YANG SESAT PELAKU TAHLILAN ATAU PEMVONIS TAHLILAN SESAT?


Bismillah..
Berikut adalah beberapa dasar hujah aswaja
tentang tahlilan dan kenduri 3.7.40.100.1000
hari
Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir,
Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan
lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit,
dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim
hadits no.1149,bahwa “seorang wanita
bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan
diperbolehkan oleh Rasul shallallahu ‘alayhi wa
sallam”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari
dan Muslim bahwa “seorang sahabat
menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan
Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan
Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan
untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah
sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga
Muhammad dan dari Ummat
Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).
Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu
sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur
(kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak
ada yang memungkirinya apalagi
mengharamkannya, dan perselisihan pendapat
hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila
si pembaca tak mengucapkan lafadz :
“Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan
sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila
hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama
Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.
Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai
atau
tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi
berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula
Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua
puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair
(mendapat manfaat dari amal selainnya).
Mengenai ayat :
ﻭَﺃَﻥ ﻟَّﻴْﺲَ ﻟِﻺِﻧﺴَﺎﻥِ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺳﻌﻰ
“dan bahwasanya tiada bagi manusia selain apa
yang telah diusahakannya,” (QS. an-Najm : 39)
Maka Ibn Abbas radliyallahu ‘anh menyatakan
bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat,
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌَﺘْﻬُﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘُﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻥٍ ﺃَﻟْﺤَﻘْﻨَﺎ ﺑِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ
ﻭَﻣَﺎ
ﺃَﻟَﺘْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻛُﻞُّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺐَ ﺭَﻫِﻴﻦٌ
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang
anak
cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami hubungkan anak cucu mereka dengan
mereka… (QS. ath-Thuur 52 : 21)”.
Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila
wafat keturunan adam, maka terputuslah
amalnya
terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang
bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya,
maka orang orang lain yang mengirim amal,
dzikir
dan lain-lain untuknya ini jelas jelas bukanlah
amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah
shalallahu‘alayhi wa sallam menjelaskan
terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang
lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga
sebagai hujjah bahwa
Allah memerintahkan di dalam Al-Qur’an untuk
mendoakan orang yang telah wafat :
ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺟﺎﺀﻭﺍ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﺭﺑﻨﺎ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻨﺎ ﻭﻹﺧﻮﺍﻧﻨﺎ
ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺳﺒﻘﻮﻧﺎ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﺠﻌﻞ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻏﻼ ﻟﻠﺬﻳﻦ
ﺁﻣﻨﻮﺍ
ﺭﺑﻨﺎ ﺇﻧﻚ ﺭﺀﻭﻑ ﺭﺣﻴﻢ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka
(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb
kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dulu dari kami,
dan
janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam
hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya
Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang. alHasyr 59 10)
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun
Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya,
siapa pula yang memungkiri muslimin
berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang
tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa
ilaah
illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai
sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan
agar semua orang awam bisa mengikutinya
dengan mudah, ini sama saja dengan
merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu
ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik
awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat
rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk
mempermudah muslimin terutama yang awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari,Muslim, dan
Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi,
Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll,
dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan
kitab, bila mereka melarangnya maka mana
dalilnya ?,
Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara
Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk
mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak
pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak
pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka
saja yang mengada ada dari kesempitan
pemahamannya.
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000
hari,
atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang
melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang
sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru
kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka
yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha
illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa
ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan
pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang
mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?,
semoga Allah memberi hidayah pada muslimin,
tdk ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha
illallah, tidak ada larangan untuk melarang yang
berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau
kapanpun,pelarangan atas hal ini adalah
kemungkaran yang nyata.Bila hal ini dikatakan
merupakan adat orang hindu,maka bagaimana
dengan computer, handphone,mikrofon, dan
lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan
mimbar yang ada di masjid masjidpun adalah
adat istiadat gereja, namun selama hal itu
bermanfaat dan tak melanggar syariah maka
boleh
boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw
meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10
muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang
yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka
tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul
saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian
atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan
muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih
Bukhari hadits no.3726,3727).
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam
Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu
membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali
membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia
membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak
mau meninggalkan surat al ikhlas setiap
rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan
Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap
rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul
saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa
kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku
mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw
bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan
membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
Maka tentunya orang itu tak melakukan hal
tersebut dari ajaran Rasul saw, ia membuat
buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al
Ikhlas, maka Rasul tidak melarangnya bahkan
memujinya.
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh
(Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli
hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus
ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya)
dan para Imam imam mengirim hadiah pada
Rasullullah saw Berkata Imam al-Hafidh al-
Muhaddits Ali bin al-Muwaffiq rahimahullah :
“aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan
kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji
untuk Rasululah saw
Berkata al-Imam al-Hafidh al-Muhaddits Abul
Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj :
“aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan
7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw
dan aku
menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk
Rasulullah
saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam
Alqur’an untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu
‘alayhi wa sallam, dan kujadikan seluruh amalku
untuk Rasulullah Rasullah saw Ia adalah murid
dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia
menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh
Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat
pada 313 H.Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq
Almuzakkiy,aku mengikuti Abul Abbas dan aku
haji pula 7Xuntuk rasulullah saw, dan aku
mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk
Rasulullah saw.(Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111)

2 Tanggapan

  1. maaf akhi.. sya yg bodoh ini ikut nimrung..
    mngenai mikrofon, HP, naik pesawat saat brangkat haji, itu bukan trmasuk dlam perkara bid’ah agama, krna itu hnya medai utk kemaslahatan ummat..
    sya mau tnya??? apakah Al-Imam As Syafi’i Rah.A, melaksanakan tahlilan? yasinan? jwabannya adlah tdak, melainkan d lakukan oleh pengikut2 beliau. Imam Aswaja sja tdk melakukanny, lalu kita ikut Imam Syafi’i yg mana ya??
    kalo ada bid’ah hasanah.. berarti ada kafir hasanah ?? ada syirik hasanah jga??

  2. Mayoritas ulama Islam yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyah dan yang datang sesudahnya mengecam dan menolak pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya (ajaran Salafi). Penolakan ini dikarenakan ajaran Salafi tersebut dianggap sudah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya ( Uraian artikel dari Wahabi dimata ulama Madzhab). MENGAPA BARIS AWAL ARTIKEL INI PAKAI PENDAPAT IBN TAIMIYYAH Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai
    atau
    tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi
    berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula
    Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua
    puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair. pUSIIIIING DEH

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: