Fiqih imamsyafi’i

Ibdah maghdoh/ghoirumaghdoh
Perbedaan Ibadah Mahdah Dan Ghairuh Mahdhah
Bismillah…
dengan simpel saya jelaskan dgkreteria sebagai berikut….
A. Pengertian Ibadah
Secara etomologis diambil dari kata ‘ abada,ya’budu, ‘abdan, fahuwa‘aabidun. ‘Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hatta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya.
Manusia adalah hamba Allah ‘Ibaadullaah’ jiwa raga hanya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin kayanya ketentuan Allah, dan diciptakan hanya untuk ibadah ataumenghamba kepada-Nya:
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدونِ الذريات56
Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu (QS. 51(al-Dzariyat ): 56).
B. Jenis ‘Ibadah
Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dansifat yang berbeda antara satu dengan lainnya;
1. ‘Ibadah Mahdhah, artinya penghambaan yang murni hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah secara langsung.
‘Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.b. Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:وماارسلنا من رسولالا ليطاع باذن الله … النسآء 64
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulkecuali untuk ditaati dengan izin Allah…(QS. 4: 64).
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا…الحشر 7
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah…( QS.59: 7).
Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda:
صلوا كما رايتمونىاصلى .رواه البخاري . خذوا عنىمناسككم .
Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat.Ambillah dari padaku tatacara haji kamu
Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan “Muhdatsatul umur” perkara meng-ada-ada, yang populer disebut bid’ah: Sabda Nabi saw.:
من احدث فى امرنا هذاما ليس منه فهو رد . متفق عليه . عليكم بسنتى وسنة الخلفآء الراشدين المهديين من بعدى ،تمسكوا بها وعضوا بها بالنواجذ ، واياكم ومحدثات الامور، فان كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة . رواه احمد وابوداود والترمذي وابن ماجه ، اما بعد، فانخير الحديث كتاب الله ، وخير الهدي هدي محمد ص. وشر الامور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة . رواه مسلمSalah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Nabi Muhammad saw. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-rasul mereka:

ذرونى ما تركتكم، فانما هلك من كان قبلكم بكثرة سؤالهم واختلافهم على انبيآئهم، فاذا امرتكم بشيئ فأتوا منه ماستطعتم واذا نهيتكم عن شيئ فدعوه . اخرجه مسلم
c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengertiatau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
d. Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingandan kebahagiaan hamba,bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi:
Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
1. Wudhu,
2. Tayammum
3. Mandi hadats
4. Adzan
5. Iqamat
6. Shalat
7. Membaca al-Quran
8. I’tikaf
9. Shiyam ( Puasa )
10. Haji11. Umrah
12. Tajhiz al- Janazah
Rumusan Ibadah Mahdhah adalah
“KA + SS”
(Karena Allah + Sesuai Syari’at)
2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah jugamerupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya . Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.
b. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
c. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.

d. Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.
Rumusan Ibadah Ghairu Mahdhah
“BB + KA”
(Berbuat Baik + Karena Allah)

Rumusan Ibadah Ghairu Mahdhah
“BB + KA”
(Berbuat Baik + Karena Allah)
3. Hikmah Ibadah Mahdhah
Pokok dari semua ajaran Islam adalah “Tawhiedulilaah” (KeEsaan Allah) , dan ibadah mahdhah itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan ke Esaan Allah itu, sehingga dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan:
a. Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus menghadap ke arah ka’bah, itu bukan menyembah Ka’bah, dia adalah batu tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, tetapi syarat sah shalat menghadap ke sana untuk menyatukan arah pandang, sebagai perwujudan Allah yang diibadati itu Esa. Di mana pun orang shalat ke arahsanalah kiblatnya (QS. 2: 144).
b. Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semuaorang yang shalat gerakan pokoknya sama,terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku’), sujud dan duduk. Demikian halnya ketika thawaf dan sa’i, arah putaran dan gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah yang diibadati hanya satu.
c. Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang disembah (diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan ibadah kepadanya hanya satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa ibunya apa, apakah dia mengertiatau tidak, harus satu bahasa, demikian juga membaca al-Quran, dari sejak turunnya hingga kini al-Quran adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya bukan membaca al-Quran
adzan 2 kali dan qoliyah jum’at
bismillah…
Komunitas muslim di Indonesia meyoritas adalah warga Nahdliyyain dan mereka itu pada umumnya awam tentang dalil-dalil bagi amaliyah yang selama ini mereka amalkan. Maka wajarlah mereka itu kita beri pencerahan tentang amaliyah-amaliyah NU secara utuh agar mereka tidak menjadi kurban cara pandang kelompok muslim yang suka membid’ahkan muslim lain yang bukan kelompoknya.
Memang ada kelompok muslim dengan nada provokatif yang melontarkan tuduhan negataif kepada warga kita, antara lain –kata mereka- Adzan Jum’at dua kali, shalat sunnat qobliyah Jum’at dan khotbah dengan memegang tongkat itu termasuk tindakan BID’AH.
Di bawah ini penjelasan tentang permasalah amaliyah-amaliyah tersebut :
Pelaksanaan Jum’at yang dilakukan oleh warga Nahdliyyin adalah dengan dua kali adzan dan satu iqamah. Urut-urutannya sebagai berikut :
– Mu’addzin mengumandangkan adzan. Adzan pertama ini disebut dengan istilah adzan tsalits;
– Kemudian para jama’ah melakukan shalat sunat qobliyah dua rakaat;
– Setelah khatib naik mimbar dan menyampaikan salam kepada para jama’ah, maka mu’adzin mengumandangkan adzan lagi. Adzan yang kedua ini disebut adzan awal;
– Selanjutnya sang khatib membacakan dua khotbah dalam posisi berdiri dan memegang sebuah tongkat;
– Setelah selesai khotbah, maka muadzin mengumandangkan iqamah (kamat). Dan ini disebut dengan istilah adzan tsani.Dasar Hukum Pelaksanaan Adzan Tsalits
Adzan tsalits (adzan pertama kali) ini dilakukan oleh umat Islam pada zaman sahabat
Utsman bin Affan ra. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
عن السائب بن زيد رضي الله عنه قال : كان النداء يوم الجمعة أوله إذا جلس الإمام على المنبر على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما. فلما كان عثمان رضي الله عنه وكثر الناس زاد النداء الثالث على الزوراء. [رواه البخاري]
Artinya :
“Dari Sa’ib bin Yazid dia berkata : pada mulanya adzan jum’at itu ketika khatib duduk di atas mimbar, demikian itu pada zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar. Kemudian pada zaman Utsman, manusia bertambah banyak yang dataug ke masjid, maka ditambahlah adzan tsalits di atas menar”. (HR. Bukhori)
Riwayat hadits ini menyatakan bahwa sejak masa pemerintahan Utsman terjadi penambahan adzan tsalits tersebut. Apa yang dilakukan oleh Utsman ini ternyata diikuti oleh seluruh sahabat yang ada waktu itu dan tak ada satu pun dari mereka yang menentangnya.
Dengan demikian mengenai adzan tsalits tersebut berarti telah terjadi kesepakatan pendapat di antara para sahabat (ijma’ shahabi). Dan ijma’ shahabi ini bisa dipakai dasar hukum.
Selain itu, mengikuti jejak sahabat Utsman Berarti juga mengikuti jejak Nabi, sebab Nabi memerintahkan kepada kita agar mengikuti Khulafa’ur Rasyidin, dan Utsman termasuk salah satu seorang dari rnereka, sesuai dengan sabda beliau :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي [رواه أبو داود]
Artinya:
“Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudah aku”. (HR. Abu Dawud)Dasar Hukum Pelaksanaan Shalat Sunnat Qobliyah Jum’at dan Khotbah dengan Memegang Tongkat
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah mengamalkan shalat sunat qobliyah Jum’at ini berdasarkan sunnah qouliyyah dan sunnah fi’liyyah (sabda dan perilaku Nabi SAW), sebagaimana yang tersebut dalam kitab Ahkamul Fuqoha’ masalah no. 4 dengan mengutip keterangan dari kitab karangan Syaikh Kurdi ala Bafadlol, sebagai berikut :
قال الكردي على بافضل في باب صلاة الجمعة : وأقوى ما يتمسك به مشروعية الركعتين قبل الجمعة ما صححه ابن حبان من حديث عبد الله بن الزبير مرفوعا : ما من صلاة إلا وبين يديها ركعتان. قاله في فتح الباري. وقال الكردي أيضا : ورأيت نقلا عن شرح المشكاة لملا على القاري ما نصه : وقد جاء بسند جيد كما قاله العراقي إنه صلى الله عليه وسلم كان يصلي قبلها أربعا. اهـ
Artinya :
“Dalil yang paling kuat sebagai pedoman bagi dianjurkannya shalat qobliyah Jum’at dua rakaat ialah hadits shahih riwayat Ibnu Hibban dari Abdillah bin Zubair Marfu’ sampai Rasulullah SAW. : “Tidak ada satu pun shalat fardlu kecuali sebelumnya dilakukan shalat sunat dua rakaat”. Demikian keterangan kitab Fathul Bari. Syaikh Kurdi juga mengatakan : “saya melihat ada sebuah riwayat syarah Misykah karangan Syaikh Mula Ali Qori, demikian teksnya : “telah datang sebuah riwayat dengan sadad yang bagus sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-‘Iroqi bahwa Rasulullah Saw. melakukan shalat sebelum Jum’atan empat rakaat”.
Adapun khotbah dengan memegang tongkat ini dasar hukumnya adalah Fi’lun Nabi SAW. sebagaimana yang ditulis oleh imam Suyuthi dalam kitab Al-Jami’us Shoghir hal 245:
كان إذا خطب في الحرب خطب على قوس وإذا خطب في الجمعة خطب على عصا. [رواه ابن ماجه والحاكم والبيهقي]
Artinya :
“Adalah Rasulullah SAW. ketika berkhutbah dalam rangka perang beliau berkhutbah dengan memegang pedang, dan jika berkhutbah untuk shalat Jum’at beliau berliau berkhutbah dengan memegang tongkat” (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)
Dengan demikian warga kita mengerti bahwa tuduhan BID’AH yang dialamatkan kepada kita itu menjadi batal dalam hukum, karena kuatnya dalil-dalil syar’i yang mendukung kebenaran-kebenaran amaliyah kita tersebut
syair puji-pujian
Bismillah…
sejak zaman hadulu, di sebagian masjid atau mushalla di Jawa ada kebiasan yang tidak dilakukan di masjid atau mushalla lain, yaitu setelah adzan shalat maktubah dibacakan pujian berupa dzikir, do’a, shalawat nabi atau sya’ir-sya’ir yang islami dengan suara keras. Beberapa menit kemudian baru iqamat. Akhir-akhir ini banyak dipertanyakan bahkan dipertentangkan apakah kebiasaan tersebut mempunyai rujukan dalil syar’i? Dan mengapa tidak semua kaum muslimin di negeri ini melakukan kebiasaan tersebtu? Dengan munculnya pertanyaan seperti itu warga Nahdliyin diberi pengertian untuk menjawab : Apa pujia itu? Bagaimana historisnya? Bagaimana tinjauan hukum syari’at tentang pujian? Dan apa fungsinya?Pengertian Pujian dan Historisnya
Pujian bersal dari akar kata puji, kemudian diberi akhiran “an” yang artinya : pengakuan dan penghargaan dengan tulus atas kebaikan/ keunggulan sesuatu. Yang dimaksud dengan pujian di sini ialah serangkaian kata baik yang berbahasa Arab atau berbahasa Daerah yang berbentuk sya’ir berupa kalimat-kalimat yang isinya mengagungkan asma Allah, dzikir, do’a, shalawat, seruan atau nasehat yang dibaca pada saat di antara adzan dan iqamat.
Secara historis, pujian tersebut berasal dari pola dakwah para wali songo, yakni membuat daya tarik bagi orang-orang di sekitar masjid yang belum mengenal ajaran shalat. Al-hamdulillah dengan dilantunkannya pujian, tembang-tembang/sya’ir islami seadanya pada saat itu secara berangsur/dikit demi sedikit, sebagian dari mereka mau berdatangan mengikuti shalat berjamaah di masjid.Pujian Ditinjau dari Aspek Syari’at
Secara tekstual, memang tidak ada dalil syar’i yang sharih (jawa : ceplos) mengenai bacaaan pujian setelah di kumandangkannya adzan, yang ada dalilnya adalah membaca do’a antara adzan dan iqamat. Sabda Nabi SAW :
الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ، فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى
Artinya :
“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)
Kemudian bagaimana tinjauan syari’at tentang hukum bacaan pujian di masjid atau mushalla seperti sekarang ini? Perlu diketahui, bahwa membaca dzikir dan sya’ir di masjid atau mushalla merupakan suatu hal yang tidak dilarng oleh agama. Pada zaman Rasulullah SAW. para sahabat juga membaca sya’ir di masjid. Diriwayatkan dalam sebuat hadits :
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِى الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ. قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. رواه أبو دادو والنسائي
Artinya :
“Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata : suatu ketika Umar berjalan bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan sya’ir di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab : aku melantunkan sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia dari pada kamu, kemudian dia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya, Ya Allah, mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan ruh al-qudus. Abu Hurairah menjawab : Ya Allah, benar (aku telah mendengarnya)”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
Sehubungan dengan riwayat ini syaikh Isma’il Az-Zain dalam kitabnya Irsyadul Mukminin menjelaskan : Boleh melantunkan sya’ir yang berisi puji-pujian, nasehat, pelajaran tata karama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub hal 179 juga menjelaskan :
وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا، وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ، وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ. إهـ
Artinya :
“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi SAW. setelah adzan (jawa : Pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”.Pujian Ditinjau dari Aspek Selain Syari’at
Apa yang dilakukan para wali di tanah jawa mengenai bacaaan pujian ternyata mempunyai banyak fungsi. Fungsi-fungsi itu antara lain :
1. Dari sisi syi’ar dan penanaman akidah.
Karena di dalam bacaan pujian ini terkandung dzikir, seruan dan nasehat, maka hal itu menjadi sebuah syi’ar dinul islam dan strategi yang jitu untuk menyebarkan ajaran Islam dan pengamalannya di tengah-tengah masyarakat.
2. Dari aspek psikologi (kejiwaan).
Lantunan sya’ir yang indah itu dapat menyebabkan kesejukan jiwa seseorang, menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Amaliyah berupa bacaaan pujian tersebut dapat menjadi semacam persiapan untuk masuk ke tujuan inti, yakni shalat maktubah lima waktu, mengahadap kepada Allah yang Maha Satu.
3. Ada lagi manfaat lain, yaitu :
– Untuk mengobati rasa jemu sambil menunggu pelaksanaan shalat berjamaah;
– Mencegah para santri agar tidak besenda gurau yang mengakibatkan gaduhnya suasana;
– Mengkonsentrasikan para jamaah orang dewasa agar tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu ketika menunggu sahalat jamaah dilaksanakan.
Dengan beberapa alasan sebagaimana tersebut di atas, maka membaca pujian sebelum pelaksanaan shalat jamaah di masjid atau mushalla adalah boleh dan termasuk amaliyah yang baik, asalkan dengan memodifikasi pelaksanaannya, sehingga tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Memang soal terganggu atau tidaknya seseorang itu terkait pada kebiasaan setempat. Modifikasi tersebut misalnya : dengan cara membaca bersama-sama dengan irama yang syahdu, dan sebelum imam hadir di tempat shalat jamaah.
Kalau semua masalah tentang pujian sudah demikian jelasnya, maka tidak perlu ada label “BID’AH DLALALAH” dari pihak yang tidak menyetujuinya.

tentang shodaqoh
Bismillah…
Pengertian Shodaqoh untuk Mayit
Shodaqoh untuk mayit adalah suatu istilah yang disebut juga oleh orang jawa “selametan’, yaitu dengan cara menghidangkan makanan dan minuman dengan niat bersedekah yang lazimnya dikaitkan dengan pembacaan tahlil setelah wafatnya seseorang.Pengertian Bertahlil/Tahlilan
Bertahlil atau dalam bahasa Iawa disebut tahlilan, pada hakekatnya adalah pembacaan kalimat thayyibah, tasbih, tahmid, istighfar, sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan shalawat Nabi yang kemudian diakhiri dengan do’a/permohonan ke hadirat Allah SWT. agar semua amalan/bacaan kita tersebut diterima di
sisiNya, kemudian Allah berkenan melimpahkan pahala dari amalan-amalan tersebut kepada mayit yang kita tahlilkan.
Bermanfaatkah Pahala Sedekah atau Tahlil/ Do’a bagi Si Mayit?
Jika ada orang bertanya : Mungkinkah sedekah dan bacaan tahlil/do’a itu bermanfaat untuk mayit? padahal Allah telah berfirman yang
Artinya:
“Dan bahwasanya manusia tidak akan mendapatkan pahala melainkan dari usaha yang telah dikerjakan”. (QS. An-Najm : 39)
Kalau sudah jelas demikian masalahnya, mengapa kita masih juga bersedekah atau bertahlil untuk orang yang mati? toh … hanya sia-sia amalan kita tersebut?
Maka untuk menjawab pertanyaan itu, mari bersama-sama kita kaji keterangan di bawah ini, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, al-Hadits atau fatwa ulama.
a. Firman Allah SWT.
š
Artinya :
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata : “Hai Tuhan kami, beri ampulah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (QS. Al-Hasyr : 10)
b. Firman Allah SWT.

Artinya :
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad : 19
c. Firman Allah SWT.
Artinya :
“Ya Tuhanku! ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan”. (QS. Nuh : 28)
Ketiga ayat di atas, jelas menunjukkan bahwa do’a dan istighfar dari seorang yang masih hidup dapat berguna untuk orang yang telah mati dari kalangan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.
d. Hadits Nabi SAW.
عن عائشة رضي الله عنها قالت أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : إن أمي أقتتلت نفسها وأراها لو تكلمت تصدقت، فهل لها من أجر إن تصدقت عنها؟ قال : نعم. [متفق عليه]
Artinya :
“Dari A’isyah ra. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW. bahwasanya ibuku telah mati secara mendadak, dan saya mengira andaikan dia sempai berbicara (sebelum mati) pasti dia bersedekah. Adakah dia memperoleh pahala andaikan saya bcrsedekah untuknya? Jawab beliau : ya”. (Muttafaq Alaih)
e. Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’roni memberikan keterangan dalam kitabnya Mizan Kubra :
واتفقوا على أن الاستغفار للميت والدعاء له والصدقة والعتق والحج عنه ينفعه. فهذا ما وجدته من مسائل الاجتماع واتفاق الأئمة الأربعة. اهـ [الميزان الكبرى 1/218]
Artinya:
“Dan teluh sepakat para ulama bahwa bacaan istighfar dan do’a untuk mayit, sedekah, memerdekakan budak, menghajikannya, semua dapat bermanfaat untuknya. Demikianlah yang saya temukan di antara masalah-masalah hukum yang telah disepakati oleh para imam madzhab yang empat”.
Dalil seperti di atas itulah yang dijadikan rujukan/referensi oleh kaum Ahlussunnah wal Jamaah untuk keyakinan mereka bahwa menghadiahkan paha bacaan Al-Qur’an, dzikir, shalawat, atau sedekah itu bisa sampai dan bermanfaat bagi mayit. Dan semua hal tersebut sudah barang tentu atas izin Allah SWT.
Adapun ketentuan hukum yang ada pada ayat 39 An-Najm tersebut adalah berlaku bagi umat Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Sedangkan bagi umat Muhammad, mereka bisa mendapat pahala dari amalnya sendiri dan bisa juga mendapat pahala dari amal orang lain. Hal ini sesuai dengan bunyi ayat sebelumnya :Artinya :
“Apakah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm : 36-39)
Pemahaman yang demikian ini sesuai dengan keterangan dalam kitab tafsir Khozin juz IV hal. 268 :
كان ذلك لقوم إبراهيم وموسى، فأما هذه الأمة فلهم ما سعوا وما سعى لهم غيرهم. اهـ [تفسير خازن 6/268]
Artinya :
“Adapun yang demikian itu adalah bagi kaum Ibrahim dan kaum Musa. Sedangkan untuk umat ini (umat Muhammad SAW), maka mereka dapat memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari amal kebajikan orang lain”.
Ada juga penafsiran versi lain mengenai ayat 39 surat an-Najm tadi, yaitu menurut as-Syaikh Ibnul Qoyyim al-Jauziyah yang dikutip dan diterjemahkan oleh al-Mukarrom KH. Muhyiddin Abd. Shomad dalam bukunya Hujjah NU hal 85, sebagai berikut :
“Jawaban yang baik tentang ayat ini, bahwa menusia dengan amalnya sendiri dan juga karena pergaulannya sendiri dan juga karena pergaulannya yang baik dengan orang lain, ia akan memperoleh banyak teman, melahirkan keturunan, menikahi perempuan, berbuat baik serta menyintai sesama. Maka semua teman, keturunannya dan keluarganya tentu akan menyayanginya kemudian menghadiahkan pahala ibadahnya (ketika telah meninggal dunia). Maka hal itu pada hakikatnya merupakan hasil usahanya sendiri”.
Berdasarkan keterangan yang akurat dari beberapa dalil syar’i di atas, warga kita pasti bisa menjawab pertanyaan dari si penanya dengan jawaban tegas bahwa :
1. Menghadiahkan pahala amal kebaikan kepada ahli kubur yang sama-sama muslim, baik ada hubungan kekerabatan atau tidak antara yang menghadiahkan dengan si mayit yang di hadiahi, itu menurut doktrin Ahlussunnah wal Jamaah bisa sampai pada mayit tadi;
2. Ukhuwwah Islamiyah itu tidak terputus karena kematian. Oleh karenanya menolong ahli kubur dengan do’a yang diwujudkan dalam bentuk tahlilan dan sebagainya itu akan manfaat bagi mereka.
HUKUM BERSENTUH KULIT LAKI LAKI DENGAN WANITA ( BUKAN MAHROM)
ألسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله الذي قوّى بدلائل دينه أركان الشريعة، وصحح بأحكامه فروع الملة الحنيفية، أحمده سبحانه على ما علم، وأشكره على ما أنعم، وأشهد أن لا إله إلا الله الملك الحق المبـين، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين، القائل: «من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين» صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه

صلاة تنشرح بها الصدور، وتهون بها الأمور، وتنكشف بها الستور، وسلم تسليماً كثيراً ما دامت الدهور. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﺻَﻼَﺓً ﻛَﺎﻣِﻠَﺔً ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺳَﻼَﻣًﺎ ﺗﺂﻣًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣًﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗُﻨْﺤَﻞُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻌُﻘَﺪُ ﻭَﺗَﻨْﻔَﺮِﺝُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜُﺮَﺏُ ﻭَﺗُﻘْﻀَﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺤَﻮَﺍﺋِﺞُ ﻭَ ﺗُﻨَﺎﻝُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺮَّﻏَﺎﺋِﺐُ ﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺗِﻴْﻢ ﻭَﻳُﺴْﺘَﺴْﻘَﻰ ﺍﻟْﻐَﻤَﺎﻡُ ﺑِﻮَﺟْﻬِﻪِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻢِ ِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻋَﺪَﺩَ ﻛَﻞِّ ﻣَﻌْﻠُﻮْﻡٍ ﻟَﻚ
Kajian dalam madzhab imam syafi’i
Dalil pertama (QS. AN NISA’ 43
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
Dalam ayat ini dapat di fahami
1. Jangan sholat dalam keadaan mabuk, sholat bisa di kerjakan jika kita sudah tau apa yang kita ucapkan, jangan di saat hilang akal (mabuk)
2. Hilang akal karena mabuk salah satu yang membatalkan whudu’, sebagaimana tidur, karena orang yang dlm keadaan hilang akal tidak mengetahui apakah ia sudah berhadats, buang air besar atau buang air kecil,
3. Jangan sholat setelah bersetubuh ( janabah ) kecuali setelah mandi besar
4. Orang orang yang habis bersetubuh (dalam keadaan junub) /haid. Nifas haram berdiam di dalam masjid, kecuali hanya berlalu sejenak, yang di haramkan adalah sholat
5. Orang sakit atau orang dalam perjalanan yang tidak mendapatkan air boleh bertayamum saja, yakni menganti air dengan tanah menurut syarat syarat yang elah di tentukan dalam kitab kitab fiqih.
6. Begitu juga sehabis buang air besar/kecil atau sesudah menyentuh wanita batal whudu’ .
7. Maka : hilang akal, besetubuh, buang air besar dan kecil dan menyentuh wanita membatalkan whudu’
Ini dalil yang bersumber dari Al Qur’an yang menyatakan bahwa menyentuh wanita yang bukan mahrom (boleh dinikahi) tanpa lapik dapat membatalkan whudu’ dan tidak boleh sembayang sebelum berwhudu’
Didalam madzhab syafi’i setelah di klasifikasikan ada empat hal yang membatalkan whudu’
1. Keluar sesuatu dari dua jalan (dhubur dan qubul)
2. Hilang akal ( tidur, mabuk etc)
3. Bersentuh kulit laki laki dengan wanita yang bukan mahrom tanpa alas (lapik)
4. Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan.
Maka dalam QS An Nisa’ 43 (أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ) atau menyentuh kamu akan wanita
Arti kalimat (لامَس) lamasa = menurut kamus bahas arab adalah bersentuh bukan bersetubuh dan bukan bercium ciuman atau lainnya. Perhatikan dengan baik
a. Tersebut dalam kamus Al Muhidth yaitu kamus yang di percaya ulama ulama islam yang dikarang oleh orang islam arti lamasa “al jassu bil yadi” (menyentuh dengan tangan (juz II halaman 249) begitu juga dalam kamus Al Mu’tamad pada halaman 784 dan begutu juga di dalam kamus munjid
b. Qs. Al An’am 7 (وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ)
Artinya : Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. Maka dalam ayat ini lamasa di artikan menyentuh bukan arti yang lain.
Dalil kedua
Tersebut di dalam kitab Al Muwatha’ : Imam Malik (juz 1 hal 17 hadist ke 108)
باب الْوُضُوءِ مِنْ قُبْلَةِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ
108 – حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : قُبْلَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَجَسُّهَا بِيَدِهِ مِنَ الْمُلاَمَسَةِ، فَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ، فَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ.
Mengabarkan kepadaku Yahya, dari malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim bin Abdullah dari bapaknya Abdullah bin Umar beliau berkata : ciuman laki laki atas istrinya dan menyentuh dia dengan tangannya adalah termasuk “mulamasah” maka barang siapa mencium istrinya, atau menyentuhnya dengan tangannya maka wajib ia berwhudu’
Abdullah Ibnu Umar bin Khatab ini adalah sahabat Nabi yang utama yang banyak merawikn hadist dari Nabi, beliau dengan tegas mengatakan bahwa bersentuh dengan wanita mewajibkan whudu’ jika hendak sholat, juga beliau menegaskan arti lamasa di dalam hadist/ayat di atas adalah (bersentuhan)
Jika kita mengendaki mengikut jejak shalafus shaleh yaitu jejak para sahabat nabi, maka haruslah kita berpendapat bahwa menyentuh wanita itu membtalka whudu’. Sebagaimana yang telah di sampaikan oleh sayyidina Abdullah bin Umar bin Khatab Rda.
Tersebut di dalam kitab Matan abi Sujaa’ I/20
perkara yang membatalkan wudhu adalahنواقض الوضوء ( فصل ) والذي ينقض الوضوء ستة اشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد
PASAL
Perkara yang membatalkan wudhu :
1. Perkara yang keluar dari salah satu dua jalan (kemaluan dan anus)
2. Tidur dengan tidak menetapkan pantatnya
3. Hilangnya akal sebab mabuk atau sakit
4. Persentuhan kulit antara lelaki wanita dewasa tanpa penghalang
5. Menyentuh kelamin anak adam dengan perut telapak tangan
6. Menyentuh lobang anus menurut qaul jadidnya Imam syafi’iKesimpulannya adalah : bersentuhan kulit laki laki dengan wanita yang bukan mahrom maka membatalkan whudu’ sesuai kesepakatan jumhur ulama dalam madzhab Imam Syafi’i, baik bersentuhan dengan sengaja atau tidak, syahwat atau tidak, di sentuh dan tersentuh sama sama membatalkan whudu’. Kecuali bersentuhan beralas/lapik. Bersentuh kuku, gigi, rambut ( sebagaimana yang di sebutkan
….. ولا ينقض شعر وسن وظفر ) إذ لا يلتذ بلمسها
Dan tidak membatalkan wudhu menyentuh rambut, gigi, kuku (juga tulang) karena tidak menimbulkan kelezatan saat menyentuhnya.( Minhaj alQawiim I/61)

DALIL DALIL YANG DI KEMUKAKAN OLEH GOLONGAN ANTI MADZHAB YANG MENENTANG FATWA DALAM MADZHAB SYAFI’I
Ada sebagian orang berpendapat ,bahwa arti “Lamasa” dalam surat An Nisa’ adalah bersetubuh sehingga mereka memfatwakan bahwa bersentuh antara wanita dan pria tidak membatalkan whudu’ : mereka mengatakan yang membatalkan whudu adalah bersetubuh, katanya, mereka mengajukan beberapa dalil untuk memperkuat fatwa mereka yaitu :
1. Tersebut dalam hadist Riwayat Imam Ahmad
Artinya : Dari habib Ibnu Tsabit, dari Urwah dari Siti Aisyah Rda. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW mencium sebagian Istrinya, kemudian beliau keluar pergei sembahyang dan beliau tidak berwhudu’.
Mereka mengatakan, jelas hadist di atas berciuman dengan istri tidak membatalkan whudu. Begitu mereka berhujah.
JAWAB KITA :
1. Hadist Habib bi Abi tsabit ini adalah hadist yang dhaif, tidak dapat dipakai untuk sumber hukum apalagi untuk memutar arti ayat Al qur’an An Nisa’ 43. Yang mengatakan hadist itu dhaif bukan saya, melainkan para ulama ulama Hadist yang tingkat kredibelitas keilmuannya di akui oleh Ulama Ahlussunnah Lainnya. Seperti Sofyan Tsauri, Yahya bin Sa’id Al Qathan. Abu Bakar An nasaburi. Abu hasan Daruqtni. Abu Bakar Al baihaqi dan masi banyak ulama lainnya.
2. Berkata Imam Ahmad Bin Hambal yang meriwayatkan hadist di atas dan berkata Abu Bakar an Nisaiburi, bahwa Habib Ibnu Tsabit yang merawikan Hadist Ini telah tersalah dari “ciuman orang puasa menjadi ciuman orang berwhudu’ ( Majmu’ Juzu’ II halaman 32)
3. Berkata Imam Abu Daud : Diriwayatkan oleh Sofyan Tsauri, bahwa Habib Ibnu Abi Tsabit hanya merawikan hadist dr Urwah Al Nuzni bukan Urwah bin Zuber. Urwah Al Muzni seorang yang tidak di kenal (majhul) bahwa hadist yang shahih dari Siti Asyah ialah : BAHWA NABI MENCIUM ISTRINYA KETIKA BELIAU BERPUASA
(Majmu’ Juzu’ II hal 32)
4.Tersebut di dalam kitab Mizanul I’itidal. Karangan Ad zahabi. Urwah al Muzni, guru habin bin Tsabit adalah seorang yang tidak di kenal (majhul) (Mizanul I’itidal Juz III hal 65)
Maka jika Hadist habib Bin Tsabit di ambil dari urwah ini adalah dhaif. Maka menurut ushul fiqih tidak boleh dipakai untuk mengadakan Hujah apalgi intuk memutar arti dari nash Al qur’an.
2. Ada sebagian penentang mengajukan dalil. Demi meyakini fatwa mereka.
Artinya : dari Abu rouq, di ambilnya dari Ibrahim At taimi, di ambilnya dari Siti aisyah , belau berkata :bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah mencium Istrinya sesudah berwhudu, kemudian beliau tidak mengulangi whudu’ kembali.
Kata mereka : Jelas hadist Ini bahwa mencium istri tidak membatalkan whudu’.
JAWAB KITA
1.Abu Rouq yang merawikan hadist ini adalah orang yang dhaif, beliau di dhaifkan oleh ibnu Mu’in (majmu’ juz II hal 33) maka hadist ini dhaif.
2. Ibrahim at Taimi mengambil hadist dr Ummul Mukminin (Sitti Aisyah) ini sebuah kekeliruan, pembohongan publik. Mengapa? Karena Ibrahim At Taimi tidak pernah berjumpa dengan Sitti Aisyah, ia seorang tabi’ Tabi’in bukan tabi’in, maka jelaslah bahwa haist Ini adalah hadist MURSAL sama derajatnya dengan hadist dhaif, karena ada sanad yang Hilang antara Ibrahim at Taimi dengan Siti Aisyah.
3. berkata Imam bukhari : hadistnya tidak tsabit (
4. berkata Imam Daruqutni : Ia dhaif ( Mizanul I’itidal Juz I hal 55)
Maka kesimpulannya, hadist abu rouq adalah hadist dhaif, sama halnya dengan hadist Ibrahim At taimi di atas. Maka tidak boleh di ketengahkan sebagai landasan hukum, apalagi untuk memelintirkn mksud ayat al qur’an.

3. Mereka membawa hadist Imam Bukhari sebagai penguat Hujah mereka
Artinya : Dari siti aisyah : beliau berkata : adalah aku tidur di hadapan rasulullaj dan kakii padapihak Kiblat beliau, apabila beliau sijid, ia tolak kakiku (dengan tangannya), maka saya tarik kakiku, dan apabila beliau berdiri saya uruskan kembali HR< Imam Bukhari.
Mereka mengatakan in satu bukti bahwa nabi menolak kaki siti aisyah sewaktu sholat, sebagai pertanda tidak batal whudhu’ bersentuh kulit laki laki dengan wanita. Begitu kata mereka.
JAWAB KITA :
1.Hadist ini adalah ahdist IHTIMAL yaitu “boleh jadi” di dalamnya, boleh jadi nabi menolak kaki Ummul mukminin di balik kain ( berlapik) atau di balut kaus kaki. Krena kebiasaan wanita arab sering menggunakan kaus kaki, memakai celana panjang saat tidur, tidak ada di dalam hadist ini menjelaskan tangan nabi langsung menyentuh kaki Siti aiyah tanpa lapik saat ,menlak kakinya. Maka hdist yang mengandung “ihtimal” menurut ushul fiqih tidak dapat di jadikan hujah dalam hukum, apalagi untuk memutar maksud ayat suci al qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam nawawi (ulama mutahid tarjih dalam madzhab Syafi’i)didalam syarah Muslim juz IV halaman 229 :
: dan menurut fatwa jumhur ulama dalam madzhab imam syafi’i bahwasanya bersentuh wanita membinasakan whudu’, mereka meletakkan hadist ini, bahwa Nabi Muhammad saw menyentuh Siti aisyah di balik kain, maka hadist ini menjadi tidak membuktikan atas tidak batalnya whudu’ apabila menyentuh wanita (syarah muslim juz IV hal 229)
Atau dapat dikatakan bahwa hadist tadi, mengandung Ihtimal bukan nash yang terlarang. Kaidah ushul fiqih mengatakan :dalil dali yang dihinggapi “ihtimal” (bolehjadi) tidak boleh lagi dipakai menjadi dalil,
Maka karena itu : walaupun ada hadist ini, walau hadist ni shahih, tidaklah dapat memutar balikkan arti :lamasa” yang berarti bersentuh menjadi bersetubuh.

Hukum Memegang Tongkat bagi Khotib
Jumhur (mayoritas) ulama fiqh mengatakan bahwa sunnah hukumnya bagi khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dijelaskan oleh Imam Syafi’i di dalam kitab al-Umm:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا

Imam Syafi’i RA berkata: Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah saw berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi’ mengabarkan dari Imam Syafi’i dari Ibrahim, dari Laits dari ‘Atha’, bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan”. (al-Umm, juz I, hal 272)

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ

Dari Syu’aib bin Zuraidj at-Tha’ifi ia berkata ”Kami menghadiri shalat jum’at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur”. (Sunan Abi Dawud hal. 824).

As Shan’ani mengomentari hadits terserbut bahwa hadits itu menjelaskan tentang “sunnahnya khatib memegang pedang atau semacamnya pada waktu menyampaikan khutbahnya”. (Subululus Salam, juz II, hal 59)

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ

Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama’ ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain”. (Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz I, hal 180)

Hikmah dianjurkannya memegang tongkat adalah untuk mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya. Demikian dalam kitab Subulus Salam, juz II, hal 59).
Jadi, seorang khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah. Tujuannya, selain mengikuti jejak Rasulullah SAW juga agar khatib lebih konsentrasi (khusyu’) dalam membaca khuthbah. Wallahua’lam bishshawab. (Ngabdurrahman al-Jawi)

SHOLAT JAMAK

Pengertian, Lafazh Niat dan Cara Shalat Qashar Jamak Taqdim dan Ta’khir

Yang dimaksud dengan qashar jamak yaitu mengumpulkan 2 shalat fardhu dalam satu waktu, sekaligus meringkasnya menjad 2 rakaat untuk shalat yang umlah rakaatnya 4. Sedangkan shalat maghrib bisa dijamak tetapi tidak bisa diringkas atau diqashar.

Cara melaksanakan shalat qashar jamak zhuhur dan ashar

1. Shalat qashar jamak taqdim.

a. Waktu pelaksanaannya pada waktu zhuhur.
b.Pertama-tama, melaksanakan sahalat zhuhur 2 rakaat dengan niat

jamak taqdim zhuhur dengan ashar Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAZH ZHUHRI RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ILAIHIL ‘ASHRU ADAA’AN LILLAAH1 TA’AALAA.
Artinya: “Aku (niat) shalat fardhu zhuhur 2 rakaat, qashar, dengan menjamak ashar kepadanya, karena Allah Ta’ala.”
Jika tidak mampu memakai bahasa Arab bisa dengan bahasa terjemah dan tentunya dibaca didalam hati.
c. Setelah salam, shalat zhuhur selesai kemudian kumandangkan iqamah.
d. Setelah iqamah dilanjutkan dengan melaksanakan shalat ashar 2 rakaat, dengan niat:

jamak taqdim ashar Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAL ‘ASHRI RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ILAZH ZHUHRI ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : “Aku (niat) shalatfardhuashar2 rakaat, qashar, dengan menjamaknya kepada zhuhur, karena Allah Ta’ala.”
e. Setelah shalat ashar selesai, berarti pelaksanaan shalat qashar-jamak taqdim zhuhur dengan ashar ini pun selesai. Dan jika masuk waktu ashar, tidak wajib melaksanakan shalat ashar lagi.

2. Shalat qashar jamak taqdim: maghrib dengan isya.

a. Waktu pelaksanaannya pada waktu maghrib.
b. Pertama, melaksanakan shalat maghrib 3 rakaat (shalat maghrib tidak diqashar), dengan niat:

jamak taqdim maghrib Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak image Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak
USHALLII FARDHAL MAGHRIB TSAL AATS A RAKA’ A ATIN MAJMUU’AN ILAIHIL ‘ISYAA’U ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : (di dalam hati pada saat takbiratul ihram!)
“Aku (niat) shalatfardhu maghrib 3 rakaat, dengan menjamak isya kepadanya, karena Aliah Ta’ala.”
c. Setelah shalat maghrib selesai, yaitu setelah salam, kemudian iqamah.
d. Setelah iqamah, dilanjutkan dengan mengerjakan shalat isya 2 rakaat dengan niat:

jamak taqdim isya Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAL ‘ISYAA’I RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ILAL MAGHRIBI ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : (di dalam hati pada saat takbiratul ihram!)
“Aku (niat) shalatfardhu isya 2 rakaat, qashar, dengan menjamaknya kepada maghrib, karena Allah Ta’ala.”
e. Setelah shalat isya selesai, maka selesai pulalah pelaksanaan shalat qashar-jamak taqdim maghrib dengan isya. Dan pada saat waktu isya tiba, ia tak perlu shalat isya lagi.

3. Shalat qashar jamak ta’khir: zhuhur dengan ashar.

a. Waktu pelaksanaannya pada waktu ashar.
b. Pada saat waktu shalat zhuhur tiba, orang yang ingin melakukan qashar jamak ta’khir zhuhur wajib berniat akan melaksanakan shalat zhuhur tersebut pada waktu ashar.
c. Shalat yang pertama kali dilakukan boleh dipilih, shalat ashar lebih dahulu atau shalat zhuhur.
d. Jika shalat ashar dahulu maka dikerjakan 2 rakaat, dengan niat:

jamak takhir ashar dulu Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAL ‘ASHRI RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ILAIHIZH ZHUHRU ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : “Aku (niat) shalatfardhu ashar2 rakaat, qashar, dengan menjamak zhuhur kepadanya, karena Allah T a’ ala”.
Tentunya niat ini dibaca didalam hati. Setelah shalat ashar selesai, boleh langsung dilanjutkan dengan shalat berikutnya, boleh juga diselingi dengan shalat sunat rawatib atau perbuatan lain (jadi tak ada keharusan untuk menyambungnya dengan shalat berikutnya). Jika hendak dilanjutkan dengan shalat berikutnya, maka dilakukan iqamah dan disambung dengan mengerjakan shalat zhuhur 2 rakaat, dengan niat:

jamak qashar dhuhur Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak
USHALLII FARDHAZH ZHUHRI RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ELAL’ASHRI ADAA’ANLILLAAHITA’AALAA. Artinya : (di dalam hati pada saat takbiratul ihram!) “Aku (niat) shalat fardhu zhuhur 2 rakaat, aashar, dengan menjamaknya kepada ashar, karena Allah T a’ ala.”

4. Shalat qashar jamak ta’khir : maghrib dengan isya.

a. Waktu pelaksanaannya pada waktu isya.
b. Pada saat waktu shalat maghrib tiba, orang yang ingin melakukan shalat qashar jamak ta’khir maghrib isya, wajib berniat akan melaksanakan shalat maghrib tersebut pada waktu isya.
c. Shalat yang pertama kali dikerjakan boleh dipilih, shalat isya lebih dahulu atau shalat maghrib.
d. Jika shalat isya dahulu, maka dikerjakan 2 rakaat dengan niat:

Shalat qashar jamak takhir isya dulu Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAL ‘ISYAA’I RAK’ATAINI QASHRAN MAJMUU’AN ILAIHIL MAGHRIBU ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : (di dalam hati pada saat takbiratul ihram) “Aku (niat) shalat fardhu isya 2 rakaat, qashar, dengan menjamak maghrib kepadanya, karena Allah T a’ ala.”
e. Setelah shalat isya selesai, boleh langsung dilanjutkan dengan shalat maghrib atau diselingi dengan shalat sunat, dzikir atau perbuatan lainnya. Jika akan dilanjutkan dengan shalat maghrib, maka dikerjakan 3 rakaat (seperti biasa), niatnya :

Shalat qashar jamak takhir maghrib dengan isya dulu. Tata Cara Dan Niat Shalat Qashar Jamak

USHALLII FARDHAL MAGHRIBI TSALAATSA RAKA’A A-TIN MAJMUU’AN ILAL ‘ISYAA’I ADAA’AN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya : “Aku (niat) shalat fardhu maghrib 3 rakaat, dengan menjamaknya kepada isya, karena Allah ‘Ta’ala”.

Satu Tanggapan

  1. Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman, yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan tersebut?

    Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, hal. 145

    وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)

    Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan)dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit,karena malaikat senang pada aroma yang harum. (Nihayah al-Zain, hal. 154)

    Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi;

    حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا) (صحيح البخارى رقم 1361)

    Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])

    Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;

    يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ (اعانة الطالبين ج. 2، ص119 )

    Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar. (I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

    Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163

    وَيُنْدَبُ وَضْعُ الشَّيْءِ الرَّطْبِ كَالْجَرِيْدِ الْأَحْضَرِ وَالرَّيْحَانِ، لِأَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمَيِّتِ مَا دَامَ رَطْباً وَلَا يَجُوْزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ قَبْلَ يَبِسِهِ. (نهاية الزين 163)

    Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harum-haruman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayit.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • wong tegal anti faham Takfir

  • Page Aswaja di facebook

  • suwuk aswaja
  • Wong tegal anti wahhabi
  • Forum Aswaja Indonesia
  • Membongkar Kesesatan Wahhabi
  • Aqidah Aswaja
  • tempat ngopine wong tegal

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya

  • Komentar Terbaru

    Akmal Mandala di Larangan mendengarkan melihat…
    Ardians Faqih di DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI…
    Maryanto Yans di MAULID NABI MUHAMMAD SAW
    Faried Zeus di Larangan mendengarkan melihat…
    Ukasyah Ibn di Larangan mendengarkan melihat…
  • Top Posts & Halaman

  • %d blogger menyukai ini: