DIALOG INTERAKTIF: ASWAJA NUSANTARA VS TELEVISI TRANS7


di tuturkan oleh Kyai Haji
Thobary Syadzily Albantani perihal Tayangan Khazanah dalam Trans 7

Sejak dahulu Islam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan di dunia informasi dan komunikasi, sehingga umat Islam tertinggal jauh ke depan dengan umat lain dan selalu mengalami kemunduran. Hal itu menjadikan problem bagi umat Islam yang harus segera dicari jalan ke luar (solusi)-nya.

Foto

Atas persoalan itu, Trans7 berani mengambil langkah dan berusaha maju ke depan membuka jendela hati umat lewat siaran “Khazanah”-nya selama 30 menit pada setiap jam tayangannya yang dimulai pada pukul 5.30 WIB sampai dengan pukul 6:00 WIB (pagi hari), dengan tujuan untuk memajukan umat Islam sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan di bidang informasi dan komunikasi yang edukatif di seputar dunia keislaman. Hanya saja dalam penyajian informasi itu Trans7 mengambil langkah yang kurang tepat dengan mengangkat masalah-masalah furu’iyah (cabang-cabang masalah hukum Islam) yang bersifat khilafiyah (perbedaan pendapat di kalangan ulama) sampai mencuat ke permukaan, seperti masalah tawassul, ziarah kubur dan sebagainya. Dengan demikian, disadari atau tidak, Trans7 tidak bisa menempatkan masalah-masalah tersebut pada jalur hukum Islam yang sebenarnya (tidak professional) berdasarkan pandangan-pandangan hukum Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dari empat madzhab (Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali) dan hanya mengambil sudut pandangan hukum dari Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abbdul Wahab yang berakidah “Rububiyah, ‘Uluhiyah, dan Asma wa Sifat (akidah Wahabi)”, sehingga banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan Trans7, yang mengakibatkan dapat menyinggung perasaan umat Islam dan sempat menimbulkan kemarahan besar di hati mereka, karena mereka sebagai pelaku tawassul, ziarah kubur dan sebagainya divonis telah melakukan perbuatan syirik besar. Sedangkan, perbuatan syirik besar adalah perbuatan dosa paling besar yang tidak terampuni kecuali dengan taubat nashuha dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sebenarnya, Trans7 tidak perlu mengangkat masalah khilafiyah itu. Karena, masalah itu tidak akan pernah terselesaikan sampai kapanpun juga hingga akhir kiamat, justru akan merugikan bagi umat Islam sendiri, khususnya di pihak Trans7, dan dapat menimbulkan perpecahan dan sikap radikal yang dapat membahayakan bagi masyarakat dan negara. Dengan demikian akibat ulah tayangan Trans7 itu, umat Islam di berbagai wilayah Indonesia melakukan aksi protes terhadap pihak Trans7.

Aksi protes itu terwujud ketika diadukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dan mendapat tanggapan serius. Kemudian, pada hari Selasa, 16 April 2013 pihak KPI menghubungi saya langsung dan mengundang saya agar bisa hadir dalam pertemuan antara KPI Pusat, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, dan Trans7 di Gedung BAPETEN (Badan Pengembangan Teknologi dan Tenaga Nuklir) KPI Pusat di jalan Gajah Mada No. 8 Jakarta Pusat pada pukul 15:00 WIB sampai dengan selesai. Undangan itu saya sambut dengan baik demi terjalinnya ukhuwah Islamiyah, kemashlahatan (kebaikan) umat Islam dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keesokan harinya, yaitu hari Rabu, 17 April 2013 saya datang ke kantor KPI Pusat dan pihak Front Pembela Islam (FPI) Jakarta meminta kepada saya agar diikutsertakan dalam berdialog. Kemudian, saya melakukan koordinasi dengan teman-teman dan dalam koordinasi itu memutuskan 5 orang yang harus ikut serta dalam dialog sebagai perwakilan dari pihak Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) Nusantara, yaitu saya sendiri, Muhammad Thobary Syadzily (Pembicara Pertama), Habib Fachri Djamalullail (Pembicara Kedua, perwakilan dari FPI Pusat), Habib Mushtofa al-Jufri, Ustadz Ibnu Mas’ud, dan KH. Anshori Dahlan, perwakilan NU dari Pasuruan Jawa Timur.

Dalam mengawali dialog itu, saya katakan kepada hadirin khususnya kepada pihak Trans7 agar Islam itu harus bersatu dan jika terjadi perbedaan pendapat, maka harus diselesaikan dengan cara akhlak yang mulia, di antaranya harus bersikap sopan santun dan saling bertoleransi demi menjaga keutuhan tali ukhuwah Islamiyah, sebagaimana diterangkan dalam hadits shohih di kitab “Faidhul Qadir Syarah al-Jami’ush Shaghir” karya Syeikh Muhammad Abdul Ra’uf al-Munawi pada jilid 6 halaman 253 sebagai berikut:

المؤمن يألف و يؤلف و لا خير فيمن لا يألف و لا يؤلف و خير الناس أنفعهم للناس

Artinya:
=====
“Mukmin (oranyang beriman) itu harus sopan santun dan harus bisa beradaptasi dengan l
ingkungannya. Dan tidak ada amal kebaikan sama sekali bagi seorang mukmin yang tidak mempunyai rasa sopan santun dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya (bersikap kasar terhadap mukmin lainnya). Dan, sebaik-sebaiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Kemudian, saya terangkan pula tentang metodologi keilmuan dalam kaitannya dengan hukum Islam, terutama yang menyangkut masalah tawassul, ziarah kubur dll, yang sudah barangtentu disertakan pula penjelasan dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Kebetulan di dalam pertemuan itu saya membawa kitab “Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori” karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, kitab tafsir “Ad-Durrul Mantsur” karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, kitab “Tarikh Baghdad” karya al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Khotib al-Baghdadi, kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dan kitab “Zadul Muslim” karya Sayyid Muhammad Habibullah.

Yang jelas, setiap amalan ulama itu ada dalil-dalilnya yang bersumber dari al-Qur’an, Hadits Nabi, Ijma’, dan Qiyas. Alhamdulillah berkat rahmat dan karunia Allah pihak Trans7 dengan berjiwa besar menyadari akan kesalahannya dan meminta ma’af kepada seluruh umat Islam, khusnya umat Islam Indonesia. Dengan demikian, dialog interaktif itu mencapai titik temu. Bahkan, pihak Trans7 mengakui akan keabsahan hukum diperbolehkannya tawassul, ziarah kubur, pembacaan shalawat (termasuk Shalawat Nariyah, shalawat Badar dsb). Dan, yang lebih penting lagi, mereka termasuk pecinta tawassul, ziarah kubur, pembacaan shalawat dan peringatan Maulid Nabi saw. Insya Allah pihak Trans7 juga akan menayangkan hal itu sekitar empat minggu ke depan.

Foto
Foto
Foto

3 Tanggapan

  1. Didalam forum, KH Thobary Syadzily meminta Tim Khazanah agar mengakui ideologi aliran, mereka semua berikrar dan mengakui dengan sungguh-sungguh bahwa mereka adalah penganut Ahlussunnah wal Jama’ah, ahli tahli, ahli tawassul, ahli maulid dan ahli sholawat. Kecuali hanya dua orang dari pihak ‘Khazanah’ yang bermuka masam karena dia menolak dan tidak mau berikrar.

    Mengenai tayangan-tayangan sebelumnya yang menyinggung Umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, pihak Khazanah Trans 7 mengakui kesalahannya dan meminta maaf apabila di dalam penayangan program Khazanah berkaitan dengan Tawassul, Ziarah Kubur, dan Shalawat Nabi ada kesalahan baik narasi maupun visual yang menyinggung dan menyakiti ummat Islam di Indonesia khususnya Ahlussunnah Wal Jama’ah dan akan lebih berhati-hati lagi dalam membahas suatu masalah agama dalam penayangan di program Khazanah.

    Mengenai keluhan tentang narator perempuan yang membacakan materi tayangan Khazanah, Trans 7 akan berusaha memperbaiki narator selaku pengisi suara di ‘Khazanah’ dengan orang yang lebih fasih bacaannya dari segi tajwidnya.

    Dalam waktu dekat, selambat-lambatnya pada pertengahan Mei 2013, Khazanah Trans 7 akan menayangkan materi mengenai shalawat, tahlil, ziarah kubur, dan maulid. Selain itu, Trans 7 juga bersedia menayangkan tayangan agar dibongkarlah kesesatan Wahhabi, Syi’ah, Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya. Pernyataan diatas disampaikan dihadapan salah seorang perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat.

    Menurut produser Khazanah Trans 7, Ibu Dini, kedepannya mereka berencana akan menggandeng KH. Thobary Syadzily, Habib Fachry Djamalullail, MUI dan juga KPI agar tayangan Khazanah tidak menimbulkan keresahan dan gejolak umat Islam seperti saat ini.

    Alhamdulillah! Tentu saja ini adalah kabar gembira bagi Umat Islam khususnya kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah yang akhir-akhir sangat terganggu dengan tayangan Khazanah Trans 7 yang berpotensi menimbulkan pertentangan dan pertikaian horisontal antar Umat Islam sendiri.

    Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi para penentang Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti kaum Wahhabi agar tidak mencoba-coba untuk mengusik ketenteraman Umat Islam dengan isu basi seputar bid’ah, syirik, sesat, dan penghakiman lainnya menyinggung perasaan Umat Islam khususnya kaum mayoritas Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan diharapkan kedepannya acara-acara serupa tidak akan terjadi lagi .

  2. gak bermutu banget

  3. TRANS 7 : saya mendukung acara KHAZANAH, jangan takut mendakwahkan TAUHID yg sebenarnya, tapi baru segini sj kok mundur?? karena FPI anda takut ?? WAHABI mereka nisbatkan ke siapa ?? dakwah SALAFY tidak ada hubungannya dengan WAHABI.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: