Ahlusunnah adalah Asya’irah


 

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad, mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip keyakinan (I’tiqad), yaitu keyakinan pada enam perkara yang tersebut dalam hadits Jibril bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 
الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره
 
Maknanya: “Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadar (ketentuan Allah), dan apa-apa yang ditentukan oleh Allah (al maqdur) yang baik dan yang buruk”.
 
Generasi paling mulia dari seluruh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang hidup pada tiga abad pertama, sebagaimana tersebut dalam hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
 
خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
 
Maknanya: “Sebaik-baik ummatku adalah mereka yang hidup seabad denganku, kemudian abad berikutnya, kemudian abad berikutnya”.
 
Makna “qarn”yang tersebut dalam hadits tersebut adalah seratus tahun, ini sesuai dengan pemaknaan yang dipilih oleh al Hafizh Abu al Qasim Ibnu Asakir dan para ulama lainnya, dan mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama’ah- juga yang dimaksudkan dalam hadits riwayat at Tirmidzi dan lainnya:
 
أصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم وفيه قوله عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد فمن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
 
Maknanya:”Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka”. dalam terusan hadits tersebut terdapat: “Tetap berpegangteguhlah kalian pada mayoritas umat, dan jangan terpecah belah, karena setan itu bersama satu orang, dan dia akan lebih jauh dari dua orang, barangsiapa menginginkan tempat yang lapang di surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan ajaran al Jama’ah”.
 
Hadits tersebut dinilai shahih oleh al Hakim dan at-Tirmidzi menilai hadits ini adalah hadits hasan shahih.
Mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama’ah- juga yang dimaksudkan dengan al Jama’ah yang tersebut dalam hadits riwayat Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
وإن هذه الملة ستفترق إلى ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة
 
Maknanya:”Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya akan masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga, yaitu al Jama’ah”.
 
Yang dimaksud dengan al Jama’ah di sini adalah kelompok mayoritas ummat, bukan shalat berjama’ah, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Zaid ibn Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
ثلاث لا يغل عليهن قلب المؤمن إخلاص العمل والنصيحة لولي الأمر ولزوم الجماعة فإن دعوتهم تكون من وراءهم
 
al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani menilai hadits ini adalah hadits hasan.
 
Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mayoritas ummat dan kelompok yang selamat. Semenjak tahun 260 Hijriyyah telah menyebar bid’ah dalam aqidah dari golongan Mu’tazilah,Musyabbihah dan lain-lain, akan tetapi Allah ta’ala menjadikan dua imam besar Abu al Hasan al Asy’ari (w. 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (w. 333) –semoga Allah meridlai keduanya-, mereka berdua berjuang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan aqidah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan menetapkan dalil-dalil naqli dan aqli serta bantahan terhadap syubhat-syubhat golongan Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga akhirnya Ahlussunnah dinisbatkan kepada mereka berdua, dan dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Asy’ariyyun (pengikutImam Asy’ari) dan Maturidiyyun (pengikut Imam Maturidi).
 
al ‘Izz ibn Abdissalam menyebutkan bahwa aqidah imam al Asy’ari telah disepakati oleh para penganut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali, dan pernyataan beliau tersebut disetujui oleh tokoh ulama madzhab Maliki yang hidup di masanya, yaitu Abu ‘Amr ibn al Hajib, dan tokoh Madzhab Hanafi Jamaluddin al Hushairi, dan juga disepakati oleh as-Subki .
 
Tajuddin as-Subki berkata: “Dan mereka penganut madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali semuanya adalah satu dalam aqidah, mereka semua mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, tunduk beragama kepada Allah dengan mengikuti madzhab syaikhussunnah Abu al Hasan al Asy’ari –semoga Allah merahmatinya- lalu beliau berkata juga: Secara garis besar aqidah yang diajarkan oleh Imam al Asy’ari adalah ajaran-ajaran aqidah yang dimuat oleh kitab aqidah Imam Abu Ja’far at-Thahawi (al Aqidah ath-Thahawiyyah) yang diterima oleh para ulama berbagai madzhab dan diridlai sebagai aqidah yang benar”.
 
Al hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Syarh Ihya’ Ulum ad-Din berkata : “Jika disebutkan Ahlussunnah wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.
 
al Faqih al Hanafi Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya berkata : Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kaum asy’ariyyah dan maturidiyyah”.
 
Abu Bakar ibn Qadli Syuhbah dalam kitab Thabaqat-nya : “Syeikh Abu al Hasan al Asy’ari al Bishri Imam para mutakallimin, pembela ajaran sayyidil mursalin, dan penegak agama”.
 
Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi –semoga Allah merahmatinya- menulis: “al Asy’ariyyah adalah Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri dan penegak syari’at, mereka bangkit untuk membantah para penyebar bid’ah seperti kelompok Qadariyyah dan lain-lain, maka siapapun yang mencela mereka, berarti telah mencela ahlussunnah, dan jika diajukan perkara dia itu kepada pemimpin yang mengurus perkara umat Islam, maka wajib untuk diberi pelajaran dengan hukuman yang membuat setiap orang jera”. Syeikh Abu BakrMuhammad ibn Ahmad as-Syasyi murid Syeikh Abu Ishaq menyetujui dan menandatangani pernyataan gurunya ini.
 
Inilah agama Allah yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalihdan ajaran itu diwarisi dari para generasi salaf oleh generasi al khalaf as-shalih, dan Mazhab Asy’ari dan Maturidi dalam aqidah adalah satu. Madzhab yang benar yang dianut oleh as-Salaf as-Shalihadalah madzhab yang dianut oleh Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, pengikutnya berjumlah ratusan juta ummat Islam, lalu bagaimana mungkin mereka yang mayoritas itu dikatakan sesat, dan sebaliknya bagaimana bisa kelompok minoritas yang hanya berjumlah sekitar tiga jutaan dianggap benar, yang benar adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mayoritas ummatnya tidak akan berada dalam kesesatan secara bersama-sama, dan ini adalah salah satu keistimewaan bagi ummat Nabi Muhammad ini, hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah menunjukkan akan hal ini, yaitu sabda beliau:
 
إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة
 
Maknanya:”Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan”.
Dan dalam riwayat Ibnu Majah dengan tambahan:
 
فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم
 
Maknanya: “Kalau kalian melihat adanya perselisihan, maka berpegang teguhlah pada ajaran mayoritas umat”.
Hadits mauquf Abu Mas’ud al Badri juga menguatkan kebenaran hal ini, yaitu perkataan beliau:
 
وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة
 
Maknanya:”Berpegang teguhlah kalian pada ajaran al Jama’ah, karena Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan”.
 
Al hafizh Ibnu Hajar al Asqalani menilai hadits ini dan mengatakan: “Sanadnya hasan” juga hadits mauquf Abdullah ibn Mas’ud yang juga shahih nisbatnya kepada beliau, yaitu perkataan beliau:
 
ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون قبيحا فهو عند الله قبيح
 
Maknanya:”Apa yang dilihat oleh orang-orang Islam sebagai kebaikan, maka itulah sejatinya kebaikan yang dianjurkan oleh Allah, dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai keburukan, maka itulah sebenarnya keburukan yang dilarang oleh Allah”.
 
alHafizh Ibnu Hajar berkata: “Ini adalah hadits mauquf yang hasan”.
 
Maka jelaslah bahwa aqidah yang benar yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalihadalah ajaran yang dianut oleh Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, jumlah mereka mencapai ratusan juta umat Islam, mereka adalah kelompok mayoritas dalam ummat ini, penganut Madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan pemuka-pemuka Mazhab Hanbali yang lurus, dan Rasulullah telah mengabarkan bahkan mayoritas ummatnya tidak akan tersesat, maka sungguh beruntung orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran ini.
 
Maka wajib hukumnya untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari aqidah al Firqah anNajiyyahini, yang mana mereka itu adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling utama, ilmu yang menjalaskan tentang pondamen agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Amalan apakah yang paling utama”, beliau menjawab: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (H.R. al Bukhari). Maka tidak perlu dihiraukan ocehan-ocehan golongan musyabbihah yang menjelek-jelekkan ilmu ini, mereka mengatakan bahwa ilmu aqidah adalah ilmu kalam yang dicela oleh generasi salaf, dan mereka tidak tahu bahwa ilmu kalam yang tercela adalah ilmu kalam yang dicetuskan dan ditekuni oleh sekte-sekte mu’tazilah, musyabbihah dan golongan-golongan ahli bid’ah yang serupa dengan mereka, adapun ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh Ahlussunnah, yang mana dasar-dasarnya sudah ada di zaman sahabat, dan kami telah sebutkan mengenai hal itu. Banyak ulama yang menulis kitab-kitab berisi penjelasan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti kitab al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (w. 321 H), al Aqidah an-Nasafiyyah karya al Imam an-Nasafi (w. 573 H), al Aqidah al Mursyidahkarya Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah al Hasani yang lebih dikenal dengan julukan Ibnu Tumart (w. 524 H), yang mana kitab ini diajarkanoleh Syekh Fakhruddin Ibnu Asakir (w. 620 H), al Aqidah as-Shalahiyyah karya Imam Muhammad ibn Hibatillah al Makki (w. 599 H) yang diberi nama Hadaiq al Fushul wa Jawahir al Ushul, kitab ini kemudian dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al Ayyubi (w. 589 H), dan sang sultan pun menerimanya dengan penuh kegembiraan, beliau pun memerintahkan agar kitab tersebut diajarkan untuk semua kalangan bahkan kepada anak-anak di madrasah-madrasah sehingga kitab ini akhirnya dinamakan dengan al Aqidah ash-Shalahiyyah, dan Sultan Shalahuddin sendiri yang tercatat sebagai seorang alim dalam fiqih Madzhab Syafi’i memiliki perhatian khusus dalam menyebarkan aqidah sunniyyah ini, beliau memerintahkan kepada para muadzdzin pada waktu tasbih untuk mengumandangkan aqidah ini setiap malam, baik di Mesir, daratan Syam, Makkah atau Madinah, sebagaimana hal ini telah dinukil oleh Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya al Wasail ila Musamarah al Awail dan lain-lain, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain dalam bidang aqidah yang masih juga dikarang dan ditulis hingga sekarang.
Beberapa nash yang menunjukkan keutamaan Asya’irah
Allah ta’ala berfirman:
 
يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم (المائدة: 54)
 
Maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman, siapapundari kalian yang keluar dari agamanya (Islam), maka Allah akan mendatangkan kaum yang Ia ridlo kepada mereka dan mereka itu cinta kepada Allah, mereka itu bersikap lembut kepada sesama orang-orang mukmin, dan bersikap keras kepada orang-orang kafir, berjihad di jalan yang diridlai oleh Allah, dan tidak takut pada celaan orang yang mencela, itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada siapapun yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Pemurah lagi Maha Mengetahui”.
 
alHafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari dan al Hakim dalam Mustadraknya menyebutkan bahwa ketika turun ayat:
 
فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mereka adalah kaummu wahai abu Musa”, seraya tangan beliau menunjuk kepada Abu Musa al Asy’ari”, al Hakim berkata: “Hadits ini shahihsesuai dengan syarat Muslim”, juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabaridalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dan juga oleh Ibnu Sa’d dalam thabaqatnya, juga at-Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir.al Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid berkata mengenai hadits ini: “Para perawinya adalah perawi-perawi hadits shahih”.
 
alQusyairi berkata: “Jadi para pengikut Abu al Hasan al Asy’ari adalah kaum Abu Musa, karena dimanapun jika disandarkan kaum kepada nabi maka yang dimaksud adalah para pengikutnya, disebutkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya (juz. 6, hal. 220)”.
 
al Baihaqi berkata: “Hal itu dikarenakan fadhilah yang agung dan martabat yang mulia dalam hadits ini bagi Imam Abu al Hasan al Asy’ari –semoga Allah meridlainya-, beliau adalah termasuk anak cucu dan keturunan Abu Musa al Asy’ari yang diberi kelebihan ilmu, dikaruniai kepahaman, dan diberi kekhususan oleh Allah sebagai penegak ajaran nabi dan pemberantas bid’ah dengan mengungkapkan dalil dan membantah syubhat”.Pernyataan ini disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibal Muftari.
 
Imam al Bukhari meyebutkan dalam Shahihnya: “Bab datangnya kaum Asy’ariyyin dan penduduk Yaman”.Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mereka adalah bagian dariku dan aku bagian dari mereka”.
 
Ketika turun ayat ini, tidak lama kemudian datanglah segerombolan kaum asy’ariyyin dan kabilah-kabilah dari yaman, al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
أتاكم أهل اليمن هم أرق أفئدة وألين قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية
 
Maknanya: “Telah datang kepada kalian orang-orang yaman, mereka lebih lembut hatinya dan lebih halus perasaannya, termasuk salah satu keimanan yang sempurna adalah keimanan orang-orang Yaman, dan hikmah yang sempurna adalah hikmah dari Yaman”.
 
Imam al Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Imran ibn al Hushain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh sekelompok orang dari Bani Tamim, lalu rasulullah mengatakan kepada mereka: terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim, namun mereka menjawab: Engkau telah memberi kabar gembira kepada kami, maka berilah kami dua kali, maka seketika itu raut muka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah –karena menyesalkan sikap mereka itu yang lebih mengutamakan dunia- lalu kemudian beliau didatang juga oleh sekelompok orang dari yaman, beliau pun mengatakan kepada mereka: Wahai orang-orang yaman terimalah kabar gembira yang tidak diterima oleh bani Tamim”, mereka pun menjawab: kami telah menerimanya wahai Rasulullah, kami mendatangimu untuk mempelajari ilmu agama dan bertanya tentang awal mula penciptaan alam ini, Rasulullah menjawab:
 
كان الله ولم يكن شىء غيره
 
Maknanya:”Allah ada (tanpa permulaan), dan tidak ada sesuatupun selain-Nya”.
Allah ada (dengan keberadaan yang azali/tanpa permulaan), dan belum ada tempat, waktu, arah arsy langit, benda, gerak, diam, makhluk, lalu Allah menciptakan makhluk, dan setelah diciptakan makhluk-makhluk Allah tetap ada seperti sediakala (sebelum diciptakan makhluk), Ia subhanahu wa ta’ala ada tanpa bersifat dengan sifat makhluk, tanpa tempat dan tanpa arah.
 
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah, kita semua termasuk penganut aqidah sunniyyah yang kita yakini ini, dan yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, yang mana Rasulullah telah memuji pengikut aqidah ini dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Bazzar, ath-Thabarani, al Hakim dengan sanad yang shahih:
 
لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
 
Maknanya: “Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya”.
 
Dan konstantinopel telah ditaklukkan setelah 900 tahundari masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, penakluknya adalah as-Sulthan Muhammad al Fatih al Maturidi –semoga Allah merahmatinya- dan beliau beraqidah sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai para shufi, dan bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Sulthan Muhammad al Fatih dan bala tentaranya yang ikut bersamanya, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka itu dalam keadaan yang baik, dan demikian juga para raja-raja di kerajaan Turki Utsmani lainnya, mereka semua telah berjuang mempertahankan bendera kaum muslimin dan melindungi agama dalam berabad-abad lamanya.
 
Ratusan juta umat Islam mengikuti ajaran aqidah ini, baik salaf maupun khalaf, di barat ataupun di timur, dalam pengajaran dan pembelajaran, kenyataan menjadi saksi kebenaran hal ini, dan kiranya cukup sebagai bukti kebenaran aqidah ini bahwa para sahabat, tabi’in, atba’ at-tabi’in (dan mereka itulah yang dimaksud dengan as-salaf ash-shalih) dan termasuk orang-orang yang mengikutipara sahabat dengan baik meyakini aqidah ini, para huffazh pemuka-pemuka ahli hadits, sepertial Hafizh Abu Bakr al Isma’ili pengarang al Mustakhraj ‘ala al Bukhari, al Hafizhal ‘alam al masyhurAbu Bakr al Baihaqi, al Hafizhyang disebut-sebut sebagai Afdlalul Muhadditsindi daratan Syam pada zamannya al Hafizh Ibnu Asakir, kemudian datang setelah beliau seorang alim yang menyamai beliau dalam keilmuan, yang disebut-sebut sebagai Amirul Mukminin fil Hadits Ahmad Ibnu Hajar al Asqalani, dan orang yang betul-betul melihat dengan teliti pasti akan mengetahui bahwa kaum Asya’irah adalah tokoh-tokoh ternama dalam berbagai disiplin ilmu dan hadits, di antaranya: Mujaddid abad keempat hijriyyah al Imam Abu at-Thayyib Sahl ibn Muhammad, Abu al Hasan al Bahili, Abu Bakr ibn Furak, Abu Bakr al Baqillani, Abu Ishaq al Isfirayini, al HafizhAbu Nu’aim al Ashbahani, al QadliAbdul Wahhab al Maliki, as-Syaikh Abu Muhammad al Juwaini dan putranya Abu al Ma’ali Imamul Haramain al Juwaini, Abu Manshur al Baghdadi, al Hafizhad-Daraqutni, al Hafizh al Khatib al Baghdadi, al Ustadz Abu al Qasim al Qusyairi, dan putranya abu Nashr, asy-Syaikh Abu Ishaq as-Syirazi, Nashr al Maqdisi, al Ghazali, al Furawi, Abu al Wafa Ibnu Aqil al Hanbali, Qadli al Qudlatad-Damaghani al Hanafi, Abu al Walid al Baji al Maliki, al Imam as-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i, Ibn as-Sam’ani, al Qadli ‘Iyadl, al Hafizh as-Silafi, an-Nawawi, Fakhruddin ar-Razi, al ‘Izz ibn Abdissalam, Abu Amr ibn al Hajib al Maliki, Ibnu Daqiq al ‘Id, ‘Alauddin al Baji, Qadli al QudlatTaqiyyuddin as-Subki, al Hafizh al ‘Ala’i, al Hafizh Zainuddin al ‘Iraqi, dan putranya al Hafizh Waliyuddin al ‘Iraqi, al Hafizh Murtadla az-Zabidi al Hanafi, asy-Syaikh Zakariya al Anshari, asy-Syaikh Bahauddin ar-Rawwas as-Shufi, Mufti Makkah Ahmad Zaini Dahlan, Mufti India Waliyullah ad-Dihlawi, Mufti Mesir asy-Syaikh Muhammad ‘Illaisy, Syaikh al Jami’ al Azhar Abdullah asy-Syarqawi, asy-Syaikh Abu al Hasan al Qawuqji Nuqthat al Bikar fi Asanid al Mutaakhkhirin, Syaikh Husain al Jisr at-Tharabulsi, as-Syaikh Abdul Basith al Fakhuri Mufti Beirut, al Allamah ‘Alawi ibn Thahir al Hadlrami al Haddad dan Syafi’iyyul Ashr Rifa’iyyul Awan as-Syaikh al Faqih al Muhaddits Abdullah al Harari, as-Syaikh as-Shufi as-Shadiq Mushthofa Naja Mufti Beirut, dan lain-lainpara pemuka agama yang teramat banyak dan tidak mengetahui keseluruhan jumlah mereka kecuali Allah semata.
 
Termasuk juga al Wazir al MasyhurNizham al Mulk, as-Sulthan al Adil al ‘Alim al Mujahid Shalahuddin al Ayyubi –semoga Allah merahmatinya-, pada masa kekuasaannya beliau memerintahkan agar dikumandangkan dasar-dasar aqidah sesuai dengan ibarat-ibarat Imam al Asy’ari di atas menara-menara sebelum adzan Shubuh, dan agar diajarkan nazhaman yang dikarang oleh Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki untuk anak-anak di kuttab-kuttab, di antara bait-baitnya adalah sebagai berikut:
 
وصانع العالم لا يحويه قطر تعالى الله عن تشبيه
قد كان موجودا ولا مكان وحكمه الآن على ما كان
سبحانه جل عن المكان وعز عن تغير الزمان
فقد غلا وزاد في الغلو من خصه بجهة العلو
 
Maknanya:”Dan pencipta alam ini tidak diliputi oleh arah, Maha Suci Allah dari serupa”
“Allah ada (tanpa permulaan/azali) dan belum ada tempat, dan setelah menciptakan tempat Ia tetap ada seperti semula (tanpa tempat)”
“Maha Suci Allah dari bertempat, dan Maha Suci Allah dari perubahan masa”
“Telah berlebihan dan bertambah berlebihan, orang yang menetapkan Allah ada di arah atas”.
 

Inilah aqidah yang diajarkan di Universitas al Azhar di Mesir, dan di Universitas az-Zaitunah di Tunisia, bahkan diseluruh wilayah Maghrib, juga di Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, daratan Syam, Sudan, Yaman, Irak, India, Afrika, Bukhara, Daghistan, Afganistan, dan semua Negara-negara Islam.

 
Termasuk juga al Malik al Kamil al Ayyubi dan Sulthan al Asyraf Khalil ibn al Manshur Saifuddin Qalawun, dan semua sulthan-sultan di berbagai dinasti Mamluk.
 
Kami tidak bermaksud dengan apa yang kami sebutkan ini untuk menghitung secara keseluruhan kaum asya’irah dan maturidiyyah, karena siapa yang bisa menghitung bintang-bintang di langit, atau mengetahui secara persis jumlah butiran-butiran pasir di gurun?
 
Jadi Asya’irah dan maturidiyyah mereka itulah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya, dan merekala al Firqah an-Najiyah.
 
Dan sepantasnya saya mengkhususkan Negara penyelenggara acara seminar ini yaitu Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya adalah penganut ajaran sunni asy’ari, semenjak Islam masuk ke Negara ini, dan kemudian disebarluaskan dan dipertahankan oleh para ulama yang shalih.

Dikutip dari : Makalah Syeikh Dr. Salim ‘Alwan Al Husaini Ketua Umum Darul Fatwa Australia Pada Seminar Internasional Nu Center Pwnu Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: