HINDU BERTAHLILAN PATAHKAN ARGUMEN BODOH MANHAJ TAKFIR.


Bismillah sy awali artikel ini untuk membantah
para takfiri …yang menganggap umat hindu
tahlilan
APAKAH TAHLILAN WARISAN AGAMA
HINDU?
Saudara -saudara kita takfiri mengatakan bahwa
Tahlilan sesat…
haram hukumnya karena warisan dari Agama
Hindu, selamatan 7 Hari, 40, 100, dan 1000 hari.
Adalah murni ritual Agama Hindu, Rasulullah
melarang umatnya menyerupai dan
mengamalkan
adat adat orang kafir, sebagaimana Hadits
Rasulullah S.A.W yang terdapat dalam Sunan
Abu
dawud Hadits no 4031 yang berbunyi:
ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻘﻮﻡ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum,
maka
ia adalah bagian dari mereka”
JAWABAN KAMI:
Jawaban kami di bab ini kami bagi menjadi 2
bagian:
1. Pembahasan asal usul Tahlilan dan boleh
tidaknya berdzikir di hari ke 7- 1000
2. Pembahasan hadits “ “Barang siapa yang
menyerupai suatu kaum, maka ia adalah
bagian dari mereka”
1. Pembahasan Asal Usul Tahlilan
Asal usul sejarah Tahlilan masih simpang siur,
namun dari literatur yang kami telusuri, kami
menemukan bahwa ritual ini telah ada semenjak
abad ke 7 Hijriyah , dizaman itu banyak Ahli
Dzikir
yang bertahlil, bertasbih, dan bertahmid serta
membaca Al Qur’an kemudian
menghadiahkannya
kepada orang mati, Ahli Dzikir ini sudah ada
sejak
zaman Ibnu Taimiyah hidup
Berikut kutipan dari kitab Majmu’fatawa Ibnu
Taimiyah juz 22 hal 305
ﻭﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺭﺟﻞ ﻳﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﻢ : ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﺬﻛﺮ
ﺑﺪﻋﺔ ﻭﺟﻬﺮﻛﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﺪﻋﺔ , ﻭﻫﻢ ﻳﻔﺘﺘﺤﻮﻥ ﺑﺎﻟﻘﺮﺃﻥ
ﻭﻳﺨﺘﺘﻤﻮﻥ , ﺛﻢ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ,
ﻭﻳﺠﻤﻌﻮﻥ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﺍﻟﺘﺤﻤﻴﺪ ﻭﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ
ﻭﺍﻟﺤﻮﻗﻠﺔ , ﻭﻳﺼﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻰ .
Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang
seseorang yang memprotes ahli dzikir
(berjamaah)
dengan berkata kepada mereka,”Dzikir kalian ini
Bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan
juga Bid’ah”.Mereka memulai dan menutup
dzikirnya dengan Al-Qur’an, lalu mendoakan
kaum
Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal. Mereka mengumpulkan Tasbih,
Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqalah (laa haula wa laa
quwwata illaabillaah) dan shalawat kepada Nabi
saw.”
Lantas apa jawaban beliau? Apaka beliau
menistakan ritual ini? Berikut jawabannya:
ﺍﻹﺟﺘﻤﺎﻉ ﻟﺬﻛﺮ ﻟﻠﻪ , ﻭﺍﺳﺘﻤﺎﻉ ﻛﺘﺎﺑﻪ , ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ
ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻓﻰ ﺍﻟﻸﻭﻗﺎﺕ . ﻓﻔﻰ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﺇﻥ
ﻟﻠﻪ
ﻣﻼﺋﻜﺔ ﺳﻴﺎﺣﻴﻦ ﻓﻰ ﻷﺭﺽ , ﻓﺈﺫﺍ ﻣﺮﻭﺍ ﺑﻘﻮﻡ ﻳﺬﻛﺮﻭﻥ
ﺍﻟﻠﻪ ,
ﺗﻨﺎﺩﻭ ﻫﻠﻤﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺣﺎﺟﺘﻜﻢ “
“Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan Al-
Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk
“Qurbah” (hal mendekatkan diri kepada Allah)
dan
ibadah yang paling utama dalam setiap waktu.
Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat
yang selalu bepergian dimuka bumi. Apabila
mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang
berdzikir kepadaAllah, maka mereka memanggil,
“Silahkan sampaikan hajat kalian”,
ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺤﻔﻈﺔ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻭﺭﺍﺩ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ , ﺃﻭ
ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ , ﺃﻭ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻃﺮﻓﻰ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﺯﻟﻔﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ,
ﻭﻏﻴﺮ
ﺫﺍﻟﻚ , ﻓﻬﺬﺍ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ
ﻗﺪﻳﻤﺎﻭ ﺣﺪﻳﺜﺎ
Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-
bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an,
berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta
pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini
merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hamba-
hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan
sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22,
hal. 305)
Dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari
telah ada sejak generasi sahabat Nabi S.A.W
berikut ini kami paparkan Atsar Shohabah yang
menunjukkan bahwa tradisi selamatan atau
shodaqoh dengan makanan selama 7 hari telah
ada semenjak Sahabat Nabi.
Berikut Atsar yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad
dalamAl-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim, dalam
Hilyah al-Auliya juz 2, hal.12 Al Hawi Lil Fatawa
Al
Hafid Assuyuti juz 2 hal 168 dalam risalah ke 66
ﻋﻦ ﻃﺎﻭﻭﺱ ﺑﻦ ﻛﻴﺴﺎﻥ ﻭﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ :
‏( ﺇﻥﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎً ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ
ﺃﻥ
ﻳﻄﻌﻢ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻷﻳﺎﻡ‏) ، ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ “ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ
ﺩﻓﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ ” –
Dari Imam Thawus bin Kaysan dari Ubaid Bin
Amir
dan Mujahid “Sesungguhnya orang yang
meninggal akan diuji di dalam kubur selama
tujuh
hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf)
menganjurkan bersedekah makanan dari
keluarga
yang meninggal selama tujuh hari tersebut.” dan
di
sebagian riwayat disebutkan dengan perkataan
“dari hari dikuburnya si mayyit)
Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi
selamatan selama tujuh hari dan membacakan
Alqur’an kepada orang mati telah berjalan sejak
generasi sahabat Nabi SAW. Sudah barang tentu,
para sahabatdan generasi salaf tidak
mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-
orang Hindu tidak ada di jazirah Arab
Sementara selamatan 7 hari juga telah ada
semenjak zaman kaum Salaf Sholeh, tepatnya
ketika Syeikh Nasr Bin Ibrahim Al Muqoddas
meninggal pada tanggal 9 Muharram 409 H.
Berikut terdapat riwayat yang tertulis di kitab Al
Hawi lil Fatawa Imam Suyuthi juz 2 hal 183
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﺃﻳﻀﺎ : ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ
ﻟﻠﻔﺘﺎﻭﻱ – ﻭﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺍﺭﻳﺦ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻓﻲ ﺗﺮﺍﺟﻢ ﺍﻷﺋﻤﺔ
ﻳﻘﻮﻟﻮﻥﻭﺃﻗﺎﻡﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﻘﺮﺃﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ،
ﻭﺃﺧﺮﺝﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ
ﺍﻟﻤﺴﻤﻲ : ‏( ﺗﺒﻴﻦ ﻛﺬﺏ ﺍﻟﻤﻔﺘﺮﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﻧﺴﺐ ﺇﻟﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ
ﺍﻟﺤﺴﻦﺍﻷﺷﻌﺮﻱ‏) ، ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﻧﺼﺮ
ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﻮﻱ ﺍﻟﻤﺼﻴﺼﻲ ﻳﻘﻮﻝ : ﺗﻮﻓﻲ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻧﺼﺮﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﻲ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻠﺜﺎﺀ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ
ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ
ﺳﻨﺔ ﺗﺴﻌﻴﻦ ﻭﺃﺭﺑﻌﻤﺎﺋﺔ ﺑﺪﻣﺴﻖ ، ﻭﺃﻗﻤﻨﺎ ﻋﻠﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺳﺒﻊ
ﻟﻴﺎﻝﻧﻘﺮﺃ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺧﺘﻤﺔ . ﺇﻫـ .
Dan berkata Al Hafid As Suyuthi di kitab beliau Al
Hawii Lil Fatawa “saya mendengar bahwa ahli
Fiqih Abul Fath Nasrullah Bin Muhammad Bin
Abdul Qowiy Al Musishi berkata: telah meninggal
Syeikh Nasr Bin Ibrahim Al Muqoddasy pada hari
selasa tanggal 9 Muharrm tahun 409 H di
Damaskus(syiria) dan kita membacakan Al
Qur’an diatas kuburnya selama 7 malam, dalam
semalam kita membaca 20 kali khataman Qur’an
Dan juga perkataan Imam Suyuthi bahawasanya
bershodakoh makanan sampai 7 hari juga
pernah
berlangsung di Makkah dan Madinah semenjak
masa sahabat dan masih berlangsung di zaman
Imam Suyuthi hidup:
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ : ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ
ﺑﻠﻐﻨﻲ
ﺃﻧـﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻲ ﺍﻵﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ، ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧـﻬﺎ ﻟﻢ
ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻲ ﺍﻵﻥ ، ﻭﺃﻧـﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎ
ﻋﻦ
ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻷﻭﻝ .
Berkata Imam Al Hafid As Suyuthi: bahwasanya
kesunnahan memberi makan selama 7 hari telah
sampai kepada saya bahwasanya telah
berlangsung terus menerus sampai sekarang di
makkah dan madinah, maka dhohirnya belum
ditinggalkan dari masa sahabat sampai sekarang,
dan bahwa mereka mengambilnya dari kaum
salaf
sampai masa pertama.(Al Hawi lil fatawa
juz2hal183)
Dari ketiga riwayat diatas dapat kita ketahui
bahwa bershodaqoh makanan dan membacakan
Al Qur’an untuk orang mati selama 7 hari telah
ada semenjak zaman sahabat Nabi dan kaum
Salaf Sholeh,sementara mereka yang menuduh
acara selamatan ini warisan Agama Hindu tidaku
dapat menunjukkan bukti terpercaya dari naskah
rujukan.
Toh jika seandainya ritual ini meniru adat Hindu,
amalan ini sungguh sangat berbeda dengan
mereka, dimana mereka ketika selamatan 3,7, 40,
100 dan 1000 melakukan kemungkaran dan
membakar menyan untuk arwah, sementara
dalam
Islam tradisi itu tidak ada, yang ada adalah
baca’an Tasbih, Tahmid, Tahlil , dan baca’an Al
Qur’an yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan
jelas
sekali bahwa berdzikir tersebut sesuai dengan
tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi. Sementara
hidangan makanan untuk arwah diganti dengan
shodaqoh untuk para hadirin, dengan berkumpul
berdzikir bersamapun kerukunan bermasyarakat
menjadi semakin erat, dan ukhuwah umatpun
semakin kuat. Rasulullah S.A.W bersabda:
ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪﻓﻰﺭﺯﻗﻪﻭﻳﻨﺴﺄﻟﻪﻓﻰﺃﺛﺮﻩﻓﻠﻴﺼﻞﺭﺣﻤﻪ
Barang siapa yang menginginkan dilapangkan
rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka
hendaknya dia menyambung tali silaturahim .
Hadits dan ayat al Qur’an tentang keutamaan
berzikir yang kami bahas di bab sebelumnya
bersifat ‘aam , dalam artian boleh dilaksaakah
kapan saja , tak terkecuali dilaksanakan pada
malam ke 7, 40, 10, 100 dst. Hal ini kita
kembalikan kepada masalah istishabul ‘aam ,
yaitu kita mengamalkan dalil yang bersifat
‘aam / umum sampai ada dalil yang men-
takhsish mengkhususkan.
contoh: perintah berdzikir dalam Al Qur’an dan
Hadits adalah ‘aam / umum, tidak ada satupun
hadits atapun Ayat Al Qur’an yang menyebutkan
berdzikir terikat waktu waktu tertentu, perintah
tahlil datang secara ‘aam umum, dalam hal ini
bermakna boleh berdzikir kapanpun. keculai ada
dalil yang mengindikasikan bahwa berdzikir
harus
dilakukan pada waktu waktu tertentu, dan yang
seperti itu tidak ada .
Jika saudara saudaraku masih bingung dengan
pembahasan dalil yang bersifat ‘aam dan
khoosh,
berikut kami berikan contoh dalil ‘aam (umum)
tidak ada yang men- takhsish (mengkhususkan),
dan dalil ‘aam namun ada yang men- takhsish .
1. Dalil ‘aam namun ada yang men- takhsish
Al Qur’ansuratAl ‘Ashr ayat 2
ﺍﻥ ﺍﻻﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ
Sesungguhnya manusia itu berada dalam
keadaan
merugi .Ayat ini ditakhsis / dikhususkan dengan
ayat setelahnya yang berbunyi:
ﺍﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮ
ﺑﺎﺍﻟﺤﻖﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺑﺎ ﺍﻟﺼﺒﺮ
Kecuali orang orang beriman, beramal sholeh,
dan
saling menyeru dengan kebenaran dan saling
menyeru dengan kesabaran
Kesimpulan hukum dari kedua ayat diatas:
manusia yang merugi adalah manusia yang tidak
beriman dan tidak menyeru dengan kebenaran
dan
kesabaran.Andai saja ayat ke 2 tidak ada tidak
pernah diturunkan maka kesimpulan hukumnya
adalah :
orang kulit hitam, kulit putih, orang Asia, Afrika,
Eropa, Australia, Amerika, kemudian orang kafir,
orang muslim, beriman ataupun tidak mereka
semua berada dalam keadaan merugi.
2. Dalil ‘aam dan tidak ada yang men- takhsish
Adalah dalil dalil tentang keutama’an berdzikir,
bershodaqoh, dan membaca Al’Quran yang telah
kita sebutkan di bab sebelumnya, perintah
berdzikir tidak terikat waktu, dan boleh
dilaksanakan kapan saja, jika tidak ada dalil yang
men- takhsis atau tidak ada dalil yang melarang
berdzikir pada hari ke 7, hari ke 100, hari ke
1000
dsb, maka hukum bershodaqoh, berdzikir, dan
membaca Al Qur’an dihari hari tersebut adalah
boleh, bahkan boleh berdzikir dimanapun dan
kapanpun, walaupun seumur hidupnya digunakan
untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an. Karena
dalil- dalil berdzikir bersifat ‘aam dan tidak ada
yang men- takhsish. Demikian seperti yang
dijelaskan dalam ilmu ushul fiqh, bab ‘aam dan
Khosh Saudara saudara kita berkiliah
bahwasanya
berdzikir pada hari ke 7-40-100-1000 tidak
boleh,
karena Rasulullah SAW tidak pernah
memerintahkannya. Jawaban Kami: pada
pembahasan bab 1 tentang bid’ah telah kita
kupas
mengenai perbedaan antara mereka dan kami
dalam menafsiri kata “ amr ” mereka yang
menafsiri kata “ amr ” sebagai “perintah”
sementara kami menafsirinya sebagai “perkara”
produk fatwa mereka adalah Tahlilan Haram
hukumnya karena tidak pernah diperintahkan
Rasulullah, sementara Fatwa Kami adalah:
Tahlilan sunnah (bidah yg sunnah)karena isi
didalamnya adalah perkara -perkara yang sesuai
dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam .
——————————————————————
Menurut waktu jenis ibadah dibagi menjadi 2,
ibadah yang terikat oleh waktu dan ibadah yang
tidak terikat oleh waktu, ibadah yang terikat oleh
waktu harus dikerjakan diwaktu yang telah
ditentukan, seperti Sholat 5 waktu, Puasa
Ramadhan, dan Haji,. Sholat Maghrib tidak boleh
dilaksanakan ketika siang hari, Sholat Shubuh
tidak boleh dilaksanakan disore hari, haji harus
dilaksanakan di bulan Dzulhijjah dsb,
Adapun ibadah ibadah yang tidak terikat oleh
waktu maka boleh dilakukan kapan saja, seperti
bershodaqoh, membaca alqur’an, bertasbih,
bertahlil, dan bersholawat kepada Nabi SAW. Tak
terkecuali tahlilan, boleh dilakukan kapan saja
meskipun itu dihari ke 40 ke 100 dan ke 1000
karena dalil yang menunjukkan keuatamaan
bertasbih, bertahlil dan membaca Al Qur’an
bersifat ‘aam (umum) dan tidak terikat waktu.
2. Pembahasan Hadits “ “Barang siapa yang
menyerupai suatu kaum, maka ia adalah
bagian dari mereka”
Di bab sebelumnya tentang pembagian Bid’ah
kita
telah membahas bahwa perbedaan pendapat
antara kita dengan saudara- saudara kita yang
menolak tahlilan adalah perbedaan pendapat
dalam sudut pandang, tentang apakah yang
dianggap dalam sebuah amalan? bungkus
ataukah isinya? nama atau praktek di dalamnya?
Bagi saudara- saudara kita yang menganggap
tahlilan dari bungkusnya/ dari namanya, maka
amalan ini adalah amalan orang -orang Hindu,
dan
merupakan warisan dari Agama Hindu, maka
Hadits ini berada dalam konteks amalan ini,
yaitu
tahlilan adalah menyerupai orang orang Hindu,
dan
Rasulullah melarang umatnya menyerupai orang
orang kafir. Adapun benar tidaknya amalan ini
datang dari Hindu telah kita bahas diatas.
Namun kita berpendapat bahwa yang dianggap
dalam sebuah amalan ibadah adalah isinya dan
praktek di dalamnya. Maka hadits ini tidak
berlaku
dan diluar konteks amalan kami, karena isi dari
tahlilan adalah berdzikir, bertasbih, membaca Al
Qur’an dan bershodaqoh, apakah praktek-
praktek
ibadah dalam tahlilan menyerupai orang orang
hindu? Jelas berbeda, maka Hadits diatas diluar
konteks tahlilan. Karena amalan amalan
tahlilan sesuai dengan Syariat Islam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: