DUSTA WAHABI CATUT KITAB I’ANATUHTHILIBIN


Dustanya wahabi terhadap Kitab I’anatuth Thalibin
( ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ) adalah kitab Fiqh karangan
Al‐‘Allamah Asy‐Syekh Al‐Imam Abi Bakr Ibnu As‐
Sayyid Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i,
yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in
tentang Tahlilan
“Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul
di rumah keluarga si mayit, dan
dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah,
yang akan diberi pahala bagi
orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan
kukuhlah kaidah‐kaidah agama, dan dengannya
dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth
Thalibin, 2/165)
Teks arabnya ;
( ﻧﻌﻢ، ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻊ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﮭﺎ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ )
Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran,
dimana orang yang membacanya akan mengira
bahwa berkumpul di tempat ahlu (keluarga) mayyit
dan memakan makanan yang disediakan adalah
termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti
itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. ‘Mereka’
telah menggunting (menukil secara tidak jujur)
kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang
dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur.
Padahal, yang benar, bahwa kalimat tersebut
merupakan jawaban atas pertanyaan yang
ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang
‘mereka’ nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”.
Berikut teks lengkapnya;
ﻭﻗﺪ ﺍﻃﻠﻌﺖ ﻋﻠﻰ ﺳﺆﺍﻝ ﺭﻓﻊ ﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﻣﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ
ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ . ﻭﺟﻮﺍﺏ ﻣﻨﮭﻢ ﻟﺬﻟﻚ .
‏(ﻭﺻﻮﺭﺗﮭﻤﺎ ‏) . ﻣﺎ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺩﺍﻡ ﻧﻔﻌﮭﻢ
ﻟﻼﻧﺎﻡ ﻣﺪﻯ ﺍﻻﻳﺎﻡ، ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﺓ
ﻟﻤﻦ ﺑﮭﺎ ﻣﻦ ﺍﻻﺷﺨﺎﺹ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ،
ﻭﺣﻀﺮ ﻣﻌﺎﺭﻓﻪ ﻭﺟﻴﺮﺍﻧﻪ ﺍﻟﻌﺰﺍﺀ، ﺟﺮﻯ
ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺑﺄﻧﮭﻢ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻭﻣﻦ ﻏﻠﺒﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﮬﻞ
ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﺘﻜﻠﻔﻮﻥ ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﺍﻟﺘﺎﻡ، ﻭﻳﮭﻴﺌﻮﻥ ﻟﮭﻢ
ﺃﻃﻌﻤﺔ ﻋﺪﻳﺪﺓ، ﻭﻳﺤﻀﺮﻭﻧﮭﺎ ﻟﮭﻢ ﺑﺎﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪﺓ . ﻓﮭﻞ ﻟﻮ
ﺃﺭﺍﺩ ﺭﺋﻴﺲ ﺍﻟﺤﻜﺎﻡ – ﺑﻤﺎ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﺑﺎﻟﺮﻋﻴﺔ،
ﻭﺍﻟﺸﻔﻘﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﮬﺎﻟﻲ – ﺑﻤﻨﻊ ﮬﺬﻩ ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﻟﻴﻌﻮﺩﻭﺍ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﺍﻟﻤﺄﺛﻮﺭﺓ ﻋﻦ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ
ﻭﺇﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺑﻪ ﺻﻼﺓ ﻭﺳﻼﻣﺎ، ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ : ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻵﻝ ﺟﻌﻔﺮ
ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﮬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ؟
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengenai
pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para
Mufti Mekkah ( ﻣﻔﺎﺗﻲ ﻣﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ) tentang apa yang
dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal
makanan (membuat makanan) dan (juga aku
perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut.
Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ;
pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitu mengenai
(bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya
( ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ) di negeri “al‐Haram”,
(semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka
untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang
kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa
jika ada yang meninggal , kemudian para
pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan
tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka
(pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan
karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu
(keluarga mayyit) maka mereka membebani diri
dengan beban yang sempurna ( ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﺍﻟﺘﺎﻡ ), dan
(kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan
yang banyak (untuk pentakziyah) dan
menghadirkannya kepada mereka dengan rasa
kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak
hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat
dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit melarang
(mencegah) permasalahan tersebut secara
keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang
kepada As‐Sunnah yang lurus, yang berasal dari
manusia yang Baik ( ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ ) dan (kembali)
kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam
atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan
untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi
pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang
disebutkan (pelarangan itu) ?
ﻭﺣﺪﻩ‏) ﻭﺻﻠﻰ ﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﺃﻓﻴﺪﻭﺍ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺏ ﺑﻤﺎ ﮬﻮ ﻣﻨﻘﻮﻝ ﻭﻣﺴﻄﻮﺭ . ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ
ﻧﮭﺠﮭﻢ ﺑﻌﺪﻩ . ﺍﻟﻠﮭﻢ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﺍﻟﮭﺪﺍﻳﺔ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ . ﻧﻌﻢ، ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﮬﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻊ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻣﻦ
ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﮭﺎ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ، ﺛﺒﺖ ﻟﻠﻪ ﺑﻪ
ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺃﻳﺪ ﺑﻪ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ .
“ Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang
telah di tanyakan, ,
ﺣﺪﻩ‏) ﻭﺻﻠﻰ ﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ . ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ
ﻧﮭﺠﮭﻢ ﺑﻌﺪﻩ .
Ya .. Allah aku memohon kepada‐Mu supaya
memberikan petunjuk kebenaran”.
“Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari
berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan
menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah
munkarah, yang diberi pahala bagi yang
mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan
mengukuhkan dengannya kaidah‐kaidah agama dan
mendorong Islam serta umat Islam”,
Betapa apa yang dikehendaki dari kalimat diatas
telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong
sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka
gunakan untuk melarang Tahlilan. Ketidak jujuran ini
yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam
atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al‐‘Allamah
Asy‐Syekh Al‐Imam Abi Bakr Ibnu As‐Sayyid
Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i.
Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang
sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah
adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan
( ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ) di tempat ahlu (keluarga)
yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun
akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar
dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat
wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan
tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa
yang menghentikan
kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun,
karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani
untuk menetapkan hokum “Haram” kecuali jika
memang ada dalil yang jelas dan sebab‐sebabnya
pun luas.
Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata
lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum
(bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana
pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan
ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi)
bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan
untuk menghormati pentakziyah yang datang.
Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke
rumah ahlul mushibah dengan kehendaknya sendiri,
melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan
rumah merasa berat tentu saja tidak perlu
mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang.
Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham
tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap
keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk
melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau
ahlu (keluarga) mayyit itu
sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu
(keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit
untuk mengadakan tahlilan dan mengundang
tetangga atau orang lain untuk datang ke
kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga)
mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa
keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang
diundang sama sekali tidak memaksa ahlu
(keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu
(keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri
bahwa mereka mampu dan dengan senang hati
beramal untuk kepentingan saudaranya yang
meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu
bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan
ahlu (keluarga) mayyit.
Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu
(keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi
dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak
dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih
utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh”
dengan menghibur ahlu (keluarga) mayyit, membuat
hati ahlu (keluarga) mayyit senang ataukah
menghindari “yang dianggap makruh” namun
menyakiti hati ahlu (keluarga) mayyit ? Tentu saja
akal yang sehat pun aka menilai bahwa
menyenangkan hati orang dengan hal‐hal yang tidak
diharamkan adalah
sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti
perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat
berakibat dosa.
Disisi yang lain antara ahlu (keluarga) mayyit dan
yang diundang, sama‐sama mendapatkan kebaikan.
Dimana ahlu (keluarga) mayyit telah melakukan
amal shaleh dengan mengajak orang banyak
mendo’akan anggota keluarga yang meninggal
dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan
menghormati tamu dengan cara memberikan
makanan dan minuman. Pada sisi yang di undang
pun sama‐sama melakukan amal shaleh dengan
memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir
bersama, menemani dan menghibur ahlu (keluarga)
mayyit. Manakah dari halhal baik tersebut yang
diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar‐
benar bijaksana dalam menetapkan hokum “makruh”
karena melihat dengan seksama adanya potensi
“menambah kesedihan atau beban merepotkan”,
meskipun jika seandainya hal itu tidak benar benar
ada.
Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan
oleh orang awam, yang sangat membebani dan
menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada
dalam masalah agama, secara umum tidak bisa
dijadikan alasan untuk menetapkan hokum haram
atau terlarang. Bagi mereka, lebih pantas diberi tahu
atau diajari bukan di hukumi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: