Iman menurut lughot atau Bahasa


Bismillah…
Hakikat Iman menurut lughat atau bahasa adalah at-tashdiq, artinya membenarkan sesuatu sebagaimana adanya dengan yang dibenarkan tersebut, baik Nabi atau yang lainnya.
Adapun hakikat Iman menurut syara’ atau istilah, para ahli hakikat muhaqqiq dari golongan Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidy mengatakan; “Membenarkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta yang diwahyukan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya, dari agama islam dengan pengetahuan yang dharurah agar orang awam dapat mengetahui dengan atau tanpa dalil. Maka hakikat iman atas orang awam itu disebut basith, artinya tiada tersusun, yakni tashdiq hati atas yang demikian itu.”
Mengenai iqrar dua kalimat syahadat bukan merupakan hakikat iman, tetapi hanya sebagai syarat untuk melaksanakan segala hukum islam di dunia, demikian menurut Sa’aduddin dalam Syarh Aqa’id. Perkataan inilah yang menjadi acuan Syeikh Abu Manshur al-Maturidy. Karena tashdiq di dalam hati itu meskipun merupakan hakikat iman, tetapi bersifat batin dan samar atau tersembunyi. Maka yang demikian itu merupakan tanda atau alamat yang menunjukkan atas iqrar terhadap dua kalimat syahadat, agar ia dapat melaksanakan segala hukum islam.
Perkataan tersebut memberi pengertian kepada kita;
“Barang siapa di dalam hatinya tashdiq atas segala apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan lidahnya, maka orang tersebut mukmin pada batinnya terhadap pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala, karena ada hakikat iman padanya yakni tashdiq. Dan mukmin pula pada dhahirnya terhadap pengetahuan manusia, karena ada tanda baginya yakni iqrar. Maka dapat dilaksanakan baginya segala hukum islam, sah dia dinikahkan dengan orang islam, sah menjadi imam shalat, sembelihannya halal dimakan, apabila ia meninggal jenazahnya dimandikan dan dishalatkan serta dimakamkan di pemakaman orang islam, hartanya boleh diwarisi oleh kerabatnya yang beragama islam, dan segala hukum islam lainnya yang berlaku bagi orang islam.”
“Barang siapa di dalam hatinya tashdiq tetapi lidahnya tidak menyatakan iqrar dua kalimat syahadat, bukan disebabkan bisu atau kelu, bukan pula karena enggan berbantah-bantahan, maka orang tersebut mukmin pada batinnya karena ada padanya hakikat iman yakni tashdiq, tetapi tidak mukmin pada dhahirnya karena tidak ada tanda kenyataan imannya. Maka tidak diberlakukan padanya segala yang bersangkutan dengan hukum islam, tetapi di negeri akhirat dia menjadi penghuni surga karena ada iman baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa sekecil apapun iman di dalam hati seseorang, maka dia berhak mendapat surga. (HR. Muslim – pent).”
“Barang siapa di dalam hatinya tidak ada tashdiq, tetapi lidahnya mengiqrarkan dua kalimat syahadat sebagaimana kelakuan orang munafik. Orang tersebut tidak mukmin pada batinnya karena tidak ada tashdiq. Di negeri akhirat dia menjadi penduduk neraka serta kekal di dalamnya. Tetapi dihukumkan mukmin pada dhahirnya karena ia mengiqrarkan dua kalimat syahadat. Maka berlakulah baginya di dunia segala hukum islam, tidak dihukumkan kafir pada dhahirnya kecuali jika ditemukan tanda kedustaan akan iqrarnya seperti menyembah berhala, membuang mushaf al-Qur’an ke tempat najis, dan sebagainya. Jika tanda tersebut ditemukan padanya, maka jatuhlah hukum kafir atasnya dan tidak diberlakukan lagi padanya segala hal yang tersangkut hukum islam.”
Inilah qaul atau perkataan yang mu’tamad pada masalah hakikat iman.
Adapun mengenai dalil yang menunjukkan bahwa iman itu adalah tashdiq, membenarkan di dalam hati, bukan iqrar dengan lidah, perhatikan beberapa ayat al-Qur’an di bawah ini;
أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ
“Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka”(al-Mujaadilah:22)
وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ
“dan hatinya tetap tenang dalam beriman”(an-Nahl:106)
وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”(al-Hujuraat:14)
Sebagian ulama seperti Abu Hanifah dan Jama’ah Abul Hasan al-Asy’ari qaul kedua bahwa hakikat iman itu murrakab, yakni tersusun dari dua perkara. Pertama tashdiq hati, membenarkan segala apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua iqrar lidah, dengan menyebut dua kalimat syahadat. Maka menurut pendapat ini, “barang siapa ada tashdiq dalam hatinya dengan hal tersebut di atas, tetapi lidahnya tidak mengiqrarkan dua kalimat syahadat padahal ia kuasa berbuat demikian, maka orang tersebut tidak mukmin pada dhahir dan batinnya, dan dia tidak menjadi penghuni surga melainkan menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.”
Demikian pendapat kedua dari dua pendapat yang masyhur tentang hakikat iman.
“Maka barang siapa ada tashdiq di dalam hatinya, membenarkan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan lidahnya mengiqrarkan dua kalimat syahadat, namun ia tidak mengerjakan amal shalih, orang tersebut mukmin tetapi tidak sempurna imannya lagi durhaka karena tidak mengerjakan atau meninggalkan amal shalih. Tetapi, sekalipun ia tashdiq, iqrar dan mengerjakan amal shalih, namun ia mengerjakan hal-hal yang kufur seperti menyembah berhala, membuang mushaf al-Qur’an ke tempat najis, mengucapkan perkataan kufur, dan sebagainya dari hal-hal yang menyebabkan kekafiran, maka orang tersebut dihukum kafir, karena menurut syara’ perbuatan tersebut menandakan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan segala yang dibawa olehnya.”
Bilamana diketahui bahwa ia bersujud kepada berhala bukan untuk membesarkan atau mengi’tiqadkan ketuhanan, dan hatinya tetap tashdiq, maka orang tersebut tidaklah dihukum kafir batin, melainkan hanya kafir pada dhahirnya. Tidak diberlakukan hukum islam padanya. Demikian menurut Syeikh Ibnu Hajar di dalam Kitab Tuhfah, dinukil dari Kitab Muwafiq dan syarahnya.
Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa hakikat iman itu terdiri dari tiga perkara yakni, pertama iqrar dengan lidah, kedua tashdiq membenarkan dengan hati, dan ketiga amal shalih dengan anggota badan. Menurut mereka, barang siapa ada baginya iqrar dan tashdiq tetapi tidak mengerjakan amal shalih, orang tersebut tidak mukmin, tetapi tidak dikatakan kafir karena ada iqrar dan tashdiq. Mereka menetapkan wasithah antara iman dan kafir yakni fasiq. Namun pendapat ini batal sehingga janganlah hendaknya dianut.
Pertanyaan:
Jika dikatakan bahwa iman menurut jumhur fuqaha (ahli fiqih), muhaditsin (ahli hadits) dan mutaakallimin (ahli ilmu kalam) adalah terhimpun dalam tiga perkara yakni pertama iqrar dengan lidah, kedua tashdiq dengan hati, dan ketiga amal shalih dengan anggota badan, maka apakah bedanya dengan i’tiqad kaum Mu’tazilah?
Jawab:
Adapun amal shalih pada ketiga golongan tersebut (fuqaha, muhaditsin, mutaakallimin) tidak termasuk rukun iman, tetapi hanya menjadi syarat sempurnanya iman, jadi berada di luar hakikat iman. Sedangkan amal shalih pada Madzhab Mu’tazilah merupakan rukun iman, termasuk dalam hakikat iman.

Islam

Pertanyaan:
Jika ditanyakan, apakah arti islam menurut lughat atau bahasa dan menurut syara’?
Jawab:
Islam menurut lughat atau bahasa adalah   الخضوع والإنقياد  “khudu’ dan inqiyad”, artinya tunduk dan patuh atau merendah diri dan mengikuti.
Adapun islam menurut istilah atau syara’ adalah  امتثال المأمورات واجتناب المنهياّت  “imtitsalull ma’muuraati wajtinaabul mahniyyaati”, artinya mengikuti serta mengerjakan segala yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala apa yang dilarangNya, menerima serta ridha dengan segala hukumNya dan tidak menolaknya, sama halnya apakah diamalkan atau tidak.”
Pertanyaan:
Apakah antara iman dan islam itu berbeda atau sama antara satu sama lain?
Jawab:
Adapun antara iman dan islam itu berbeda dalam pengertian sebagaimana definisi (ta’rif) tersebut sebelumnya. Namun keduanya sebagaimana dua sisi mata uang, saling berhubungan dalam syara’. Tidak akan diperoleh mukmin tanpa muslim dan sebaliknya. Barang siapa bersifat dengan iman, maka bersifatlah ia dengan islam dan barang siapa bersifat dengan islam, maka bersifatlah ia dengan iman. Tidak terlepas iman dengan islam dalam hal syara’, demikian pula tidak terlepas islam dengan iman dalam hal syara’.
Oleh karena itu bagi orang-orang yang beriman, wajib hukumnya memelihara imannya dari segala hal yang dapat merusaknya, karena siapa saja yang rusak imannya, maka jatuhlah ia pada kekafiran serta musnahlah segala amal yang dikerjakannya. Orang yang demikian menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.
Na’udzu billahi min dzalik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: