Allah ada tanpa tempat dan arah


Bismillah…

Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Hanafi, berkata:


وَالله تَعَالَى يُرَى فِي الآخِرَة، ويَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوْسِهِمْ بِلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيّة، وَلاَ يَكُوْنُ بَينَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة

“Allah di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)”[1].

Beliau juga berkata dalam kitabnya al-Washiyyah:

“وَلِقَاءُ اللهِ تَعَالَى لأهْلِ الْجَنّةِ بِلا كَيْفٍ وَلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ جِهَةٍ حَقٌّ”

“Penduduk surga kelak akan melihat Allah dengan tanpa adanya keserupaan dan tanpa adanya arah bagi-Nya. Dan ini adalah suatu yang haq”[2].

Juga berkata:

“قُلْتُ: أَرَأَيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ تَعَالَى؟   فَقَالَ ـ أيْ أبُوْ حَنِيْفَةَ ـ : يُقَالُ لَهُ كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أَيْنَ وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَىءٍ”

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”[3].

Juga berkata:

“وَنُقِرّ بِأَنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إلَيْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ الْعَرْشِ وَغَيْرِ الْعَرْشِ مِنْ غَيْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوْقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الْجُلُوْسِ وَالْقَرَارِ فَقَبْلِ خَلْقِ الْعَرْشِ أيْنَ كَانَ اللهُ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا”

“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahmân ‘Alâ al-’Arsy Istawâ” (sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an) dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada arsy tersebut da tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya (termasuk arsy) di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung”[4].

(( Catatan Tambahan Penting )) 

            Perkataan al-Imâm Abu Hanifah ini adalah ungkapan yang sangat jelas dalam bantahan terhadap pendapat kaum Musyabbihah dan kaum Mujassimah, termasuk kelompok yang bernama Wahhabiyyah sekarang; mereka yang mengaku sebagai kelompok Salafi. Kita katakan kepada mereka: Para ulama Salaf telah sepakat mengatakan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Salah satunya adalah al-Imâm Abu Hanifah yang merupakan salah seorang terkemuka di kalangan mereka. Beliau telah mendapatkan pelajaran dari para ulama tabi’in, dan para ulama tabi’in tersebut telah mengambil pelajaran dari para sahabat Rasulullah. Saudaraku, hafalkanlah perkataan al-Imâm Abu Hanifah ini, sangat penting untuk membantah akidah sesat orang-orang Wahabi yang mengaku berakidah Salaf.

            Tanpa harus dihitung sekalipun, sesungguhnya mayoritas pengikut al-Imâm Abu Hanifah; artinya mereka yang bermadzhab Hanafi, di manapun berada; di Lebanon, Siria, Turki, Indonesia, India, dan lainnya mereka semua di atas satu keyakinan suci; ialah mensucikan Allah dari menyerupai segala makhluk-Nya, mensucikan Allah dari tempat dan arah, kecuali beberapa orang saja yang berakidah rusak karena berakidah tajsim sebab terseret ajaran sesat Wahabi dan terlenakan oleh gemerlapnya dunia, atau mereka yang terkena faham sesat Ibn Taimiyah, seperti salah seorang yang mengaku bermadzhab Hanafi, bernama Ibn Abi al-‘Izz. Orang yang disebut terakhir ini menulis buku sebagai penjelasan (syarh) terhadap Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi, namun isinya berisi faham-faham tajsim ala Ibn Taimiyah yang sangat menyesatkan. Benar, Ibn Abi al-‘Izz ini laksana bayangan Ibn Taimiyah, semua ajaran sesat Ibn Taimiyah setiap jengkalnya ia ikuti dan ia tuangkan dalam bukunya itu, di antaranya ia mengatakan dan menguatkan pendapat Ibn Taimiyah bahwa neraka akan punah, -yang juga ini merupakan keyakinan kaum Wahhabi sekarang-. Na’udzu billah. Ini artinya menurut Ibn Taimiyah, Ibn Abi al-‘Izz, dan orang-orang Wahabi; bahwa siksa neraka terhadap orang-orang kafir, orang-orang musyrik, para penyembah berhala, orang yang telah memerangi ajaran Allah dan membunuh para nabi-Nya akan habis, dan mereka semua akan keluar dari naraka. Keyakinan semacam ini jelas mendustakan ayat-ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah dalam QS. Fathir: 36: “La Yukhaffafu ‘Anhum Min ‘Adzabiha” (Tidak diringankan bagi mereka -orang-orang kafir- sedikitpn dari siksaan neraka). Termasuk kesesatan Ibn Taimiyah yang diikuti oleh Ibn Abi al-‘Izz adalah perkataannya bahwa jenis alam ini tidak memiliki permulaan (azali bersama Allah), menurutnya yang baharu dan yang diciptakan oleh Allah hanya materi-materinya saja. Na’udzu billah.

            Semua ulama Islam telah sepakat (ijma’), dari semenjak masa sahabat nabi hingga  sekarang ini bahwa dua keyakinan tersebut di atas adalah keyakinan kufur. Sesungguhnya semua orang Islam tahu dan meyakini secara pasti, bahkan seorang yang awam sekalipun; bahwa neraka dengan siksaan di dalamnya kekal tanpa penghabisan, Allah berkehendak bagi neraka untuk tidak punah. Juga semua orang Islam tahu dan meyakini secara pasti bahwa alam ini (segala sesuatu selain Allah) adalah baharu, baik jenis maupun materinya; semua itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada. Keyakinan ini diwarisi oleh setiap orang muslim berakidah lurus dari masa ke masa, antar generasi ke generai; kecuali mereka yang hatinya gelap gulita disesatkan oleh Allah hingga mereka mengikuti ajaran setan.

            Yang membuat miris; ternyata buku karya Ibn Abi al-‘Izz di atas menjadi materi ajar pokok bagi orang-orang Wahabi. Mereka mengajarkan akidah sesat itu di sekolah-sekolah dasar hingga perguruan tinggi mereka dan bahkan menyebarkannya dalam bentuk buku di antara orang-orang Islam secara gratis. Mereka mengatakan bahwa buku sesat karya Ibn Abi al-‘Izz itu adalah representasi yang sangat murni dari keyakinan ulama Salaf dahulu. Hasbunallah.

            Kita katakan; Demi Allah, pengakuan mereka bahwa karya Ibn Abi al-‘Izz itu adalah representasi keyakinan ulama Salaf adalah bohong besar, mereka telah benar-benar menyebarkan kekufuran dengan kedok dan nama Salaf. Benar, bohong besar seperti itulah yang telah menjadi kebiasaan dan tradisi di antara mereka. Kelak mereka semua akan mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka perbuat ini.

            Adapun ungkapan al-Imâm Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa telah menjadi kafir seorang yang berkata “Aku tidak mengetahui Tuhanku apakah ia di langit atau di bumi!?”, demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah di atas arsy dan aku tidak tahu arah arsy apakah ia di langit atau di bumi!?”, hal ini karena kedua ungkapan tersebut menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah. Karena itu al-Imâm Abu Hanifah mengkafirkan orang yang mengatakan demikian. Karena setiap yang membutuhkan kepada tempat dan arah maka berarti ia adalah pastilah sesuatu yanga baharu. Maksud ungkapan al-Imâm Abu Hanifah tersebut bukan seperti yang disalahpahami oleh orang-orang Musyabbihah bahwa Allah berada di atas langit atau di atas arsy. Justru sebaliknya maksud ungkapan beliau ialah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah sebagaimana dalam ungkapan-ungkapan beliau sendiri yang telah kita tulis di atas.

            Maksud dua ungkapan al-Imâm Abu Hanifah di atas juga telah dijelaskan oleh al-Imâm al-Izz ibn Abdissalam dalam kitabnya Hall ar-Rumûz, beliau berkata:

لأن هذا القول يوهم أن للحق مكانا، ومن توهم أن للحق مكانا فهو مشبه

Al-Imâm Abu Hanifah mengkafirkan orang mengatakan dua uangkapan tersebut- Karena dua ungkapan itu memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat, dan siapa yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka ia adalah seorang Musyabbih (seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)”[5].

            Pernyataan al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam ini juga dikuatkan oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari yang berkata:

ولا شك أن ابن عبد السلام من أجل العلماء وأوثقهم، فيجب الاعتماد على نقله

“Tanpa diragukan lagi bahwa al-Izz ibn Abd as-Salam adalah orang yang paling paham terhadap maksud dari perkataan al-Imâm Abu Hanifah tersebut. Karenanya kita wajib membenarkan apa yang telah beliau nyatakan”[6].

Catatan Kaki

[1] Lihat al-Fiqh al-Akbar karya al-Imâm Abu Hanifah dengan penjelasannya karya Mulla Ali al-Qari, h. 136-137

[2] Lihat al-Washiyyah karya al-Imâm Abu Hanifah, h. 4. Perkataannya ini juga dikutip oleh Mulla Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 138

[3] Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imâm Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqîq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20. Perkataan al-Imâm Abu Hanifah ini  juga dikutip oleh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam kitab ad-Dalîl al-Qawîm, h. 54

[4] Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah al-Imâm Abu Hanifah tahqîq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam ad-Dalîl al-Qawîm, h. 54, dan Mulla Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 70.

[5] Dikutip oleh Mulla Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 198

[6] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: