faham salafy wahabi sudah Plin-plan dari nenek moyangnya(suka menyalahkan dan ngeyel)


Bismillah…
masih dalam zona menyan suwuk aswaja membongkar keplin-planan talafy wahhabi…
dalam kesempatan ini alfaqir akan msedikit mengktritisi sekaligus memberikan fakta bahwa faham talafi wahabi adalah faham plin-plan ,Gambarketika Membahas BId’ah lalu kita mengajukan hujah adanya bid’ah hasanah dengan dalil, ucapan ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu
نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari)

maka mereka para talafy akan membantah dengan mengatakan bahwa Dalil ini tidak bisa digunakan sebagai penetapan adanya bid’ah hasanah dikarenakan beberapa alasan:
Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan – bahwa bid’ah itu ada yang baik, namun sesungguhnya, kita kaum muslimin mempunyai satu pedoman; kita tidak boleh mempertentangkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; dengan pendapat siapapun juga (selain beliau). Tidak dibenarkan kita membenturkan sabda beliau dengan ucapan Abu Bakar, meskipun dia adalah orang terbaik di umat ini sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dengan perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ataupun yang lainnya.

_____________________________________________________
_____________________________________________________
hmmm …padahal sebelumnya sering kita dengar dari argumen mereka bahwa TIDAK ADA YANG HASANAH (KEBAIKAN) DALAM BID’AH…

kemudian ketika kita ajukan hujah Bid’ah hasanah yang lainya seperti hadist di bawah ini
Zeyd bin Tsabit r’a berkata ” Abu bakar r’a mengutusku
ketika terjadi
pembunuhan besar -besaran atas para sahabat (Ahlul
Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra,berkata Abubakar”Sungguh Umar r’a
telah datang kepadaku dan melaporkan… pembunuhan atas ahlul yamamah dan ditakutkan
pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an,
lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq r’a) mengumpulkan
dan menulis Alqur’an, aku berkata ” “BAGAIMANA AKU BERBUAT SESUATU HAL YANG TIDAK DIPERBUAT OLEH ROSULULLAH SAW???, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia
terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau(zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan
kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu,dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlahAlqur’an dan tulislah Alqur’an..!”berkata Zeyd :“Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan
sebuah gunung daripada gunung -gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan
Alqur’an,bagaimana kalian berdua berbuat
sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”,maka Abu bakar r’a mengatakannya
bahwa hal itu adalah KEBAIKAN, hingga ia pun meyakinkanku
sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan
mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an’ (Shahih Bukhari hadits No.4402 & 6768)

————————————————————————————
———————————————————————————–

mereka pun akan beragumen bahwa yang di lakukan itu bukanlah Bid’ah,karena Membukukan mushaf alqur’an adalah kebaikan…hmmm dasar otak cingkrang pinter sekali menjawabnya meskipun mereka sadar bahwa jawabanya ngawur,,,

beberapa hujah  yang kita ajukan meskipun dengan hadist tetap saja akan di bantah mereka,…akan tetapi jika kita ajukan argumen di bawah ini…maka mereka tidak akan bisa berkutik….

kira kira ulama wahabi yang mana yang benar benar mengikuti sunnah??? karena semua nya mengaku bener dan memvonis bid’ah padahal masih satu produk …
dalam hal ini kita tinjau bab sholat..Niat merupakan rukun dalam ibadah shalat. Ulama Talafi wahabi, Imam Ibnu Taimiyah mengatakan wajib mendahulukan niat dari takbiratul ihram (Mausu’ah Fiqh Ibnu Taimiyah: 2/230). Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh ulama Talafy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Fatawa Nur ‘ala al-Darb: 2/738), dan Syaikh Shalih al-Utsaimin (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Syaikh al-Utsaimin: 12/441).
Tapi, ulama Talafy, Syaikh Nashiruddin al-Albani memilih pendapat Imam al-Nawawi (ulama mazhab al-Syafi’i) bahwa tempat niat itu adalah hati, dan diucapkan pada saat takbiratul ihram (Nashiruddin al-Albani: Ashl Shifah Shalah al-Nabi:1/174).

Syaikh Bin Baz (2/768) dan Syaikh al-Utsaimin (13/135) mengatakan, makmum dalam salat berjamaah itu wajib membaca al-Fatihah di setiap rakaat, baik salat jahar (subuh, maghrib, isya’) maupun salat sir (zuhur dan ashar). Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW membaca al-Fatihah dalam ibadah salat (HR Imam al-Bukhari Muslim). Tapi, Syaikh al-Albani mengatakan, makmum tidak wajib baca al-Fatihah pada salat jahar, tapi hanya wajib pada saat salat itu sir (1/360).

Syaikh Bin Baz (2/791) dan Syaikh al-Utsaimin (13/140) mengatakan, meletakkan tangan di atas dada setelah berdiri dari ruku’ adalah sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits yang memerintahkan meletakkan kedua tangan di atas dada (HR al-Bukhari). Syaikh Bin Baz juga menganggap keliru pendapat Syaikh al-Albani yang mengatakan tidak dianjurkan (sunnah) meletakkan kedua tangan di atas dada setelah berdiri dari ruku’. Namun begitu, Syaikh al-Albani (2/701) tetap bertahan pada pendapatnya, dan menganggap pendapat Syaikh Bin Baz dan Syaikh al-Utsaimin itu bid’ah dan sesat.

Syaikh Bin Baz (2/794) dan Syaikh al-Utsaimin (13/171) mengatakan, ketika mau sujud, maka letakkan lutut terlebih dahulu ke lantai, kemudian tangan. Ini sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr, dan sebenarnya hadits Abu Hurairah yang mengatakan meletakkan tangan terlebih dahulu itu ada terjadi pembalikan pada lafaz hadits. Karena Nabi melarang sujud mengikut gaya onta istirahat dengan terlebih dahulu merebahkan tangannya, bukan kakinya. Pendapat ini juga yang disuarakan oleh murid setia Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan mengatakan bahwa hadits Wa’il bin Hujr lebih kuat dari hadits yang lain (Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Jami’ al-Fiqh:2/107). Ini juga pendapat ulama salafi yang lain, yaitu Syaikh Ismail al-Shan’ani dalam bukunya Subul al-Salam (1/187).

Tapi, Syaikh al-Albani (2/714) mengatakan bahwa sujud dalam shalat itu dengan mendahulukan tangan, bukan lutut. Katanya, ini sesuai dengan hadits Ibnu Umar (HR Ibnu Khuzaimah dan al-Daruquthni).
Syaikh Bin Baz (2/795) mengatakan bahwa duduk istirahat sebelum berdiri ke rakaat kedua adalah sunnah, sesuai dengan hadits riwayat Malik bin al-Huwairits yang terdapat dalam sahih al-Bukhari. Al-Albani (3/816) juga mengatakan begitu, berpegang kepada hadits yang sama yang juga diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i, al-Nasa’i, dan al-Baihaqi. Dan Syaikh al-Albani melanjutkan, berdiri ke rakaat selanjutnya itu bertopang dengan kedua tangan di atas lantai.

Tapi, Syaikh al-Utsaimin mengatakan (13/217), tidak disyariatkan duduk istirahat, tapi langsung saja berdiri ke rakaat selanjutnya dengan bertumpu kepada ujung telapak kaki. Dan duduk istirahat sebelum berdiri ke rakaat kedua atau keempat itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mampu langsung berdiri, karena uzur atau sakit.

Dan Syaikh Ibnu Qayyim (2/116) pula berpegang kepada hadits Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW berdiri ke rakaat berikutnya dengan bertopang kepada ujung kaki dan lututnya, dan kedua tangannya diletakkan di atas pahanya.

Syaikh al-Utsaimin (13/231) mengatakan, tasyahud pertama dalam shalat itu hanya sampai kepada ucapan dua kalimat syahadat. Tapi, Syaikh al-Albani (3/912) mengatakan bahwa bacaan tasyahut pertama itu sama dengan bacaan pada tasyahud akhir hingga ucapan shalawat, tanpa ada perbedaan.

Syaikh al-Utsaimin (13/236) mengatakan, ucapakan salam pada akhir shalat tidak disyariatkan dengan menambah kata wa barakatuh. Tapi Syaikh al-Albani (3/1024) mengatakan, tambahan kata wa barakatuh itu adalah sunnah, sesuai dengan hadits Ibnu Hibban.

ini adalah fakta bahwa faham Talafy wahabi sudah plin-plan dari nenek moyangnya…tradisi bid’ah membid’ahkan seprtinya sudah mendarah daging…demoga bermanfaat ,dan bagi para pembaca yang sedang terdoktrin faham takfir semoga Allah berikan Hidayah…aamiin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: