa kita petik:1. Si penanya tidak menyebutkan secara khusus nama radio tertentu kecuali penyifatannya adalah radio dari kalangan Turatsiyyun, Abul Hasan, Al-Halaby, Ar-Ruhaily. Ini mengandung faidah yang sangat luas bahwa hukum yang ditanyakan tersebut tidak hanya tertuju pada satu atau dua radio saja (tidak ada celah bagi hizbiyyin dan para pembelanya untuk beralasan [misalnya] “Itu kan fatwa larangan untuk radio A bukan larangan mendengarkan radio B, C atau yang lainnya” atau berhilah “Nama radionya sudah berubah dari RODJA menjadi RADJA, jadi fatwa tentang larangan mendengarkan radio RODJA sudah tidak berlaku lagi” dan hilah-hilah yang lainnya.).2. Syaikh memberikan penegasan yang jelas lagi gamblang TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH. Maka apapun nama radio tersebut yang memiliki sifat-sifat di atas masuk dalam larangan beliau.3. Asy-Syaikh pada bulan Mei 2012 kemarin masih memperingatkan Salafiyyin tentang Penyimpangan Turotsiyyah maka ini adalah bantahan terhadap ucapan semisal masalah Ihya’ut Turots sudah selesai dan yang masih membicarakannya adalah PAHLAWAN KESIANGAN.4. Larangan bagi awam Ahlussunnah untuk mendengarkan radio Turotsiyah Halabiyyah Ma’ribiyyah.5. Bolehnya bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan radio tersebut dalam rangka membantahnya (maka bagaimana pula jika dia malah berpromosi, memuji, men-Salafy-kan dan membela tokoh-tokohnya serta menghasung ribuan orang lainnya untuk mendengarkannya?). Wallahul musta’an.Diterjemahkan oleh Tim Darussalaf.or.id,.Muroja’ah : Al-Ustadz Muhammad Ar-Rifa’i (Alumni Yaman) dg sumber dari web mereka http://darussalaf.or.id/stories.php?id=2094

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    rahmatsg di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    rahmatsg di Larangan mendengarkan melihat…
    rahmatsg di Larangan mendengarkan melihat…
    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: