DUATA WAHHABI BAB AQIDAH


Wahabi berdusta dengan perkataan Imam Malik
mangatakan bahwa
ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻭﺍﻟﻜﻴﻒ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ ﻭﺍﺟﺐ ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ
ﻋﻨﻪ ﺑﺪﻋﺔ .
“Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak
diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan
bertanya tentangnya adalah bid’ah.”
Ucapan itu tidak benar pernah diucapkan oleh Imam
Malik, baik dengan sanad riwayat shahih, hasan
maupun dhaif dengan kedha’ifan ringan. Barang
siapa mengaku selain itu hendaknnya ia
membawakan bukti dan menjelaskannya. Dan kami
insyaallah siap mendiskusikannya di sini.
Stitmen benar pernah diucapkan Imam Malik adalah:
ﺍﻟﻜﻴﻒ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﻘﻮﻝ ﻭﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻣﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ
ﻭﺍﺟﺐ ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻪ ﺑﺪﻋﺔ .
“Al kaif/bentuk/cara tidak masuk akal/tidak bisa
diakal-akalkan, istiwâ’ tidak majhûl, beriman
kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya
adalah bid’ah (baru dimana sebbelumnya tidak ada)
.”
Ucapan ini jelas membubarkan anggapan kaum
Mujassimah.
Ibnu Lubbân dalam menafsirkan ucapan Imam Maliki
di atas mengatakan, seperti disebutkan dalam Ithâf
as Sâdah al Muttaqîn,2/82:
ﻛﻴﻒ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﻘﻮﻝ ﺃﻱ ﻛﻴﻒ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺤﻮﺍﺩﺙ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ
ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺤﻮﺍﺩﺙ ﻓﺈﺛﺒﺎﺗﻪ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﻣﺎ
ﻳﻘﺘﻀﻴﻪ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻓﻴﺠﺰﻡ ﺑﻨﻔﻴﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ، ﻗﻮﻟﻪ :
ﻭﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻏﻴﺮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺃﻱ ﺃﻧﻪ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ،
ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﻼﺋﻖ ﺑﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﺍﺟﺐ ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ
ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﻜﺘﺒﻪ ، ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻪ ﺑﺪﻋﺔ ؛ ﺃﻱ ﺣﺎﺩﺙ ﻷﻥ
ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻋﺎﻟﻤﻴﻦ ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ ﺍﻟﻼﺋﻖ ﺑﺤﺴﺐ ﻭﺿﻊ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻓﻠﻢ
ﻳﺤﺘﺎﺟﻮﺍ ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﻂ ﺑﺄﻭﺿﺎﻉ ﻟﻐﺘﻬﻢ
ﻭﻻ ﻟﻪ ﻧﻮﺭ ﻛﻨﻮﺭﻫﻢ ﻳﻬﺪﻳﻪ ﻟﺼﻔﺎﺕ ﺭﺑﻪ ﻳﺴﺄﻝ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ، ﻓﻜﺎﻥ
ﺳﺆﺍﻟﻪ ﺳﺒﺒﺎ ﻻﺷﺘﺒﺎﻫﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺯﻳﻐﻬﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ .
“Kaif tidak masuk akal, sebab ia termasuk sifat
makhluk. Dan setiap sifat makhluk maka jika
ditetapkan menjadi sifat –ta’ala- pasti menyalai apa
yang wajib bagi-Nya berdasarkan hukum akal sehat,
maka ia harus dipastikan untuk ditiadaakan dari
Allah –ta’ala-. Ucapan beliau, “Istiwâ’ tidak majhûl”
yaitu ia telah diketahui oleh ahli bahasa apa
maknanya. Beriman sesuai dengan makna yang
layak bagi Allah adalah wajib hukumnya, sebab ia
termasuk beriman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya.
Dan “bertanya tentangnya adalah bid’ah” yaitu
sesuatu yang dahulu tidak pernah muncul, sebab di
masa sahabat, mereka sudah mengetahui maknanya
yang layak sesuai dengan pemaknaan bahasa.
Karenanya mereka tidak butuh untuk
menanyakannya. Dan ketika datang orang yang tidak
menguasai penggunaan bahasa mereka dan tidak
memiliki cahaya seperti cahaya para sahabat yang
akan membimbing mereka untuk mengenali sifat-
sifat Tuhan mereka, muncullah pertanyaan
tentangnya. Dan pertanyaan itu menjadi sebab
kekaburan atas manusia dan penyimpangan mereka
dari yang apa yang dimaksud.”
Diriwayatkan juga bahwa Imam Malik berkata:
ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﻛﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻻ ﻳﻘﺎﻝ
ﻛﻴﻒ ، ﻭﻛﻴﻒ ﻋﻨﻪ ﻣﺮﻓﻮﻉ …
“Ar Rahmân di atas Arys beristiwâ’ sebagaimana Dia
mensifati Diri-Nya. Dan tidak boleh dikatakan:
Bagaimana? Dan bagaimana itu terangkat dari-Nya…
“ (Lebih lanjut baca: Ithâf as Sâdah,2/82, Daf’u
Syubah at Tasybîh; Ibnu al Jawzi: 71-72)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: