senjata andalan salafy إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت


Sudah bukan rahasia lagi bahwa ada sebagian kaum muslimin yang curang dalam dakwahnya. Mereka sering mengutip perkatan Imam Madzhab sesuai selera sendiri dengan memberikan makna yang serampangan untuk membenarkan pendapat mereka sendiri (ulama mereka). Kemudian mereka menulis artikel-artikelyang menjatuhkan dan menghina pengikut Madzhab yang empat.

Satu contoh yang sering mereka kutip adalah perkataan Imam Syafi’i, kemudian disalahpahami untuk menyerang pengikut Madzhab Syafi’i. Contohnya adalah perkataan Imam Syafi’i berikut ini:

إذا صح الحديث فهو مذهبي

“Jika saatu Hadits shahih maka itulah madzhabku”

dan juga:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

”Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Saw. maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah itu dan tinggalkan perkataanku itu.”

Akan tetapi banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar perkataan ini, sehingga jika yang bersangkutan menemukan sebuah hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat madzhab Syafi’i mereka langsung menyatakan bahwa pendapat madzhab itu tidak benar dengan alasan Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa hadits shahih adalah madzhab beliau. Atau ketika mereka menemukan sebuah hadits yang shahih maka mereka langsung mengklaim bahwa ini adalah madzhab Syafi’i.

Al-Imam Syarafuddin Yahya an-Nawawi menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul Majmu’ Syarh al-Muhadzab menyatakan bahwa tidak bisa sembarang orang mengatakan demikian. Al-Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa syarat sebagai berikut:

“Sesungguhnya untuk hal ini, dibutuhkan seseorang yang memiliki tingkatan sebagai mujtahid dalam madzhab yang telah dijelaskan sebelumnya, dan ia harus berbaik sangka bahwa Imam Syafi’i belum sampai kepada hadits tersebut atau belum mengetahui keshahihan hadits itu. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah menela’ah semua kitab-kitab Imam Syafi’i dan kitab-kitab para ash-hab asy-Syafi’i (Murid-muridnya) yang mengambil darinya. Dan syarat ini sulit serta sangat sedikit orang yang sampai pada tingkatan ini. Syarat ini kami sebutkan karena Imam Syafi’i tidak mengamalkan dzahir hadits yang telah beliau ketahui, akan tetapi ada dalil lain yang mencacatkan, atau menasakh, atau mentakhshish, atau yang menta’wilkan hadits itu.

Pernah ada seorang yang bermadzhabkan Syafi’i, yakni Abu Walid Musa bin Abi Jarud mengatakan: ”Hadits tentang berbukanya orang yang membekam maupun yang dibekam adalah shahih, maka aku (Abu Walid) mengatakan bahwa Imam asy-Syafi’i telah mengatakan “Orang yang berbekam dan dibekam telah berbuka (batal)”.

Maka para ulama Syafi’iyyah mengkritik pendapat itu, dikarenakan Imam Syafi’i sendiri telah mengetahui bahwa hadits itu memang shahih. Akan tetapi beliau meninggalkannya, karena beliau memiliki hujjah bahwa hadits itu mansukh.

Asy-Syeikh Abu Amru mengatakan: ”Barangsiapa menemui dari asy-Syafi’i sebuah hadits yang bertentangan dengan madzhab beliau. Jika engkau sudah mencapai derajat mujtahid mutlak dalam bab atau masalah itu, maka silahkan mengamalkan hal itu. Akan tetapi jika tidak sampai derajat itu dan mereka yang menentang tidak pula memiliki jawaban yang memuaskan. Maka jika itu diamalkan oleh mujtahid madzhab lain, boleh ia melakukan, dan itu adalah sebuah udzur dimana ia meninggalkan salah satu pendapat madzhab Imamnya”.

Al-Imam an-Nawawi berpendapat bahwa yang dikatakan asy-Syeikh Abu Amru ini merupakan perkataan yang cukup baik.

Semoga bisa memberikan pencerahan mengenai isu-isu yang selama disebarkan oleh beberapa kalangan yang sama sekali jauh dari kriteria Mujtahid.

Dinukil dari Muqadimah al-Majmu Syarh al-Muhadzab juz 1 halaman 99-100 terbitan Dar al-Fikr 1426 H, Tahqiq Dr. Mahmud Mathraji Abu Muhammad mengatakan: “Tidak ada yang menyalahkan madzhab Imam Syafi’i. Justru dalil di atas membuktikan dan menunjukkan bahwa Imam Syafi’i mengakui bahwa dirinya tidak ma’shum (inilah bentuk ketawadhu’an Imam asy-Stafi’i). Artinya sang Imam akan bermadzhab dengan madzhab Nabi yang shohih saja, karena setiap manusia pasti ada kekurangannya.”

Hal yang perlu kita ingat bahwa Imam asy-Syafi’i Ra. telah diakui oleh jumhur ulama dari zaman dahulu sampai sekarang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Kemungkinan salah dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi sangat kecil dan beliaupun masih bertemu dan bertalaqqi (mengaji) dengan para Salafus Sholeh.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: