HUKUM ISLAM VERSI SALAFI WAHABI SAUDI: DA’I SAUDI MEMPERKOSA DAN MEMBUNUH PUTRINYA YG MASIH BALITA DIHUKUM BEBAS


Saudi preacherWarga Arab Saudi marah ketika pengadilan membebaskan seorang ustad/da’i yang difonis bersalah karena memperkosa dan membunuh secara brutal putrinya sendiri yang masih berusia lima-tahun walaupun si ustad telah beberapa bulan meringkuk di penjara dan membayar “uang darah” kepada ibu gadis itu yg juga istri si ustad. Hukum apa sebenarnya yg berlaku di kerajaan kolot ini?

Masyarakat macam apa yang tega menghukum ringan seorang peyiksa dan pembunuh anak bahkan membebaskannya hanya karena si korban dinyatakan sebagai miliknya sendiri? Hal ini hanya terjadi di Arab Saudi. Ada dua macam hukum: satu untuk pekerja asing yang hampir tidak memiliki hak apapun, dan satu lagi untuk warga Saudi yang bisa lolos dengan mudah karena kasus pembunuhan. Untuk memahami fenomena tersebut, mari kita perhatikan dua kasus yang tidak saling terkait beserta akibatnya.

Salah satu kasus tentang seorang pembantu rumah tangga [PRT] asal Sri Lanka, Rizana Nafeek yang dituduh membekap bayi di bawah perawatan sampai mati di kota al-Dwadmi pada tahun 2005. PRT Sri Lanka tersebut baru berusia 17 dan baru beberapa minggu bekerja di Arab Saudi. Dia tidak bias berbicara bahasa Arab dan dipaksa untuk mengaku kejahatan di bawah tekanan, tanpa didampingi pengacara dengan semestinya. Kementerian Dalam Negeri Saudi mengumumkan pada tanggal 9 Januari Rizana Nafeek telah dieksekusi meskipun permohonan belas kasihan disampaikan orang tua miskin Rizana kepada Raja Abdullah agar tidak menghukum bunuh sang putri.

Kasus lainnya terkait dengan da’i “selebriti” Saudi yang mengisi acara tetap di televisi negeri itu, Fayhan al-Ghamdi, yang menyiksa dan membunuh putrinya sendiri, Lama, yang masih berusia lima tahun. Ia juga dituduh memperkosa gadis balita tersebut. Al-Ghamdi hanya dijatuhi hukuman beberapa bulan di penjara dan harus membayar “uang darah” sebesar $ 50.000 kepada ibu sang gadis balita yang tentunya istri si ustad sendiri. Hakim menyatakan bahwa ini adalah hukum yang berlaku di Saudi dan sang ustad bisa melenggang bebas.

Berita tersebut menjadi skandal di Saudi dan semua pihak menuntut agar si ustad dihukum mati. Skandal ini kemudian mendapat sorotan publik demikian luas sehingga rezim Saudi terpaksa turun tangan dan menyatakan bahwa si ustad yang bersangkutan akan tetap dipenjara. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehakiman Saudi pada 12 Februari mengatakan al-Ghamdi tetap meringkuk di penjara dan “kasus ini dilanjutkan.”

Jasad gadis mungil Lama, menderita beberapa luka-luka, termasuk tengkorak hancur, tulang punggung, tulang rusuk dan lengan kiri patah serta memar dan lebam di sekujur tubuh. Para saksi mengatakan Lama telah berulang kali diperkosa dan disiksa. Al-Ghamdi mengaku menggunakan tongkat dan kabel untuk menimbulkan cedera setelah meragukan keperawanan putrinya yang masih lima-tahun dan membawanya ke dokter. Insiden itu dilaporkan oleh kelompok Women to Drive yang memimpin kampanye menantang larangan rezim pada wanita mengemudi karena menurut para ulama Saudi, wanita yang mengemudi mobil dapat merusak moral.

Arab Saudi mengklaim menerapkan Hukum Islam dan bahwa konstitusi Negara adalah “Al-Qur’an dan Sunnah” namun di bawah sistem hukum Negara yang sah, ayah tidak bisa dihukum karena membunuh anaknya sendiri demikain pula suami tidak dihukum karena membunuh istrinya. Apa Al-Qur’an dan hadis mengatakan bahwa apa seorang ayah diibolehkan membunuh anak perempuan mereka tanpa dihukum? Demikian pula suami yang membunuh istrinya. Membunuh bayi perempuan adalah praktek umum di kalangan Arab zaman Jahiliyah karena si ayah malu memiliki anak perempuan. Islam mengakhiri praktek biadab itu.

Dalam putusan, hakim ketua mengatakan kepada jaksa bahwa ia hanya bisa meminta “uang darah” dari pelaku, dalam hal ini ayah gadis yang dibunuh. Hakim menolak untuk menjatuhkan hukuman kepadanya dengan mengatakan bahwa menurut “hukum,” ia tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, hakim memutuskan: “uang darah” dan hukuman penjara terhadap terdakwa cukup sebagai hukuman atas kematian Lama.” Hukum apa yaag mengizinkan seorang ayah memperkosa putrinya sendiri, memukul hancurk tengkoraknya, tulang rusuk, punggung dan lengan degan menggunakan kabel dan hanya memenjarakannya beberapa bulan saja?

Mari kita kembali ke kasus PRT asal Sri Lanka, Rizana Nafeek yang dihukum setelah pembelaanya tanpa penerjemah. Dia dijatuhi hukuman mati dan dipenggal kepalanya oleh rezim Saudi. Ibu si bayi menuduhnya Rizana membekap korbannya. Rizana membantah keras setelah dia mengerti apa yang didakwakan kepadanya.

Dari keluarga Sri Lanka miskin, Rizana datang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dengan harapan mendapatkan kehidupan yang layak untuk menjaga kebutuhan keluarganya kembali di Sri Lanka. Dia dikirim ke rumah Quthaibis dimana ia diminta untuk merawat bayi, memberinya makan, mengganti popoknya, memasak makanan untuk keluarga, mencuci piring dan pakaian serta membersihkan rumah yang tergolong mewah. Hukum Internasional menyatakan orang di bawah usia 18 dianggap masih anak-anak (Rizana Nafeek baru 17 tahun pada waktu itu). Dia mencoba melakukan yang terbaik untuk memenuhi semua tugas.

Suatu hari ketika sang bayi minum susu dengan menggunakan botol kemudian tersedak. Dia bergegas memberitahu ibu bayi. Ketika mereka kembali, bayi tidak bernapas. Sang ibu menuduh Rizana menyebabkan sang bayi tersedak sampai mati. Dia tidak punya alasan untuk dituduh menyakiti bayi tersebut. Namun hal ini menjadi dasar PRT itu diadili dan dieksekusi mati. Meskipun sering melakukan banding ke Mahkama Saudi Saudi termasuk kepada Raja Abdullah, semua itu diabaikan dan Rizana dieksekusi dengan dipancung pada Januari 2013.

Cara pemerintah Saudi menangani kasus Rizana ini menimbulkan kritik keras dari Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW). Kedua badan internasional ini dan lainnya juga berpendapat bahwa eksekusi terhadap Rizana telah melanggar Konvensi PBB tentang Hak Anak yang telah diratifikasi Arab Saudi. Bahkan, Arab Saudi adalah melanggar hak-hak anak negerinya sendiri juga perempuan, seperti kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Lama. Saudi tampaknya merupakan pusat dendam khusus terhadap perempuan. Saudi merupakan satu2nya rezim di dunia yang tidak mengizinkan wanita mengemudi.

Sebuah komunitas anti-perang Amerika Serikat United National Anti-War Coalition (UNAC) meluncurkan sebuah petisi melobi pemerintah AS untuk mengakhiri hubungan khusus dengan rezim Saudi dan mengakhiri kesepakatan $ 60 miliar kerjasama pertahanan. UNAC telah menyerukan untuk mengakhiri kekejaman Saudi dan menyerukan kepada pemerintah AS untuk tidak menjual senjata kepada rezim ini.

Menurut harian Inggris, The Guardian, saat ini terdapat 45 orang PRT asing terpidana mati di Arab Saudi. Kebanyakan dituduh membunuh majikan mereka. Saudi dikenal sering menzalimi pembantu rumah tangga miskin, baik dari Sri Lanka atau Filipina. Mereka sering mengalami pelecehan seksual. Jika mereka menolak melayani majikannya, mereka dituduh melakukan segala macam kejahatan. Seringkali tuduhan terhadap mereka adalah percobaan pembunuhan yang berakhir di penjara. Berapa banyak dari 45 pembantu asing di “barisan kematian” itu berakhir. Pada kenyataannya pemerintah Saudi demikian cepat dalam menghukum pekerja migrant asing walaupun dgn bukti-bukti yang lemah.

Gadis-gadis dari keluarga miskin di Sri Lanka, Bangladesh, India dan Filipina yang terpikat oleh agen yang nakal dengan janji gaji yang menggiurkan sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Banyak yang akhirnya dijual ke kubangan prostitusi di kerajaan yang terdapat Haramain itu. Mereka bahkan tidak bisa melarikan diri karena paspor mereka ditangan “majikan” saat tiba di Saudi. Ketika mereka tertangkap, gadis-gadis miskin itu dipenggal kepala mereka dengan sadis. Para penguasa Saudi memiliki tekat mengklaim bahwa mereka mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah. Semoga mereka sendiri segera akan dihakimi dan dihukum sesuai dengan Kitab ilahi!
SUMBER: Crescent Online (Bulan Sabit Online

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: