WAHHABI DAN SYI’AH PERUSAK AGAMA


 Kelopok Wahabi acapkali sering menuduh Ahlisunnah wal Jamaah memiliki kesamaan dengan Syiah, baik yang mengamalkan tarekat shufi maupun lainnya. Tuduhan tersebut hanya berdasarkan atas kebencian Wahabi terhadap Ahlisunnah, agar ketika mereka disamakan dengan Syiah, maka Sunni menolak dan mengikuti aliran Wahabi. Namun justru Wahabi sendirilah yang memiliki banyak kesamaan dengan Syiah. Fakta- fatka tersebut akan kami urai dalam artikel. Mengkafirkan Sahabat Dalam hadis-hadis sahih ditegaskan bahwa masa sahabat adalah kurun waktu terbaik karena mereka hidup bersama Rasulullah Saw. Namun berbeda bagi Syiah, menurut mereka para sahabat ada yang telah kafir. Bagi Wahabi pula, manhaj ilmu mereka boleh hingga menyebabkan kafirnya sahabat kerana melakukan tawassul di makam Rasulullah Saw !! Maksud dalam gambar dibawah adalah manhaj Ibn Baz menyebabkan sahabat menjadi kafir. Jadi wujud persamaan yang agak serasi manhaj ilmu Syiah dan Wahabi hingga boleh menyebabkan kekafiran Sahabat. Kesahihan Atsar Istisqa Di Makam Rasulullah Saw Selain al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih, al-Hafidz Ibnu Katsir juga menilai sahih atsar di bawah ini: ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻻﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ – ‏( ﺝ 7 / ﺹ 105 ‏) ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ : ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻧﺼﺮ ﺑﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻭﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻔﺎﺭﺳﻲ ﻗﺎﻻ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻣﻄﺮ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺬﻫﻠﻲ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ، ﻋﻦ ﺍﻻﻋﻤﺶ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ : ﺃﺻﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺤﻂ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻓﺠﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﺘﺴﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻣﺘﻚ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻫﻠﻜﻮﺍ. ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻳﺖ ﻋﻤﺮ ﻓﺄﻗﺮﻩ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﺧﺒﺮﻫﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺴﻘﻮﻥ، ﻭﻗﻞ ﻟﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺎﻟﻜﻴﺲ ﺍﻟﻜﻴﺲ. ﻓﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺧﺒﺮ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺁﻟﻮﺍ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻨﻪ. ﻭﻫﺬﺍ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ . al-Hafidz adz-Dzahabi juga mengutip riwayat tersebut dan beliau mendiamkannya tanpa komentar tentang kedlaifannya: ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ – ‏( ﺝ 1 / ﺹ 412 ‏) ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﻋﻤﺶ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺻﺎﻟﺢ، ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻗﺎﻝ : ﺃﺻﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺤﻂ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻤﺮ، ﻓﺠﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﻞ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﺘﺴﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻷﻣﺘﻚ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻫﻠﻜﻮﺍ . ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺋﺖ ﻋﻤﺮ ﻓﺄﻗﺮﺋﻪ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺃﺧﺒﺮﻩ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺴﻘﻮﻥ ﻭﻗﻞ ﻟﻪ : ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻜﻴﺲ ﺍﻟﻜﻴﺲ، ﻓﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺧﺒﺮ ﻋﻤﺮ ﻓﺒﻜﻰ ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺁﻟﻮ ﻣﺎ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻨﻪ . Terkait dengan keraguan Syaikh Bin Baz bahwa ‘Rajul’ tersebut adalah sahabat, maka cukup dibantah dengan ketegasan pernyataan al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa ‘Rajul’ tersebut BENAR-BENAR Bilal bin Harits: ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ – ‏( ﺝ 3 / ﺹ 441 ‏) ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﻭَﻯ ﺳَﻴْﻒ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﺘُﻮﺡ ﺃَﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﺃَﻯ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻡ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭ ﻫُﻮَ ﺑِﻠَﺎﻝ ﺑْﻦ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙ ﺍﻟْﻤُﺰَﻧِﻲُّ ﺃَﺣَﺪ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔ “Saif BENAR-BENAR meriwayatkan dalam al-Futuh bahwa laki-laki yang melihat mimpi tersebut adalah Bilal bin Harits al-Muzani, salah satu sahabat Nabi” (Fath al- Bari 3/441) Jadi al-Hafidz Ibnu Hajar mengutipnya dengan Shighat Jazm (tegas) yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah sahih. Kecuali seandainya al-Hafidz Ibnu hajar mengutip dengan redaksi lemah (Shighat Tamridl) seperti “Dikatakan”, “Diriwayatkan” dan lainnya. Lebih layak mana antara al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih dan Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani dan ulama Wahabi lainnya yang menilai dlaif untuk kita terima? Tidak cukupkah bagi pengikut Wahabi bahwa kalimat Syaikh Bin Baz yang berbunyi: ﻭﺃﻥ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﻭﺳﻴﻠﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺸﺮﻙ Menunjukkan bahwa apa yang dilakukan sahabat tersebut mengarah (wasilah) pada syirik? Sementara wasilah memiliki hukum yang sama dengan tujuannya…. ﻟﻠﻮﺳﺎﺋﻞ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﻘﺎﺻﺪ Kepentingan Yahudi Syiah secara diam-diam menjalin hubungan yang erat dengan Yahudi. Demikian halnya ulama-ulama Wahabi memberi fatwa-fatwa yang menguntungkan Yahudi. Diantaranya adalah fatwa Syaikh Albani: ﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻠﺴﻄﻴﻨﻴﻴﻦ ﺍﻥ ﻳﻐﺎﺩﺭﻭﺍ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﻭﻳﺨﺮﺟﻮﺍ ﺍﻻﻯ ﺑﻼﺩ ﺍﺧﺮﻯ ﻭﺍﻥ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺑﻘﻲ ﻓﻲ ﻓﻠﺴﻄﻴﻦ ﻣﻨﻬﻢ ﻛﺎﻓﺮ ‏( ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺟﻤﻊ ﻋﻜﺎﺷﺔ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻨﺎﻥ ﺹ 18 ) “Warga Muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke Negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir” (Fatawa al-Albani yang dihimpun oleh Ukasyah Abdul Mannan, Hal. 18) Fatwa Kontroversial ini membuat reaksi keras dari berbagai kalangan di Timur Tengah. Sebagian pakar menganggap bahwa logika yang dipakai oleh Albani, ulama Wahabi, adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena fatwa Wahabi ini menguntungkan Yahudi yang berambisi menguasai negeri Palestina. Begitu pula Syaikh Bin Baz, ulama Wahabi. Tahun 1994 ia keluarkan fatwa yang membolehkan kaum Muslimin melakukan perdamaian permanen, tanpa batas dan tanpa syarat dengan Yahudi. Fatwa ini mendapat dukungan dari orang Yahudi, sehingga Simon Perez, Menlu Israil meminta Negara-negara Arab dan kaum Muslimin agar mengikuti fatwa Bin Baz untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Israil. Fatwa ini dimuat di berbagai media massa Timur Tengah seperti surat kabar harian Nida’ al-Wathan Lebanon edisi 644, surat kabar al-Diyar Lebanon edisi 2276, surat kabar al-Muslimun Saudi Arabia dan harian Telegraph Australia. Mengkafirkan Umat Islam Umat Islam Ahlusunnah wal Jamaah adalah umat Muslim mayoritas di Dunia setelah Rasulullah Saw wafat. Namun bagi kelompok Syiah dan Wahabi, Ahlisunnah adalah kafir dan musyrik Begitu pula pengikut Wahabi menghukumi kafir dan musyrik pada umat Islam serta menghalalkan darah dan hartanya. Diambil dari kitab ﻓﻀﺎﺋﺢ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ Syaikh Fathi Al- Mishri Al-Azhari berkata:: ﻗﺎﻝ ﻣﻔﺘﻲ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻰ ﺳﻨﺔ 1225 ﻫـ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ ﺍﻟﺴﺤﺐ ﺍﻟﻮﺍﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﺮﺍﺋﺢ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ” ﺹ 276 ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ”: ﻓﺈﻧّﻪ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺑﺎﻳﻨﻪ ﺃﺣﺪ ﻭﺭﺩَّ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﻠﻪ ﻣﺠﺎﻫﺮﺓً ﻳﺮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﻐﺘﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻟﻴﻼً ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺑﺘﻜﻔﻴﺮ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻔﻪ ﻭﺍﺳﺘﺤﻼﻟﻪ ﻗﺘﻠﻪ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻔﺘﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺭﺋﻴﺲ ﺍﻟﻤﺪﺭﺳﻴﻦ ﻓﻲ ﻣﻜﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺣﻤﺪ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ” ﺻﺤﻴﻔﺔ 46 ”:ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻳﻘﻮﻝ ”: ﺇﻧﻲ ﺃﺩﻋﻮﻛﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﺍﻟﻄﺒﺎﻕ ﻣﺸﺮﻙ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻭﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﺸﺮﻛًﺎ ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻭﺟﻤﺎﻋﺘﻪ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ‏( ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ‏) ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻭﺍﺳﺘﺒﺎﺣﻮﺍ ﺩﻣﺎﺀﻫﻢ ﻭﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻬﻜﻮﺍ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺑﻬﻢ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﺮ ﻟﻪ ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺼﺮﺣﻮﻥ ﺑﺘﻜﻔﻴﺮ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻨﺬ ﺳﺘﻤﺎﺋﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺻﺮَّﺡ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻧﻲ ﺃﺗﻴﺘﻜﻢ ﺑﺪﻳﻦ ﺟﺪﻳﺪ. ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﺤﺼﺮٌ ﻓﻴﻪ ﻭﻓﻴﻤﻦ ﺗﺒﻌﻪ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﻮﺍﻫﻢ ﻛﻠﻬﻢ ﻣﺸﺮﻛﻮﻥ ‏( ﺍﻧﻈﺮ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ” ﺹ 42 ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻫﺎ ‏). ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﻔﺘﻲ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﺃﻳﻀًﺎ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ ﺃﻣﺮﺍﺀ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ” ﺹ 297 ـ298 ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﺩﺧﻠﻮﺍ ﺍﻟﻄﺎﺋﻒ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺘﻼً ﻋﺎﻣًّﺎ ﻭﺍﺳﺘﻮﻋﺒﻮﺍ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﻭﺍﻷﻣﻴﺮ ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻭﺍﻟﻮﺿﻴﻊ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻳﺬﺑﺤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﺪﺭ ﺍﻷﻡ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺍﻟﺮﺿﻴﻊ ﻭﻳﻘﺘﻠﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ﻭﺍﻟﺤﻮﺍﻧﻴﺖ ﻭﻭﺟﺪﻭﺍ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻳﺘﺪﺍﺭﺳﻮﻥ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﻘﺘﻠﻮﻫﻢ ﻋﻦ ﺀﺍﺧﺮﻫﻢ ﺛﻢ ﺧﺮﺟﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻳﻘﺘﻠﻮﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻫﻮ ﺭﺍﻛﻊ ﺃﻭ ﺳﺎﺟﺪ ﻭﻧﻬﺒﻮﺍ ﺍﻟﻨﻘﻮﺩ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻳﺪﻭﺳﻮﻥ ﺑﺄﻗﺪﺍﻣﻬﻢ ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﻧﺴﺦ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻭﺑﻘﻴﺔ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺍﻟﻨﺤﻮ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻧﺸﺮﻭﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺯﻗﺔ ﻭﺍﻟﺒﻄﺎﺋﺢ ﻭﺃﺧﺬﻭﺍ ﺃﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻗﺘﺴﻤﻮﻫﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺴﻢ ﻏﻨﺎﺋﻢ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ . ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﻓﻲ “ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ” ﺻﺤﻴﻔﺔ 57 ”:ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴّﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻠﻮﻱ ﺍﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ “ﺟﻼﺀ ﺍﻟﻈﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺿﻞّ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ :” ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺤﻘﻖ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻣﻦ ﺃﻗﻮﺍﻟﻪ ﻭﺃﻓﻌﺎﻟﻪ ‏( ﺃﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ‏) ﻣﺎ ﻳﻮﺟﺐ ﺧﺮﻭﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺑﺎﺳﺘﺤﻼﻟﻪ ﺃﻣﻮﺭًﺍ ﻣﺠﻤﻌًﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻣﻊ ﺗﻨﻘﻴﺼﻪ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﺗﻨﻘﻴﺼﻬﻢ ﻛﻔﺮٌ ﺑﺈﺟﻤﺎﻉ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ . ﻓﺒﺎﻥ ﻭﺍﺗﻀﺢ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻫﻮ ﻭﺃﺗﺒﺎﻋﻪ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﺑﺪﻳﻦ ﺟﺪﻳﺪ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﺩﺧﻞ ﻓﻲ ﺩﻋﻮﺗﻨﺎ ﻓﻠﻪ ﻣﺎ ﻟﻨﺎ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻣﻌﻨﺎ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺣﻼﻝ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ. “Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin Humaid an- Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab: “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.” (Muhammad al- Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah, Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276). Mufti madzhab Syafi’i dan kepala dewan pengajar di Makkah pada masa Sultan Abdul Hamid Syekh Ahmad Zaini Dahlan mengatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab pernah mengatakan: “Sesungguhnya aku mengajak kalian pada tauhid dan meninggalkan syirik pada Allah, semua orang yang berada dibawah langit yang tujuh seluruhnya musyrik secara mutlak sedangkan orang yang membunuh seorang musyrik maka ia akan mendapatkan surga”. (Ahmad Zaini Dahlan, al-Duraru al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, hal 46). Itulah pernyataan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan kelompoknya yang telah menghukumi umat Islam dengan kekufuran, menghalalkan darah dan harta mereka serta mencabik-cabik kemuliaan nabi dengan melakukan bermacam-macam bentuk penghinaan terhadapnya. Mereka juga terang- terangan mengkafirkan umat sejak 600 tahun, dan orang yang pertama kali terang- terangan dengan hal itu adalah Muhammad ibn Abdul Wahhab, ia mengatakan: “Aku telah datang kepada kalian dengan agama yang baru”. Ia meyakini bahwa Islam hanya ada pada dia dan orang-orang yang mengikutinya dan bahwa manusia selain mereka seluruhnya adalah musyrik. Mufti Ahmad Zaini Dahlan juga menuturkan dalam kitabnya Umara-u al Balad al Haram bahwa orang-orang Wahabi ketika memasuki Thaif mereka melakukan pembantaian massal terhadap masyarakat dalam rumah-rumah mereka, mereka juga membantai orang-orang tua dan anak-anak, rakyat dan pejabat, orang mulia dan yang hina. Mereka menyembelih bayi yang sedang menyusu di depan ibunya. Mereka juga membunuh manusia di rumah-rumah dan di toko-toko dan ketika mereka menemukan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an, mereka membunuh semuanya. Kemudian mereka masuk ke mesjid-mesjid dan membunuh siapapun yang berada di dalam mesjid yang sedang ruku’ atau sujud dan merampas uang dan hartanya. Kemudian mereka menginjak-injak mushaf, naskah kitab al Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits, fikih dan nahwu setelah mereka membuangnya di lorong-lorong jalan dan parit-parit serta mengambil harta umat Islam dan membagikannya sesama mereka layaknya membagi harta rampasan (ghanimah) orang kafir. (Ahmad Zaini Dahlan, Umara al-Balad al-Haram, hal. 297-298. Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: “Sayyid Syekh Alawi ibn Ahmad ibn Hasan al Haddad Ba’alawi dalam kitabnya Jala-u al Dhalam fi al Raddi ‘ala al Najdi al Ladzi Adhalla al ‘Awam mengatakan: Kesimpulannya bagi orang yang mencermati perkataan dan prilaku Muhammad ibn Abdul Wahhab akan mengatakan bahwa ia (Muhammad ibn Abdul Wahhab) telah menyalahi kaidah-kaidah Islam karena ia menghalalkan perkara-perkara yang disepakati akan keharamannya dan status haram tersebut telah diketahui dalam agama oleh semua umat baik yang alim ataupun yang bodoh sekalipun. Juga pelecehannya terhadap para nabi dan rasul, para wali dan orang- orang yang shalih. Pelecehan seperti ini adalah kekufuran dengan ijma’ para imam yang empat. Demikian pemaparan Ahmad Zaini Dahlan. (Lihat al-Durar al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah hal. 57) Dengan demikian menjadi jelas bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya datang dengan membawa agama baru dan bukan membawa agama Islam. Dia pernah mengatakan: “Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka baginya hak sebagaimana hak kita dan barang siapa yang tidak masuk dalam dakwah kita maka dia kafir halal darah dan hartanya.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Kasyfu al-Syubuhat, Saudi Arabia: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, hal. 7). Melarang Salat Janazah Sunni Bagi golongan Syiah, menyalati janazah umat Islam Ahlisunnah adalah tidak wajib, bahkan tidak boleh, karena mereka tidak iman kepada imam-imam Syiah yang 12. Demikian halnya dengan fatwa-fatwa ulama Wahabi yang menuduh secara keji bahwa umat Islam yang berziarah ke makam Ulama sebagai “Penyembah Kubur” sehingga dihukumi musyrik seperti fatwa Syaikh Bin Baz: ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻭَﻳَﺼُﻮْﻡُ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻲ ﺑِﺄَﺭْﻛَﺎﻥِ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺴْﺘَﻐِﻴْﺚُ ﺑِﺎْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺎﺋِﺒِﻴْﻦَ ﻭَﺑِﺎﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻭَﻧَﺤْﻮِ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﺸْﺮِﻙٌ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻧَﺼَﺢَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺒَﻞْ ﻭَﺃَﺻَﺮَّ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎﺕَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﺸْﺮِﻙٌ ﺷِﺮْﻛًﺎ ﺃَﻛْﺒَﺮَ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻪُ ﻣِﻦْ ﻣِﻠَّﺔِ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ، ﻓَﻼَ ﻳُﻐْﺴَﻞُ ﻭَﻻَ ﻳُﺼَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﻭَﻻَ ﻳُﺪْﻓَﻦُ ﻓِﻲ ﻣَﻘَﺎﺑِﺮِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﻻَ ﻳُﺪْﻋَﻰ ﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ ﻭَﻻَ ﻳَﺮِﺛُﻪُ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻩُ ﻭَﻻَ ﺃَﺑَﻮَﺍﻩُ ﻭَﻻَ ﺇِﺧْﻮَﺗُﻪُ ﺍﻟْﻤُﻮَﺣِّﺪُﻭْﻥَ ﻭَﻻَ ﻧَﺤْﻮُﻫُﻢْ ﻣِﻤَّﻦْ ﻫُﻮَ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻻِﺧْﺘِﻼَﻓِﻬِﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ؛ ﻟِﻘَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏« ﻻَ ﻳَﺮِﺙُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮَ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ‏» ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱ ﻭَﻣُﺴْﻠِﻢٌ ‏( ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺋﻤﺔ ﻟﻠﺒﺤﻮﺙ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﺔ ﻭﺍﻹﻓﺘﺎﺀ – ﺝ 1 / ﺹ 75 ) “Barangsiapa yang salat, berpuasa dan menjalankan rukun-rukun Islam, hanya saja ia beristighatsah dengan orang mati, orang yang ghaib, malaikat dan lainnya, maka ia Musyrik. Jika ia diberi nasehat dan tidak menerima serta masih tetap melakukan hal itu hingga ia mati, maka ia Msurik dengan syirik besar yang menyebabkan ia keluar dari Islam. Maka mayatnya tidak boleh dimandikan, tidak disalati, tidak dikubur di pemakaman umat Islam, tidak didoakan dengan ampunan, tidak boleh memberi waris dan tidak boleh menerima warisan, karena beda agama. Nabi bersabda: Seorang Muslim tidak boleh memberi warisan kepada orang kafir. Dan orang kafir tidak boleh memberi warisan kepada orang Muslim (HR Bukhari dan Muslim)” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ 1/75)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: